Dituding Pencitraan oleh Kamrussamad, Ini Respons Sandiaga Uno

Annisa Rizky Fadhila - detikNews
Sabtu, 01 Jan 2022 16:59 WIB
Menparekraf Sandiaga Uno
Menparekraf Sandiaga Uno (dok. Kemenparekraf)
Jakarta -

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menanggapi tudingan rekannya di Partai Gerindra, Kamrussamad. Seperti diketahui Kamrussamad menyebut Sandi melakukan pencitraan saat menyambangi rumah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan jalan kaki.

"Tentunya fokus saya adalah kebangkitan pulihnya ekonomi kreatif," jawab Sandiaga saat ditanyai responsnya atas tudingan Kamrussamad di Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Sabtu (1/1/2022).

Sandi kemudian mengatakan mengapresiasi pendapat pengamat. Dia lalu mengajak semua pihak bekerja sama.

"Tentunya pendapat dari pengamat dan masyarakat kita hargai, kita apresiasi. Mari kita sama-sama bergandengan tangan. Karena 2022 kita harus gercep (gerak cepat) hadir di tengah-tengah masyarakat dengan solusi. Bukan hadir dengan memicu perpecahan," katanya.

Sebelumnya diberitakan, politikus Gerindra Kamrussamad menilai aksi jalan kaki Sandiaga Uno saat untuk bertemu Prabowo Subianto di kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan) sebagai pencitraan. Dia berkelakar, dalam pertemuan tersebut, Sandiaga meminta petunjuk Prabowo karena elektabilitas tidak kunjung naik meski sudah berkeliling Nusantara mengatasnamakan kebangkitan desa wisata.

"Respons terhadap pencitraan 'jalan kaki' Mas Sandiaga. Menyambut positif langkah Mas Sandiaga menemui Pak Prabowo Subianto. Semoga Mas Sandi melaporkan bahwa sudah keliling seluruh pelosok Nusantara selama 1 tahun atas nama kebangkitan desa wisata dengan memakai fasilitas negara, tapi elektabilitas tidak naik-naik. 'Mohon petunjuk, Bapak...' Kira-kira begitu dialog imajinernya," kata Kamrussamad melalui keterangan tertulis, Sabtu (25/12).

Lebih Lanjut, Kamrussamad berpesan agar Sandiaga tak menjadikan jalan kaki sebagai tindakan untuk mencari simpati, melainkan sebagai empati. Sebab, menurutnya, masih banyak masyarakat yang berjalan kaki menuju tempat kerja karena keterbatasan transportasi.

"Sarankan agar 'jalan kaki' jangan dijadikan tema pencitraan untuk meraih simpati. Tapi jadikanlah empati terhadap rakyat kita yang hidupnya berjalan kaki setiap hari," ujar Kamrussamad.

"Bahkan ribuan rakyat kita setiap hari berjalan kaki berkilo-kilometer pergi mencari nafkah tempat kerja untuk menghidupi keluarganya akibat keterbatasan sarana transportasi yang dimilikinya." tambah Kamrussamad.

(aud/aud)