Unhas Kembangkan Pesawat Buatan Montir Lulusan SD Asal Pinrang Sulsel

Hermawan Mappiwali - detikNews
Senin, 03 Jan 2022 19:15 WIB
Pesawat buatan Haerul yang dikembangkan Unhas. (dok. Istimewa)
Pesawat buatan Haerul yang dikembangkan Unhas. (dok. Istimewa)
Makassar -

Universitas Hasanuddin (Unhas) membantu mengembangkan pesawat ultralight buatan Haerul, montir lulusan SD asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel). Pengembangan pesawat itu kini telah mencapai 80 persen.

"Masuk 2020 kita mulai bekerja membantu yang bersangkutan, Haerul," ujar ketua tim Pendampingan Pesawat Haerul (PPH) Unhas Prof Nasaruddin Salam kepada detikcom, Senin (3/1/2022).

Pengembangan pesawat dilakukan karena pesawat ultralight buatan Haerul itu dinilai potensial tapi belum memenuhi standar. Unhas sebagai salah satu Universitas merasa perlu mengembangkan pesawat.

"Kita lihat pesawat ini tidak standar dan sulit mendapat izin pengembangannya karena pesawat untuk terbang kan banyak harus mendapatkan sertifikasi dan lain-lain. Nah, kemudian waktu viral banyak pihak yang mau membantu, termasuk perguruan tinggi," kata Nasaruddin.

Pesawat buatan Haerul yang dikembangkan Unhas. (dok. Istimewa)Pesawat buatan Haerul yang dikembangkan Unhas. (dok. Istimewa)

Pengembangan pesawat dilakukan di Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Unhas. Tim menargetkan pengembangan pesawat itu dapat rampung 100 persen dan diuji terbang tahun ini.

"Kondisinya saat ini sudah 80% tinggal mau diuji coba semua, uji coba UNY uji coba eksmentasinya, kontrolnya. Jadi insyaallah mudah-mudahan tahun ini terbang," katanya.

Jangka Panjang Pengembangan Pesawat Haerul

Prof Nasaruddin mengatakan pesawat ini nantinya dapat didesain sesuai keperluan masyarakat luas. Beberapa di antaranya untuk sektor pertanian, perikanan, serta kehutanan.

"Sifatnya sekarang lebih pada bersifat air sport, tapi bisa dilengkapi sesuai kebutuhan. Kalau yang memesan misalnya Pemda untuk membantu petani menyebar pupuk supaya menyiram hama dan seterusnya kita bisa lengkapi dengan itu. Jadi nanti multifungsi sesuai dengan pemesanan dari yang kerja sama dengan Universitas Hasanuddin. Arah kita ke situ nanti," kata Nasaruddin.

Nasaruddin optimistis pengembangan pesawat buatan Haerul dapat meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak.

"Di samping nantinya bisa satu keunggulan karena begitu berdampingan ke luar negeri itu kerja sama industri. Industri-industri yang kita tahu bahwa pembuatan pesawat tidak mudah banyak sekali hal-hal yang harus diperhitungkan lah. Ini menjadi keunggulan ke depan bahwa ternyata di Indonesia ini ada program tinggi yang bisa memproduksi pesawat," tutur Nasaruddin.

Untuk diketahui, Haerul, yang hanya lulusan SD, sempat menyita perhatian publik pada Januari 2020, setelah merakit dan menerbangkan pesawat ultralight.

Haerul kian menjadi perbincangan karena dia montir yang hanya mengenyam pendidikan hanya sampai kelas III. Dia membuat pesawat itu dengan dibantu dua orang pekerja di bengkelnya.

Pesawat terbang jenis ultralight buatan Haerul itu terbuat dari barang bekas, seperti roda gerobak pengangkut pasir. Sedangkan sayap yang terbentang di atas pesawat itu terbuat dari parasut bekas yang biasa dijadikan penutup mobil. Adapun mesinnya terbuat dari mesin motor Kawasaki Ninja RR 150 cc.

Pesawat itu dirakit selama 3 bulan. Soal proses pembuatan pesawat, Haerul mengaku banyak belajar dari YouTube.

(hmw/nvl)