Tutup Muktamar IV Wahdah Islamiyah, LaNyalla Sampaikan Hal Ini

Erika Dyah - detikNews
Rabu, 22 Des 2021 14:02 WIB
Ketua DPD LaNyalla
Foto: DPD RI
Jakarta -

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menutup kegiatan Muktamar IV Wahdah Islamiyah yang dilaksanakan secara virtual. Ia pun memberikan apresiasi kepada Wahdah Islamiyah yang pada Muktamar kali ini secara resmi melahirkan tagline organisasi 'Bakti dan Setia untuk Indonesia Tercinta'.

LaNyalla berharap tagline ini tidak hanya sebatas slogan, tetapi juga harus menjadi spirit organisasi untuk diwujudkan melalui program-program organisasi. Ia pun menegaskan bahwa saat ini Indonesia memanggil semua warga untuk berkontribusi membangun bangsa.

"Indonesia sedang membutuhkan bakti dan kesetiaan dari kita, semua warga bangsa. Karena Indonesia hari ini memanggil kita semua untuk bersatu padu, bahu membahu, demi Indonesia yang lebih baik. Terutama dalam menyongsong era perubahan global, yang berisi tantangan sekaligus ancaman," kata LaNyalla dalam keterangan tertulis, Rabu (22/12/2021).

Senator asal Jawa Timur ini menambahkan, Indonesia juga memanggil semua warga untuk ikut memastikan arah dan perjalanan bangsa agar berada di jalur yang tepat. Khususnya, dalam mengarungi gelombang perubahan global yang sudah di depan mata.

"Indonesia membutuhkan kita untuk mewujudkan cita-cita lahirnya negara ini, yaitu untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," tegasnya.

Menurut LaNyalla, cita-cita untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ini belum pernah mampu direalisasikan sejak era Orde Lama, Orde Baru, bahkan hingga era Orde Reformasi saat ini.

Bahkan, kata LaNyalla, di era Orde Reformasi cita-cita tersebut terasa semakin jauh dari harapan. Ia menilai yang terjadi justru Indonesia meninggalkan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Hal ini terjadi sejak amandemen konstitusi sebanyak empat tahap pada tahun 1999 hingga 2002 silam.

"Amandemen saat itu telah mengubah wajah bangsa ini menjadi liberal kapitalistik. Di mana haluan ekonomi nasional telah bergeser dari ekonomi kekeluargaan dan gotong royong dengan soko guru koperasi, menjadi ekonomi pasar bebas yang didominasi swasta nasional dan asing, yang sebagian sahamnya bisa dimiliki siapapun dan di manapun melalui lantai bursa saham," terang LaNyalla.

Tak hanya itu, ia pun menilai sumber daya alam dan cabang-cabang produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak perlahan tapi pasti diserahkan kepada mekanisme pasar. Sehingga, impor menjadi jalan keluar termurah dengan dalih efisiensi.

"Inilah wajah konstitusi dan produk undang-undang negara kita hari ini," tuturnya.

Dalam kesempatan ini, LaNyalla mengaku sengaja memantik kesadaran publik bahwa Indonesia adalah negara yang besar karena negara ini lahir dari sejarah peradaban yang unggul di era kerajaan dan kesultanan Nusantara di masa lampau.

"Jangan biarkan negara ini tercabik-cabik hanya karena ambisi kekuasaan untuk menumpuk kekayaan dan menguasai sebesar-besarnya kekayaan alam negeri ini. Sementara rakyat yang masih bergelimang dengan kemiskinan hanya kita butuhkan suaranya dalam Pileg dan Pilpres," kata LaNyalla.

Ia pun mengajak semua pihak berpikir layaknya negarawan sejati dengan memahami dan merasakan suasana kebatinan para pendiri bangsa ini saat merumuskan bentuk dan sistem tata negara.

"Kita harus berani bangkit. Kita juga harus berani melakukan koreksi atas sistem tata negara dan sistem ekonomi negara ini. DPD RI akan sekuat tenaga memperjuangkan hal itu," tegas LaNyalla.

Lebih lanjut, ia menegaskan wacana amandemen konstitusi perubahan ke-5 yang kini tengah bergulir harus menjadi momentum untuk melakukan koreksi atas sistem tata negara sekaligus arah perjalanan bangsa ini.

"Tentu DPD RI akan mendapatkan dorongan energi bila seluruh elemen masyarakat Indonesia, termasuk Wahdah Islamiyah, menjadikan agenda amandemen konstitusi sebagai momentum yang sama, yaitu momentum untuk melakukan koreksi atas arah perjalanan bangsa," imbuhnya.

(akn/ega)