Arahan Tegas Kapolda Metro Buntut Polisi 'Tolak Laporan Korban Rampok'

ADVERTISEMENT

Arahan Tegas Kapolda Metro Buntut Polisi 'Tolak Laporan Korban Rampok'

Yogi Ernes - detikNews
Senin, 13 Des 2021 14:51 WIB
Polisi memukul mundur massa Pemuda Pancasila (PP) yang demo di depan gedung DPR, Jakarta. Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran hadir ke lokasi.
Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran (Andhika Prasetia/detikcom)

Kapolres Jaktim Sebut Aipda Rudi Hanya Bercanda

Kapolres Jakarta Timur Kombes Erwin Kurniawan sebelumnya telah angkat bicara terkait viralnya anak buahnya di Polsek Pulogadung yang menolak laporan korban perampokan. Menurut Erwin, anggota tersebut tak bermaksud menolak laporan, tetapi lebih ke bercanda.

"Iya, lebih ke bercanda, tapi maksudnya bukan seperti itu. Dia berbicara dengan mertua korban. Korban sendiri saat itu sedang proses penerimaan laporan," jelas Erwin saat konferensi pers di Polres Metro Jakarta Timur, Senin (13/12/2021).

Erwin menjelaskan saat itu Aipda Rudi Panjaitan bercanda soal ATM korban yang banyak jumlahnya itu dengan mertua korban. Namun hal ini membuat korban tersinggung.

Aipda Rudi menyampaikan bahwa 'kenapa punya ATM gitu kan ngurusnya ribet'. Akhirnya tentu korban mendengar juga merasa tersinggung dan tidak nyaman dengan ucapan ini," lanjutnya.

Buntut dari kejadian viral ini, Erwin menyebut tetap akan memproses pelanggaran yang dilakukan Aipda Rudi meski dengan alasan apa pun.

"Tetapi apa pun itu, tentu kita akan proses pelanggarannya," terangnya.

Erwin juga mengatakan bahwa laporan korban tetap diterima dan diproses di Polsek Pulogadung.


Laporan Tak Ditolak

Polres Metro Jakarta Timur mengatakan bahwa laporan korban perampokan di Polsek Pulogadung, yang sempat viral, tidak ditolak. Laporan korban diproses sebagaimana mestinya.

"Tidak ditolak, diterima," ujar Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Erwin Kurniawan kepada wartawan di kantornya, Jakarta Timur, Senin (13/12/2021).

Namun Erwin mengakui bahwa ada perkataan dari oknum polisi Aipda Rudi Panjaitan yang tidak mengenakkan korban. Meski begitu, Erwin tidak membenarkan tindakan yang dilakukan oleh oknum polisi tersebut.

"Penyebabnya itu lebih karena ada pembicaraan si oknum ini yang kemungkinan penyampaiannya juga tidak pas, tidak sesuai. Seperti menyatakan 'kenapa banyak ATM', kemudian ini akhirnya ditanggapi oleh korban tentu ketersinggungan. Karena kami paham bahwa posisinya sebagai korban dia tentu membutuhkan pertolongan dari polisi," jelas Erwin.


(ygs/mea)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT