ADVERTISEMENT

Sidang Kasus Km 50

Ahli Polri: Kalau Ada Perlawanan Harusnya Diborgol

Yulida Medistiara - detikNews
Selasa, 07 Des 2021 21:29 WIB
Ahli SOP pengawalan dari Mabes Polri, Juni Duarsah, menjelaskan terkait prosedur pengawalan seorang terduga pelaku tindak pidana mestinya diborgol. Menurutnya jika telah ada indikasi perlawanan mestinya orang tersebut diborgol. Hal itu disampaikan Juni dalam sidang penembakan laskar FPI.
Sidang kasus penembakan Km 50. (Yulida/detikcom)
Jakarta -

Ahli SOP pengawalan dari Mabes Polri, Juni Duarsah, menjelaskan terkait prosedur pengawalan seorang terduga pelaku tindak pidana semestinya diborgol. Menurutnya, jika telah ada indikasi perlawanan, semestinya orang tersebut diborgol.

"Tangannya itu harus diborgol, orang yang dibawa itu harus diborgol itu harus dilakukan oleh anggota polisi tersebut," kata Juni saat bersaksi untuk terdakwa kasus penembakan laskar FPI di Km 50 Tol Cikampek, di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (7/12/2021).

Juni mengatakan hal tersebut diatur dalam Peraturan Kapolri terkait SOP pengawalan. Menurutnya, jika tidak ada borgol, dapat menggunakan alat lain seperti ikat pinggang atau tali yang bisa dijadikan untuk mengikat tangan apabila menilai atau ada diskresi potensi adanya perlawanan.

"Tadi saya sudah sampaikan ketika situasi saat itu anggota Polri tidak ada borgol yang harus dipakai itu yang bagaimana pelaku ya itu tidak akan melakukannya upaya yang membahayakan ruang geraknya itu dibatasi," kata Juni.

"Mungkin bisa diikat tali, disambungkan ke anggota, atau kalau nggak ada baju nya itu dibuka dijadikan tali, intinya bagaimana orang yang dibawa akan dibawa itu ruang geraknya memang sudah terbatasi," sambungnya.

Sementara itu, pengacara terdakwa, Henry Yoso mempertanyakan apakah pemborgolan dapat dilakukan saat kasus tersebut masih dalam status penyelidikan, Henry menyoroti aturan yang dimaksud Juni terkait SOP pengawalan tahanan. Juni mengatakan pemborgolan dapat dilakukan dalam tahap apa pun apabila telah ada indikasi perlawanan.

"Ketika orang-orang itu sudah dilumpuhkan bahasa saya ya sudah dalam penguasaan anggota Polri mau dibawa besok pun itu tetap dilakukan pengawalan. Itu saya pikir," ujar Juni.

"Pelaku melakukan kejahatan, sudah melakukan perlawanan itu harus di borgol, Pak," ucapnya.

Menurut Juni, dalam tahapan penyelidikan pun semestinya polisi sudah harus melakukan persiapan kejadian yang tidak terduga seperti membawa senjata api dan borgol. Dengan demikian, menurutnya, dalam penyelidikan pun upaya paksa dapat dilakukan, namun dengan diskresi tertentu.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT