Raffi Ahmad Puji Buku Karya Kepala BIN: Ini Penting untuk Anak Muda

Jihaan Khoirunnisa - detikNews
Sabtu, 11 Des 2021 21:49 WIB
Raffi Ahmad usai seminar launching buku “Demokrasi di Era Post Truth”
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Raffi Ahmad memuji buku 'Demokrasi di Era Post Truth' yang diluncurkan oleh Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Prof Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan. Menurutnya, buku tersebut mampu beradaptasi dengan keadaan sekarang maupun mendatang.

Raffi juga menyebut sosok Prof Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan hebat karena bisa terus beregenerasi dan mengikuti era-era baru.

"Hebatnya Pak Budi Gunawan ini bisa terus beregenerasi. Buku ini sangat penting banget dibaca untuk anak muda, karena kalau mau sukses harus bisa beradaptasi dengan keadaan, lingkungan, dan perkembangan zaman," kata Raffi Ahmad dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/12/2021).

Usai menghadiri seminar launching buku 'Demokrasi di Era Post Truth' pada Jumat (11/12), Raffi menjelaskan saat ini ada banyak hoaks yang beredar di media sosial. Dia menilai berita hoaks bukan hanya musuh personal, namun sudah menjadi musuh negara. Sehingga masyarakat harus lebih pintar dan bijak dalam bermedia sosial.

"Era sekarang itu, dengan menyebarkan hoaks melalui media digital dalam hitungan detik gampang saja. Jadi kita yang harus pintar-pintar di era sekarang ini," jelasnya.

Selain itu, Raffi juga mengajak semua golongan masyarakat terutama kalangan muda untuk membaca buku 'Demokrasi di Era Post Truth'. Karena di dalamnya terdapat banyak ilmu bermedia sosial di era sekarang ini.

"Saya Raffi Ahmad, mengajak kepada semua golongan dan kalangan muda. Sangat penting buku Demokrasi di Era Post Truth, untuk membimbing kita di era digital ini," tutupnya.

Untuk diketahui, Prof Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan menuliskan buku berjudul 'Demokrasi di Era Post Truth'. Dengan cetakan pertama pada April 2021 dan cetakan kedua pada Mei 2021.

Adapun buku tersebut membahas tentang disinformasi di era post-truth yang memiliki ancaman serius bagi terbangunnya demokrasi elektoral yang sehat. Bahkan, keyakinan personal lebih penting daripada fakta objektif dalam membangun opini publik, sehingga antara kebohongan dan kebenaran sulit diidentifikasi.

(akn/ega)