ADVERTISEMENT

Makin Panjang Daftar Kasus Mahasiswi Diduga Dicabuli di Kampus

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 11 Des 2021 06:40 WIB
Gerakan Perempuan Anti Kekerasan (Gerak Perempuan) menggelar aksi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Senin (10/2/2020). Aksi tersebut digelar dalam rangka menuntut Kemdikbud untuk menindak tegas pelaku kekerasan seksual di lingkungan kampus.
Foto: Ilustrasi gerakan anti kekerasan seksual di kampus (Agung Pambudhy)

Unsri

Selanjutnya, ada pula kasus pelecehan terhadap mahasiswi di Universitas Sriwijaya (Unsri). Polisi resmi menahan dosen Reza Ghasarma sebagai tersangka kasus pelecehan mahasiswi Unsri. Reza terancam 12 tahun penjara.

"Ancaman maksimal 12 tahun penjara itu sudah sesuai dengan Undang-Undang tentang pornografi yang kita jerat ke tersangka," tegas Dirreskrimum Polda Sumsel Kombes, Hisar Siallagan, dikonfirmasi detikcom, Jumat (10/12/2021).

Reza merupakan dosen pembimbing para korban. Dia diduga sengaja mengirimkan kata-kata via chat dengan bahasa-bahasa yang melecehkan korban.

"Di situ (UU) disebutkan konten pornografi berupa gambar, tulisan juga percakapan mengarah kepada pornografi, dan mahasiswi tersebut dijadikan sebagai objek pornografi. Terkait perannya yang sebagai tenaga pendidik biar di persidangan yang menentukan," katanya.

"Kami sudah berkomunikasi dengan Telkom, kami sudah dapatkan alat bukti, bahwa nomor yang digunakan tersebut memang merupakan nomor milik tersangka," jelas Hisar.

Polda Sumsel sebelumnya menetapkan Reza Ghasarma sebagai tersangka kasus dugaan pelecehan mahasiswi lewat chat. Reza ditahan 20 hari ke depan.

"Iya, tersangka langsung ditahan 20 hari ke depan," kata Hisar.

Reza dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan lebih dulu. Setelah itu, Reza bakal dimasukkan ke sel tahanan. Polisi juga menyita sejumlah alat bukti. Antara lain tangkapan layar percakapan, tiga unit ponsel korban dan satu unit ponsel tersangka.

"Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 9 UU Pasal 9 UU No 44 2008 dan Pasal 35 UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 12 tahun," jelasnya.

UNJ

Laporan serupa juga muncul dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ). UNJ tengah mengusut dugaan pelecehan seksual seorang dosen berinisial DA kepada mahasiswi. Diduga ada alumni UNJ yang juga pernah mengalami kejadian serupa.

"Jadi untuk kasus yang terjadi, ada beberapa mahasiswa dan alumni UNJ yang merasa menjadi korban sudah diadvokasi melalui BEM UNJ, dan BEM UNJ sudah menyampaikan ke pimpinan," kata Kepala Divisi Media Humas UNJ Syaifudin, Rabu (8/12/2021).

Dia mengatakan dosen DA diduga melakukan pelecehan seksual dengan mengirimkan pesan teks berisi godaan kepada korban (sexting). Dugaan pelecehan ini ramai dibahas di media sosial (medsos) Twitter.

Dalam postingan yang beredar, ditampilkan beberapa percakapan via WhatsApp (WA) berisi godaan dari dosen kepada mahasiswi. UNJ akan meminta keterangan dari sejumlah pihak terkait dugaan kasus pelecehan seksual ini.

"Adapun jenis pelecehan seksual yang dilakukan oknum adalah jenis perilaku menggoda dalam pesan teks atau sexting," ucap Syaifudin.

"Sebab, kasus ini sudah terjadi beberapa tahun lalu dan baru terungkap saat ini oleh para korban. Pihak UNJ sendiri mendalami dulu kasusnya dengan memanggil Dekan, Ketua Program Studi yang bersangkutan, dan oknum dosen untuk dimintai keterangan terkait kasus yang terjadi," imbuhnya.

Pihak UNJ menyatakan berhati-hati mengusut kasus ini dengan menjalankan asas praduga tak bersalah. Jika nantinya kasus tersebut terbukti, UNJ akan memberi sanksi kepada dosen DA.

UNJ juga akan menyerahkan kasus kepada aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti kasus dugaan pelecehan seksual tersebut.

"Jika memang terbukti bersalah, oknum dosen akan diberi sanksi oleh UNJ sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah No 94 Tahun 2021 tentang Disiplin PNS dan jika memang ada pihak yang dirugikan serta melanggar hukum pidana, kasus ini akan diserahkan ke pihak kepolisian sebagai lembaga yang berwenang," ungkapnya.

Selain itu, UNJ akan membuat aturan dan satuan tugas (satgas) untuk menghapuskan kekerasan seksual di dalam kampus. Pimpinan UNJ menginstruksikan agar seluruh sivitas akademika UNJ menumbuhkan kehidupan kampus yang manusiawi, bermartabat, setara, inklusif, kolaboratif, serta tanpa kekerasan di antara mahasiswa, pendidik, tenaga kependidikan, dan warga kampus di UNJ.

"Antisipasi kampus mengingat berbagai fenomena ini yang terjadi juga di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, pihak UNJ segera mengesahkan Peraturan Rektor mengenai Kekerasan Seksual di UNJ dan membuat Satgas Antikekerasan Seksual di UNJ dan mengingatkan kepada seluruh Dekan dan Koorprodi di lingkungan UNJ agar memahami dan menjalankan Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021, dalam rangka menjaga moral dan marwah kampus sebagai lembaga pendidikan dan mencegah serta menangani berbagai tindakan kekerasan seksual," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT