LaNyalla Minta Jaga Eksistensi Budaya RI agar Tak Diklaim Negara Lain

Jihaan Khoirunnisa - detikNews
Sabtu, 11 Des 2021 10:43 WIB
DPD RI
Foto: Dok. DPD RI
Jakarta -

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyambut baik acara Malam Puncak Anugerah Festival Tari Jaipong Kreasi Galuh Pakuan Cup Seri V. Menurutnya, acara yang digelar digelar di Ruang Auditorium RRI Bandung, Jawa Barat pada Jumat (10/12) tersebut penting dalam rangka melestarikan dan pemajuan kebudayaan Indonesia. Hal itu sebagaimana yang diamanatkan dalam konstitusi.

"Sekaligus sebagai upaya konkret kita untuk melestarikan warisan budaya tak Benda," ujar LaNyalla dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/12/2021).

Dia pun mengapresiasi Lembaga Adat Karatwan Galuh Pakuan selaku panitia Malam Puncak Anugerah Festival Tari Jaipong Kreasi Galuh Pakuan Cup Seri V. Pada kesempatan tersebut, LaNyalla juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi dalam menjaga warisan budaya yang dimiliki Indonesia.

Senator asal Jawa Timur itu menjelaskan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia telah melakukan pencatatan dan penetapan daftar Warisan Budaya Tak Benda. Diketahui per bulan Juni tahun 2020, terdapat total 9.770 warisan budaya yang dicatat dan 1.086 di antaranya telah ditetapkan.

Menurut LaNyalla penetapan warisan budaya tak benda harus diikuti dengan langkah konkret untuk melestarikan kebudayaan Indonesia. Selain itu juga menjaga eksistensinya secara turun temurun, sehingga tidak diklaim oleh negara lain.

"Karena itu, dalam kesempatan ini saya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi dalam menjaga warisan budaya. Sebab, penetapan warisan budaya tak benda juga menjadi kekayaan yang harus diimbangi dengan tanggung jawab dalam pelestariannya," katanya.

Dia pun mencontohkan salah satu aksi nyata seperti yang sudah dilakukan Lembaga Adat Karatwan Galuh Pakuan. Yakni dengan menggelar Festival Tari Jaipongan Kreasi Galuh Pakuan Cup Seri ke-V. Di samping itu, lanjut dia, bisa juga dengan menyelenggarakan festival, seminar, sarasehan dan lainnya.

"Tetapi yang lebih penting dari itu adalah memasukkan dalam kurikulum pendidikan pelajar, yang substansinya dapat disesuaikan dengan tradisi daerah masing-masing," tuturnya.

Menurut LaNyalla, upaya-upaya tersebut perlu dilakukan supaya mendorong semangat pelestarian warisan budaya tak benda. Tujuannya agar para seniman, budayawan dan masyarakat bersama-sama berkreasi, belajar, mengenal dan memaknai kembali identitas bangsa sebagai manusia Indonesia.

"Karena kebudayaan merupakan warisan asli bangsa Indonesia, sekaligus sebagai identitas yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan kita sehari-hari," papar dia.

Namun, LaNyalla menilai masih ada pekerjaan besar yang harus kita perjuangkan. Yaitu memasukkan entitas pegiat kebudayaan nasional ke dalam sistem politik Indonesia, termasuk entitas-entitas civil society yang lain. Dengan begitu mereka dapat ikut berperan dalam menentukan arah perjalanan bangsa.

(akn/ega)