Cegah Varian Omicron, Kemenkes Ungkap Pentingnya Prokes-Vaksinasi

Dea Duta Aulia - detikNews
Selasa, 07 Des 2021 21:43 WIB
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dr Siti Nadia Tarmizi
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menegaskan pemerintah masih terus memantau perkembangan virus COVID-19 varian baru Omicron. Berbagai upaya dan kebijakan diambil guna mencegah virus tersebut masuk ke Indonesia.

Menurutnya, sejauh ini disiplin protokol kesehatan, vaksinasi, hingga deteksi dini menjadi menjadi sebuah keharusan dalam mencegah varian Omicron. Sebab ketiganya berperan penting dalam upaya pengendalian pandemi yang dilakukan pemerintah

"Kalau prokes dilakukan, dapat mencegah virus menemukan inang baru untuk berkembang," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (7/12/2021).

Sedangkan vaksinasi, dikatakannya, selain mencegah sakit parah, juga akan menekan jumlah populasi virus.

"Bila semua sudah divaksinasi, kita akan punya benteng kekebalan yang bisa menjaga kita dari varian baru dari luar negeri maupun munculnya varian baru di dalam negeri," papar Nadia.

Hal tersebut juga ditegaskan oleh Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, bahwa apapun varian virusnya, masyarakat diharapkan menerapkan 100% prokes dan melengkapi vaksinasi sebagai upaya pencegahan.

Windhu menjelaskan Omicron memunculkan gejala yang kurang lebih sama, yakni seperti influenza pada umumnya, yang membedakan adalah tempat mutasinya. Cara penularan juga tidak jauh berbeda, yaitu melalui droplet dan bisa sebagai airborne (penyakit yang menyebar lewat udara) di tempat tertutup.

Selama masih terjadi penularan, ujarnya, maka mutasi akan selalu dapat terjadi. "Jadi prokes tetap nomor satu untuk mencegah tertular atau menulari orang lain, dan mencegah terjadinya mutasi baru. Kalau ingin mencegah mutasi, jangan sampai terjadi transmisi," lanjutnya.

Terkait percepatan vaksinasi, ia meminta masyarakat tidak pilih-pilih vaksin atau bahkan menolak vaksin. Sebab, ujarnya, vaksin memberikan perlindungan ketika kita terpapar virus, agar tidak sakit berat bahkan risiko yang lebih buruk lainnya.

"Kalau bisa 100% vaksinasi dosis lengkap, kita akan lebih aman," ungkapnya.

Apabila upaya-upaya tersebut dapat berlangsung baik, Windhu mengatakan cukup optimis dengan situasi pandemi saat ini, di mana Indonesia sedang dalam proses. "Endemi adalah sasaran antara, goal kita adalah terkendalinya COVID-19 sehingga nyaris nol (kasus)," tuturnya.

Sementara itu, Deputi Eksternal Junior Doctors Network (JDN) Indonesia, Makhyan Jibril menambahkan bahwa selain prokes dan vaksinasi, sangat penting untuk membiasakan hidup sehat, agar seandainya terpapar virus, kita dapat terhindar dari sakit berat.

Menghadapi ancaman varian virus baru, Jibril meminta masyarakat jangan panik, sebaiknya bertindak rasional dengan cara menerapkan prokes serta melengkapi vaksinasi, khususnya percepatan vaksinasi lansia. Ujian terbesar new normal, dikatakan Jibril, adalah akhir tahun ini.

"Kalau kita bisa melewati ujian ini, semoga situasi terkendali ini bisa dipertahankan," tuturnya.

(akd/ega)