Alvin Lie: Kades Nglebak Pembuka Pintu Darurat Pesawat Bisa Dipidana

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Minggu, 26 Des 2021 13:50 WIB
Anggota Ombudsman RI Alvin Lie
Pengamat Penerbangan Alvin Lie (Reno Hastukrisnapati Widarto/detikcom)
Jakarta -

Ulah Kades Nglebak, Sudarto, membuka pintu darurat pesawat Citilink rute Jakarta-Blora bikin geger hingga membuat penerbangan itu dibatalkan. Sudarto mengaku bahwa dia tak sengaja membuka pintu darurat pesawat itu. Lalu bagaimana menurut pengamat penerbangan?

"Yang Kades Nglebak itu saya juga melihat videonya, itu tidak mungkin bukan suatu kesengajaan," kata pengamat penerbangan, Alvin Lie, saat dihubungi detikcom, Minggu (26/12/2021).

Alvin menyebut membuka pintu pesawat itu tidak mudah. Menurutnya, seseorang butuh upaya khusus dan tenaga lebih untuk bisa membuka pintu pesawat.

"Dan untuk membuka pintu darurat ataupun jendela darurat pesawat itu butuh suatu upaya khusus, tidak mudah membukanya, dan butuh tenaga juga. Dari video yang beredar jelas merupakan suatu kesengajaan," ucapnya.

Lantas, Alvin tak heran jika maskapai harus membatalkan penerbangan akibat insiden tersebut. Sebab, pihak maskapai harus memeriksa kembali sistem tekanan udara pada kabin pesawat lantaran pintu daruratnya terbuka. Menurutnya, perbaikan sistem itu membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Ketika jendela darurat maupun pintu darurat pesawat terbuka itu harus diperiksa lagi dan semua sistemnya itu di-reset lagi. Karena itu, ada sistem peluncur, ada sistem agar tekanan udara dalam kabin tidak bocor, dan sebagainya. Untuk perbaikan itu, membutuhkan waktu cukup lama, beberapa jam. Bisa saja kemudian maskapai memutuskan membatalkan penerbangan karena pesawat itu nantinya harus melayani rute lainnya," jelasnya.

Melanggar Undang-Undang

Alvin mengatakan bahwa perbuatan Sudarto bisa dikenai sanksi pidana. Dia menilai atas ulahnya itu, Sudarto telah melanggar Pasal 54 huruf a dan b Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

"Yang dilakukan kades itu jelas melanggar Pasal 54 huruf a dan b dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009. Sanksinya diatur dalam Pasal 412, itu ada sanksi pidananya," tegasnya.

Berikut ini bunyi Pasal 412 UU Penerbangan:

Setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan melakukan perbuatan yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

Lihat juga video 'Citilink Delay 6 Jam di Bandara Palembang, Penumpang Kesal':

[Gambas:Video 20detik]