Kolom Hikmah

Rasulullah

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 24 Des 2021 07:50 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Dalam kehidupan sehari-hari seperti yang diceritakan Aisyah, bahwa Rasulullah membagi waktunya dalam sehari semalam atas tiga bagian, sebagian untuk amal ibadah, sebagian untuk menyelenggarakan kepentingan keluarganya dan sebagian lagi untuk masyarakat, kepentingan umum, termasuk pekerjaan pemerintahan dan pekerjaan sosial.

Rasulullah adalah seorang yang cinta dan setia kepada keluarga ( anak dan istri ), sebagai seorang Bapak yang melindungi anak dan istrinya dalam kehidupan sehari-hari. Mencintai mereka dengan tidak membeda-bedakan, mengajar hidup dengan sederhana dan berhubungan baik dengan tetangga dan masyarakat.
Nabi acapkali memperingatkan Sayidina Ali, suami Fatimah, agar tidak bermewah-mewahan di rumahnya dengan makanan yang sedap-sedap, sedangkan orang miskin yang hidup di sekitarnya menderita kekurangan makanan.

Pada suatu hari Nabi berkunjung ke rumah Fatimah. Anaknya sedang memperlihatkan sebuah gelang emas yang dibelikan suaminya, kepada seorang wanita tetangganya, sambil berkata, " Gelang ini dibelikan untukku oleh suamiku". Rasulullah melihat dan mendengarnya. Ia tidak jadi duduk, sedang air mukanya berubah, Ia berkata kepada Fatimah : " Adakah engkau akan gembira, manakala orang banyak mengatakan kepadamu, bahwa Fatimah anak Nabi, memakai gelang di tangannya, yang terbuat daripada api Neraka?"
Lalu Rasulullah meninggalkan rumah Fatimah.

Fatimah terkejut melihat sikap Ayahnya yang demikian itu. Dengan segera dibukanya gelang dan disuruh jualnya. Hasil penjualan gelang dibelikan seorang budak dan dimerdekakannnya. Ketika kabar ini sampai pada Rasulullah, Ia kembali menemui Fatimah dengan muka yang berseri-seri sambil berkata, " Aku mengucap syukur kepada Allah, yang telah melepaskan Fatimah anakku daripada api neraka".

Rasulullah adalah seorang yang sangat mulia hatinya. Ia sebagai kepala rumah tangga, sayang pada keluarga dan menjaganya, menyerukan hidup sederhana tidak bermewah-mewahan, juga memimpin urusan ibadah, Ia memerintah membuat peraturan-peraturan untuk keamanan negara, Ia sebagai pemimpin peperangan dan mengadakan perundingan serta membuat perjanjian-perjanjian damai. Lengkaplah fungsi yang dijalankan Rasulullah sebagai pemimpin yang memberikan penerangan pada umat manusia. Kesederhanaan dalam kehidupannya, menjadikan lebih leluasa dan efektif dalam memimpin suatu negara yang baru berdiri.

Kesederhanaan ini terlihat dari kegiatan Beliau yang masih melakukan sendiri untuk membetulkan sepatu, menambal baju dan memerah susu kambing. Sebagai kepala negara dengan gaya hidup sederhana seperti ini, semestinya menjadi teladan para pemimpin negara. Pemimpin hakikatnya adalah berfungsi melayani warganya, agar semua kebutuhan dasar sebagai prioritas dapat dipenuhi. Bukannya bersaing dalam kemewahan dengan mengumpulkan banyak harta untuk keluarganya.

Kebanyakan penulis tentang sejarah hidup Rasulullah menceritakan bagaimana kesulitan rumah tangganya sehari-hari. Bukan hanya tidak adanya perabotan rumah tangga yang mewah dan makanan yang enak-enak atau lezat, makanan yang biasa sehari-hari belum tentu ada pada saat waktu makan. Rasulullah tidur di atas selembar tikar, sampai berbekas pada pipinya. Soal makanan Aisyah pernah menegaskan bahwa, " Kami adalah golongan yang tidak makan kecuali kalau lapar, dan jika kami makan tidaklah sampai kekenyangan".

Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah bertemu Abu Bakar dan Umar, Ia bertanya pada keduanya, " Apa yang menyebabkan kalian berdua keluar masjid ?. Keduanya menjawab," Untuk menghiburkan lapar". Dan Rasulullah berkata, " Aku pun keluar untuk menghiburkan laparku". Maka katanya lagi," Mari kita pergi ke rumah Abul Hisam, barangkali ada apa-apa di sana yang bisa dimakan".

Abul Hisam merasa gembira atas kedatangan ketiga tokoh ke rumahnya, maka ia siapkan makanan untuk disajikan pada ketiga tamunya itu.

Dalam urusan makan di keluarga Rasulullah ini Aisyah menerangkan lebih lanjut, bahwa keluarga Muhammad Rasulullah dalam sehari tidak pernah makan sampai dua kali, dan paling banyak makanan yang tersimpan di rumah tidak lebih dari sepotong roti yang dimakan oleh tiga orang.

Anas menceritakan, bahwa Rasulullah pernah berkata," Ketakutan kepada Tuhan lebih daripada orang lain, dan kegentaranku kepada-Nya tidak ada bandingannya. Kadang kulalui tiga puluh hari lamanya dengan tidak punya simpanan makanan di rumah, sehingga saat Bilal datang mengepit sepotong roti dan akhirnya kami makan bersama-sama".

Sebagai seorang pemimpin suatu negeri, begitu bersahaja sampai Allah Swt. menempatkan Beliau di posisi yang sangat menonjol bagi penduduk bumi dan diberikan makanan serta kecukupan ( bulghah ), jumlah yang bisa digunakan untuk hidup sesuatu yang sedikit namun cukup. Kita simak firman-Nya pada surah al-Azhab ayat 21, " Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu".

Namun dalam kehidupan modern ini ada yang tidak suka dengan kehidupan Beliau dan membeci apa yang membuat Tuhan ridha kepadanya. Maka Allah Swt. akan menjauhkan dan merendahkan mereka. Oleh karena itu, wahai para pemimpin muslim hendaknya kehidupan dan gaya kepemimpinan Rasulullah menjadi teladan dan janganlah kau jauhi. Penulis akan tutup artikel ini dengan syair :

Rumahnya menjadi contoh.
Pakaiannya.
Makanannya menggambarkan seadanya.
Sabar dan toleransinya menjadi teladan.
Do'anya menggetarkan
" Ya Allah, biarlah aku hidup sebagai orang miskin, mati sebagai orang miskin, dan himpunkanlah aku dengan golongan fakir miskin".

Aisyah bertanya, " kenapa ?"
Rasulullah menyahut, " Karena mereka itu akan memasuki surga empat puluh musim lebih dahulu daripada golongan hartawan. O Aisyah, janganlah engkau menolak orang miskin. Berilah kepadanya meskipun sebutir kurma sekalipun. O Aisyah, cintailah mereka dan dekatilah mereka, karena dengan demikian engkau akan mendekati Tuhanmu pada hari kiamat."

Mendidik hidup sederhana.
Meski sebagai kepala negara.
Menyeru untuk membuka hati.
Menjadikan lebih luas dari perutnya,
Mulutnya,
Mata hidung dan telinganya.
Tubuh yang kasar ini.
Bisa menerima cahaya Illahi.
Menjadi manusia adil, menerima keadaan seadanya, bersamaan tingkat dan derajatnya, mencintai kebaikan dan kebajikan.

Apakah masih kau anggap orang yang tamak dan serakah ?

Sadarilah, Dia memberi teladan untuk tidak berebut.
Tiada dusta, menutup kejelekan.
Akhlaknya seisi kitab Allah.
Yang patut menjadi contoh

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

(erd/erd)