Cerita di Balik Pergantian Dirut PLN dari Zulkifli ke Mas Darmo

Deden Gunawan - detikNews
Senin, 13 Des 2021 20:06 WIB
Jakarta -

Ilmuwan sekaligus profesional. Begitulah metamorfosis seorang Darmawan Prasodjo (Mas Darmo). Selepas dari SMA Negeri I Magelang pada 1989, dia meraih beasiswa dari BPPT pimpinan BJ Habibie untuk melanjutkan studi di Amerika Serikat. Dia mendapat tugas mendalami ilmu komputer di Universitas Texas untuk jenjang sarjana hingga master. "Itu accident sebetulnya. Semua yang memutuskan pemerintah, saya cuma menjalankan tugas dari negara," ungkap Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam program Blak-blakan di detikcom, Senin (13/12/2021).

Tak puas atas gelar master, di sela menimba pengalaman di sejumlah perusahaan terkemuka di Amerika, lelaki kelahiran 19 Oktober 1970 itu melanjutkan studi doktoral di kampus yang sama. Kali ini dia mendalami ekonomi sumber daya alam. Pada 2011, suami dari Diny Sandra Dewi itu menuntaskan disertasinya. Disertasi doktoralnya kemudian diadopsi oleh perusahaan energi terkemuka di AS sebagai strategi untuk menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) secara nasional. Hasil rumusannya merupakan terobosan besar dalam sektor kebijakan energi, sehingga para senator, anggota kongres, dan Gedung Putih menggunakannya sebagai landasan untuk menyusun kebijakan energi di AS.

Salah satu keahlian dan kefasihan Darmawan Prasodjo alias Mas Darmo adalah tata kelola dan sistem fiskal migas. Dia melakukan analisa fiskal migas melalui pendekatan perilaku sehingga mampu memberikan jawaban yang akurat dalam memformulasikan atau mendesain strategi fiskal migas dalam berbagai kondisi.

Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla sempat memanfaatkan keahlian Darmawan Prasodjo. Dia menjadi Deputi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) di bawah koordinasi Luhut B Panjaitan. "Saya bekerja secara profesional dengan tugas utama memonitor progres pembangunan di bidang infrastruktur, lingkungan, dan energi," ujarnya.

Selama lima tahun di KSP, pada Desember 2019 dia ditugaskan menjadi Wakil Direktur Utama PLN. Presiden Jokowi rupanya tengah menyiapkan putra pasangan Brigjen TNI (Purn) Sadja Moeljoredjo dan Sudarti itu untuk melakukan transformasi PLN sekaligus menyiapkan transisi energi.

Sementara Zulkifli Zaini yang sebelumnya Dirut Bank Mandiri mendapat tugas khusus untuk membenahi kinerja keuangan PLN. Dalam dua tahun, duet keduanya memperlihatkan hasil. Di tengah menurunnya pendapatan selama pandemi, PLN justru mampu mencicil utangnya yang sebesar Rp 450 triliun.

"Beban utang PLN sudah berkurang dari Rp 450 triliun menjadi Rp 430 triliun. Sukses itu menjadi sangat luar biasa karena dicapai di tengah kondisi Covid-19 yang membuat pendapatan PLN menurun. Pak Zulkifli menunaikan tugas khusus dari Bapak Presiden dan berhasil," kata Mas Darmo.

Dengan sukses dan basis yang telah dibuat Zulkifli untuk PLN, isu berikutnya adalah bagaimana mempercepat transisi energi ke arah yang lebih bersih. Isu ini menjadi mendesak usai Presiden Jokowi mengikuti KTT Pemimpin Dunia (Conference of Partites/COP) 26 mengenai perubahan iklim di Glasgow, Skotlandia pada awal November lalu. Karena itu kemudian Presiden Jokowi merasa perlu mengganti pucuk pimpinan PLN oleh figur yang lebih tepat, yakni Darmawan Prasodjo. Hal ini bila menyimak kembali rekam jejak pendidikan dan pengalaman ayah dari Dylan, Dykstra, dan Dyandra itu.

"Memang saya sempat dipanggil oleh Bapak Presiden (Joko Widodo) kemudian saya sempat dipanggil oleh Pak Menteri BUMN (Erick Thohir). Bahwa ada tugas khusus bagaimana mengawalkan transisi energi ini. Jadi tugasnya khusus, transisi saja dengan embel-embelnya yang banyak sekali," tuturnya.

Sejak berkiprah di tanah air pada 2012, masyarakat mengenal Darmawan Prasodjo sebagai pakar ekonomi lingkungan. Dia pernah menjadi Pengajar Global Executive Program Pertamina, Chief Economist di Millennium Challenge Account Indonesia (MCA-I), dan Kepala Program Studi Green Economy di Surya University di Serpong.

Darmawan Prasodjo mengaku sempat terkejut ketika dia ditugaskan untuk memimpin PLN. Perusahaan ini merupakan pengguna pembangkit listrik berbasis batu bara terbesar di dunia. Padahal disertasi dia adalah bagaimana mengelola perusahaan yang bersahabat dengan lingkungan. Dia optimistis dalam 5-6 tahun ke depan penggunaan sumber energi baru terbarukan (EBT) akan menjadi prioritas PLN karena makin murah dan ramah lingkungan.

"Pada 2026, berpikir menggunakan batu bara saja sudah haram, apalagi membangunnya," kata Mas Darmo.

(jat/jat)