Year in Review 2021

Peningkatan Literasi Digital Bantu Desa Akses Teknologi EWS

Atta Kharisma - detikNews
Minggu, 26 Des 2021 19:48 WIB
Abdul Halim Iskandar
Foto: kemedes
Jakarta - Dalam masa pandemi seperti sekarang ini, masyarakat desa dipaksa untuk mengubah gaya hidup. Keterbatasan mobilitas akibat COVID-19 membuat aktivitas yang tadinya dilakukan dengan tatap muka kini digelar secara virtual melalui platform online dan media sosial.

Beradaptasi dengan perubahan tersebut, tentunya masyarakat desa harus mulai melek dan meningkatkan literasi digital mereka. Proses digitalisasi ini tidak hanya membantu meningkatkan sektor ekonomi, tapi juga membuka akses masyarakat ke teknologi lainnya.

Salah satunya adalah teknologi Early Warning System (EWS) yang dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi potensi terjadinya bencana alam. Dengan adanya digitalisasi, masyarakat di pedesaan kini bisa memanfaatkan teknologi smartphone untuk mengetahui potensi terjadinya bencana alam.

Misalnya seperti yang diterapkan oleh Desa Krandegan, Purworejo, Jawa Tengah. Pada tahun 2013, desa ini masih termasuk kategori zona merah dan desa miskin.

Namun berkat peningkatan literasi digital, masyarakat Desa Krandegan berhasil memberdayakan teknologi digital untuk menciptakan berbagai inovasi dan meningkatkan kesejahteraan mereka, salah satunya teknologi EWS berbasis tenaga surya dan kartu GSM yang dapat mendeteksi potensi banjir di desa.

"Selama ini, desa kami rawan banjir karena menjadi tempat bertemunya tiga sungai. Saat musim hujan, warga harus bergantian berjaga di jembatan untuk melihat debit air supaya jika banjir warga lainnya bisa segera mengungsi," ujar Kepala Desa Krandegan, Dwinanto.

Namun berkat pembelajaran digitalisasi, warga kini tidak perlu berjaga untuk memantau debit air. Sistem EWS yang terpasang akan secara kontinyu mengirimkan data kepada server aplikasi berbasis android di Desa Krandegan.

"Jadi jika terjadi banjir yang sekiranya berbahaya, alat akan mengirimkan sinyal peringatan, kemudian diteruskan kepada masyarakat," tutur Dwinanto.
Sistem EWS ini menjadi salah satu poin yang menjadikan Desa Krandegan sebagai Desa Mandiri.

Pencapaian yang diraih oleh Desa Krandegan ini merupakan salah satu tujuan dari program desa cerdas (smart village) dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Lewat digitalisasi desa, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat lewat pemanfaatan teknologi di berbagai sektor.

Mendes PDTT, Abdul Halim Iskandar menjelaskan program smart village merupakan pembangunan desa berbasis penerapan teknologi tepat guna.

"Smart village adalah pembangunan desa yang berbasis penerapan teknologi tepat guna. Dengan penerapan teknologi ini diharapkan desa bisa melakukan berbagai capaian terobosan sehingga memenuhi kualifikasi untuk masuk kategori Desa Mandiri," ujarnya.

Gus Menteri - sapaan akrab Mendes PDTT - menambahkan Desa Mandiri adalah desa yang mempunyai ketersediaan dan akses terhadap pelayanan dasar, punya infrastruktur memadai, serta punya pelayanan umum dan pemerintahan yang sangat baik.

Berdasarkan data terakhir survei Kemendes PDTT tahun 2021, dari 74.956 desa, hanya 3.269 desa yang berstatus Desa Mandiri. Program smart village merupakan bentuk upaya dari Kemendes PDTT untuk bisa meningkatkan hingga 51,24% Desa Mandiri sampai 2024.

"Nantinya desa-desa 'smart' bakal maksimal memanfaatkan Internet of Things (IoT), yakni kemampuan jaringan internet untuk membuat pelbagai peralatan saling berinteraksi dan bertukar informasi. IoT digunakan desa untuk meningkatkan ekonomi pedesaan,"pungkasnya. (ncm/ega)