Agar Tak Termakan Hoaks, Masyarakat Diminta Terapkan Nilai UUD 1945

Dea Duta Aulia - detikNews
Kamis, 09 Des 2021 21:55 WIB
MPR RI
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Nilai-nilai yang terkandung dalam UUD NRI Tahun 1945 dianggap dapat menjadi landasan agar para mahasiswa bijak bermedia sosial. Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antarlembaga Sekretariat Jenderal MPR, Budi Muliawan mengatakan, nilai-nilai yang terkandung dalam UUD NRI Tahun 1945 dapat membuat seseorang menjadi lebih bijak dalam bermedia sosial.

Sebab menurut dia, UUD NRI Tahun 1945 terdapat nilai religius, kemanusiaan, produktivitas, keseimbangan, demokrasi, kesamaan derajat, dan ketaatan hukum. Hal itu ia ungkap dalam MPR Menyapa Sahabat Kebangsaan dengan tema "Peran Mahasiswa dalam Menangkal Berita Bohong" di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada, Selasa (7/12/) lalu.

"Nilai-nilai dalam konstitusi itu membuat manusia lebih beradab," katanya Budi Muliawan dalam keterangan, Kamis (9/12/2021).

Budi menambahkan, arus informasi saat ini sangat cepat baik melalui media massa maupun media sosial. Dilihat dari dua sisi, media sosial memiliki dampak positif dan negatif pada kehidupan.

Kelebihan media sosial antara lain mendapatkan informasi secara aktual. Namun, kekurangan media sosial adalah menjadikan mudah peredaran berita atau informasi hoaks. Menurut Budi, jika mengacu data dari Kominfo, sekitar 800.000 situs di Indonesia teridentifikasi sebagai penyebar informasi palsu.

Sementara survei Katadata Insight Center (KIC) dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi serta Siberkreasi menyebutkan setidaknya 30% sampai hampir 60% orang Indonesia terpapar hoaks saat mengakses dan berkomunikasi melalui dunia maya. Sementara hanya 21% sampai 36% saja yang mampu mengenali hoaks.

Data lainnya, survei Eldermen tahun 2021 di 27 negara menyebutkan masyarakat Indonesia percaya dengan apa yang disampaikan media (score 72).

"Artinya, informasi yang disampaikan media dipercaya dan menjadi rujukan masyarakat Indonesia. Karena itulah, betapa penting bagi kita untuk menyaring informasi dan menangkal berita bohong itu," katanya.

Ia juga mengajak, agar masyarakat memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan informasi yang benar. Ia juga mengajak agar para pengguna media sosial mampu memfilter informasi agar tidak termakan oleh berita yang tidak benar.

"Prinsipnya adalah bagaimana mahasiswa bijak menggunakan media atau bermedia sosial dalam rangka menangkal berita bohong atau hoaks. Jika kita tidak bisa memfilter, tidak bijaksana, dan tidak melakukan kroscek, informasi bohong itu bisa mengancam disintegrasi bangsa," jelasnya.

Di sini, peran mahasiswa sangatlah dibutuhkan. Sebab, mahasiswa yang cenderung sudah akrab dengan dunia digital harus mau menjadi guardian of value atau penjaga nilai. "Mahasiswa mengambil peran untuk menjaga nilai-nilai agar tetap bertahan. Ketika berbicara tentang melawan hoaks, kita berbicara tentang nilai-nilai kebangsaan," ungkapnya.

Budi menjelaskan, masyarakat juga perlu memiliki nilai religius seperti menghormati serta bekerja sama antar pemeluk agama.

"Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah agama, dan tidak memaksakan suatu agama kepada orang lain," kata dia.

Sedangkan nilai kemanusiaan, antara lain mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban antara sesama manusia, mengembangkan sikap tenggang rasa, tidak semena-mena terhadap orang lain, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Nilai kesamaan derajat setiap orang memiliki hak, kewajiban, dan kedudukan sama di depan hukum juga tidak boleh dilupakan. "Nilai ketaatan hukum antara lain setiap warga negara tanpa pandang bulu wajib menaati hukum dan peraturan yang berlaku. Nilai-nilai kebangsaan ini membuat kita bijak bermedia sosial," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Dekan FISIP UMY, Ridho Al Hamdi mengatakan hal senada. Menurutnya Pancasila dapat disebarkan melalui berbagai cara antara lain media sosial maupun platform lainnya.

"Para mahasiswa agar mewarisi nilai-nilai dari para pendahulunya. Penting bagi generasi muda membangun peradaban. Bila generasi penerus bangsa ini terdidik maka peradaban akan berjalan dengan baik," kata Ridho.

Para mahasiswa harus bisa memberikan peran kebangsaan dengan membuka pikiran dan tidak cepat tersulut emosi.

"Jangan sumbu pendek. Ketika mendengar atau mendapat informasi langsung emosi. Indonesia harus menghadirkan generasi yang menyadari perbedaan dan tidak menganggap sebagai paling benar," pungkas Ridho.

(prf/ega)