7 Pesan Jokowi di KPK Agar Tak Cepat Puas Diri Berantas Korupsi

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 10 Des 2021 05:30 WIB
Presiden Jokowi membuka Peringatan Hakordia di KPK. (Foto: Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden)
Presiden Jokowi membuka Peringatan Hakordia di KPK. (Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan pesan dalam peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia). Salah satu pesan yang disampaikan adalah agar tidak cepat berpuas diri dalam memberantas korupsi.

Peringatan Hakordia itu digelar di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (9/12/2021). Jokowi membuka secara langsung peringatan Hakordia. Apa saja pesan yang disampaikan Jokowi?

1. Tidak Berpuas Diri

Pesan tidak berpuas diri itu disampaikan Jokowi kepada aparat penegak hukum, termasuk KPK. Dia meminta agar KPK dkk tidak puas diri dengan banyaknya kasus yang telah ditangani.

"Aparat penegak hukum termasuk KPK jangan cepat berpuas diri," ujar Jokowi dalam sambutan di gedung KPK, Kamis (9/12/2021). Jokowi menyampaikan pidatonya usai Ketua KPK Firli Bahuri memberikan sambutan.

2. Pemberantasan Korupsi Belum Baik

Sebab, kata Jokowi, penilaian masyarakat dalam upaya pemberantasan korupsi belum baik. Jokowi meminta seluruh pihak sadar mengenai penilaian ini.

"Karena penilaian masyarakat terhadap upaya pemberantasan korupsi masih dinilai belum baik. Semua harus sadar mengenai ini," kata Jokowi.

Jokowi mengatakan masyarakat menempatkan masalah pemberantasan korupsi di peringkat kedua sebagai hal mendesak untuk diselesaikan. Yaitu dengan persentase 15,2 persen.

"Dalam sebuah survei nasional di Desember 2021 yang lalu masyarakat menempatkan masalah pemberantasan korupsi sebagai masalah kedua yang mendesak untuk diselesaikan," kata Jokowi.

"Urutan pertama adalah penciptaan lapangan pekerjaan ini yang dinginkan masyarakat mencapai 37,3%. Urutan kedua pemberantasan korupsi mencapai 15,2 %. Dan urutan ketiga harga kebutuhan pokok," sambungnya.

Dia menyebut korupsi merupakan extraordinary crime yang memiliki dampak luar biasa. Jadi dibutuhkan penanganan ekstra.

"Kita menyadari korupsi merupakan extraordinary crime yang mempunyai dampak luar biasa oleh karena itu harus ditangani secara extraordinary juga," tuturnya.

3. Indeks Persepsi Korupsi RI di Bawah Malaysia

Jokowi juga menyinggung peringkat indeks persepsi korupsi Indonesia di Asia. Dia mengatakan perlu adanya perbaikan.

"Kemudian kalau dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia, ranking indeks persepsi korupsi kita di tahun 2020 juga masih perlu kita perbaiki lagi," kata.

Jokowi mengatakan Indonesia berada di bawah Malaysia. Dia menilai perlu upaya bersama untuk memperbaiki indeks persepsi korupsi.

"Singapura ini ranking ketiga, Brunei Darussalam ranking 35. Ini di Asia, bukan di Asia Tenggara. Ini dari 180 negara, Singapura sekali lagi ranking ketiga, Brunei Darussalam ranking 35, Malaysia ranking 57, dan Indonesia masih di ranking 102. Ini yang memerlukan kerja keras kita untuk memperbaiki indeks persepsi korupsi kita bersama-sama," kata Jokowi.

Meski begitu, Jokowi menyebut adanya peningkatan dalam indeks perilaku antikorupsi masyarakat. Jokowi menyebut indeks tersebut sejak 2019 semakin baik.

"Tapi ada perkembangan yang menggembirakan, sebagaimana ini data BPS mengenai indeks perilaku antikorupsi di masyarakat yang terus naik dan membaik. Tahun 2019 berada di angka 3,7, tahun 2020 di angka 3,84, tahun 2021 di angka 3,88, artinya semakin tahun semakin membaik," tuturnya.

Simak pesan Jokowi selengkapnya di halaman selanjutnya.

Saksikan Video 'Jokowi Ungkap Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Jauh di Bawah Malaysia':

[Gambas:Video 20detik]