Kisah Dirut PLN Disekolahkan Habibie, Dianggap Orang Dekat Luhut

Deden Gunawan - detikNews
Senin, 13 Des 2021 18:56 WIB
Jakarta -

Tak seperti kebanyakan tokoh yang biasa menempuh pendidikan di beberapa kampus, Darmawan Prasodjo rupanya tipe yang loyal. Jenjang S-1 hingga doktoral ditempuhnya di Texas University, Amerika Serikat. Itu pun ternyata yang memilihkan kampus ataupun program studi adalah pemerintah.

Alkisah, selepas dari SMA Negeri 1 Magelang dia mengikuti program beasiswa yang digelar BPPT pimpinan Menristek BJ Habibie. Tes diikuti di Stadion Utama Senayan (sekarang Gelora Bung Karno) dengan peserta lebih dari 50 ribu orang. Darmawan mengaku sempat kecut. Apalagi panitia menyebutkan bahwa masih ada puluhan ribu peserta lagi yang mengikuti tes di Makassar, Surabaya, dan Medan. Ternyata dia lulus bersama 19 orang lainnya untuk kuliah di Amerika. Puluhan lainnya disebar ke sejumlah kampus ternama di negara-negara Eropa dan Jepang.

"Saya tidak bertanya kenapa Texas, Amerika. Pokoknya ya menjalankan perintah negara saja, wis kadung pamitan sama tetangga mau kuliah di luar negeri. Saya berterima kasih kepada Pak Habibie," tutur lelaki kelahiran 19 Oktober 1970 itu saat ditemui Tim Blak-blakan detikcom, Jumat malam (10/12/2021).

Dia menyelesaikan studi ilmu komputer di Texas pada 1994, dan Master Ilmu Komputer enam tahun kemudian. Pada 2011 dia meraih Doktor bidang ekonomi terapan dan ekonomi sumber daya alam dari Texas yang berkolaborasi dengan Duke University. "Karena kuliah sambil bekerja, total saya tinggal di Amerika hampir 17 tahun," ujarnya.

Ia kembali ke tanah air setelah mendapat kabar dari ibundanya, Sudarti, bahwa sang ayah, Brigjen Sadja Moeljoredjo mengidap kanker. "Ibu bilang, ayah didiagnosis hanya bertahan hidup sebulan lagi," ujar Darmawan Prasdojo.

Sambil menyelesaikan studi doktoral dan menyelesaikan sejumlah pekerjaan lain, dia meluangkan waktu untuk berkomunikasi via telepon dengan sang ayah setiap hari.

Pada 2012, dia akhirnya kembali ke Indonesia. Darmawan Prasodjo mulai berkarir di kampus Universitas Surya. Di situ dia menjadi Direktur Center for Green Economy dan Ketua Jurusan Prodi Green Economy, 2012-2013, dan Co-chair Post 2015 Millennium Development Goals, 2013-2014.

Pada 2013, lelaki kelahiran Magelang, 19 Oktober 1970, itu bergabung dengan PDIP. Salah satu tujuannya antara lain agar ide-idenya di bidang lingkungan hidup dapat diperjuangkan menjadi kebijakan yang visioner. "Tapi dalam perjalanannya, saya malah diminta bergabung membantu tim Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla, lalu aktif di Kantor Staf Presiden (KSP) selama lima tahun. Jadi, cita-cita politik saya kandas," ujarnya.

Kepala KSP semula adalah Jenderal Luhut Binsar Panjaitan sehingga Darmawan kerap dikaitkan sebagai 'Orangnya Luhut'. Padahal, di KSP, Luhut hanya menjabat selama 9 bulan, lalu digantikan Teten Masduki selama 2,5 tahun dan terakhir hingga sekarang dipimpin oleh mantan Panglima TNI Jenderal Moeldoko.

"Saya itu direkrut dengan Keputusan Presiden dan selama lima tahun punya tiga atasan. Saya bekerja secara profesional dengan tugas utama memonitor progres pembangunan di bidang infrastruktur, lingkungan, dan energi," tegas Darmawan.

(jat/jat)