LPSK Minta Pemda Jabar Perhatikan Pendidikan Korban Pemerkosaan Guru Pesantren

Yulida Medistiara - detikNews
Kamis, 09 Des 2021 09:35 WIB
Poster
Ilustrasi kekerasan seksual (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Guru pesantren di Bandung memperkosa 12 santriwati hingga beberapa korbannya hamil dan melahirkan. LPSK mendesak agar hak pendidikan para korban tersebut diperhatikan dan dapat kembali sekolah.

"Contohnya masalah pendidikan, tentunya harus kebutuhan tersebut perlu diperhatikan, khususnya dari pemda setempat," ujar Wakil Ketua LPSK Livia Istania Iskandar dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/12/2021).

LPSK sudah menemui Gubernur Jabar Ridwan Kamil pada Rabu (8/12) di Bandung. Dalam pertemuan tersebut LPSK menyampaikan perlunya memastikan anak-anak yang menjadi korban tersebut bisa kembali bersekolah.

Hal itu karena para korban masuk ke pesantren pada awalnya sebagai upaya melaksanakan proses pendidikan. Namun, karena sudah menjadi korban, tentunya perlu dipastikan di mana para korban ini bisa melanjutkan pendidikan. LPSK menemukan ada anak yang ditolak sekolah untuk bergabung dikarenakan mereka adalah korban pemerkosaan.

"Ini miris, karena sudah menjadi korban, bukannya didukung, malah tidak diterima untuk bersekolah. Temuan ini sudah kami sampaikan ke Gubernur Jabar untuk dilakukan upaya yang tepat bagi keberlangsungan pendidikan korban," ujar Livia.

LPSK berharap para korban pemerkosaan tidak diberi stigma negatif, terutama dari masyarakat. LPSK menilai dukungan masyarakat kepada korban untuk dapat melanjutkan kehidupannya dengan normal sangat penting.

"Stigmatisasi tentunya berdampak buruk bagi korban, ini yang harus senantiasa kita hindari," ungkap Livia.

Selain kepada para korban, LPSK juga mengingatkan anak-anak yang dilahirkan akibat perkosaan juga harus mendapatkan perhatian dari Pemprov agar tumbuh kembangnya bisa berjalan dengan baik. Hal ini karena anak-anak tersebut lahir dari ibu yang masih berusia belasan tahun dimana bisa jadi belum siap menjadi orang tua, dan beberapa di antaranya berasal dari keluarga tidak mampu.

"Ini tentunya perlu perhatian pula dari kita semua. Total ada delapan anak yang terlahir akibat perkosaan pada perkara ini," ujarnya.

LPSK sendiri memberikan perlindungan kepada 29 orang (12 orang di antaranya anak di bawah umur) yang terdiri atas pelapor, saksi dan/atau korban, dan saksi saat memberikan keterangan dalam persidangan dugaan tindak pidana persetubuhan terhadap anak dengan terdakwa Heri Irawan (pemilik Ponpes Manarul Huda) yang digelar di PN Kota Bandung dari 17 November sampai 7 Desember 2021. Dari 12 orang anak di bawah umur, 7 di antaranya telah melahirkan anak pelaku.

LPSK berharap putusan hakim nantinya juga mempertimbangkan terkait ganti rugi kepada korban.

"Alhamdulillah proses pemeriksaan sudah selesai, kita berharap putusan dari majelis hakim bisa memberikan hukuman yang setimpal kepada pelaku di satu sisi, dan di sisi lain memberikan keadilan kepada korban termasuk kemungkinan korban mendapatkan restitusi atau ganti rugi," tuturnya.

Sebelumnya, aksi bejat pemerkosaan dilakukan seorang guru salah satu pesantren di Bandung berinisial HW. Korban bahkan mencapai belasan orang.

Perkara itu sudah masuk ke pengadilan. Pada Selasa (7/12) kemarin, sidang tersebut sudah masuk ke pemeriksaan sejumlah saksi. Informasi dihimpun, saksi yang diperiksa merupakan para saksi korban. Sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Y Purnomo Surya Adi itu berlangsung tertutup.

Sementara itu, berdasarkan salinan dakwaan yang diterima detikcom, aksi itu diketahui dilakukan oleh HW pada rentang waktu 2016 hingga 2021. Sedikitnya dari belasan korban tersebut, empat santriwati hamil. Mereka sudah melahirkan saat kasus ini masuk persidangan.

Simak Video 'Kasus Guru Perkosa Santriwati di Bandung, Total 9 Bayi Lahir Akibat Ulahnya':

[Gambas:Video 20detik]



(yld/idn)