KPK Heran Daerah yang Hattrick Terjerat Korupsi: Apa Tak Merasa Terhina?

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Selasa, 07 Des 2021 12:09 WIB
Nurul Ghufron
Nurul Ghufron (Farih/detikcom)
Jakarta -

Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron miris ketika seorang kepala daerah ditangkap karena korupsi namun tak membuat takut pejabat lainnya. Ghufron bahkan menyebut ada pejabat di salah satu daerah terjerat KPK tiga kali tetapi tak merasa terhina.

"Harapannya, ditangkap, ditangkap, ditangkap. Asumsinya, kalau ditangkap, yang ditangkap jera. Yang lain yang tahu bahwa ada penangkapan-penangkapan, harapannya takut. Tapi apakah jera, apakah takut? Faktanya tidak. Kenapa kami mengatakan berani mengatakan faktanya tidak, karena banyak--mohon maaf--bupatinya kena, penggantinya kena," kata Ghufron dalam webinar Pembukaan Rakornas Pendidikan Antikorupsi 2021, Selasa (7/12/2021).

"Penggantinya kena lagi, Pak, hattrick, 3 kali, ada dua kota. Itu pertama. Kedua, ada bupati kena, maka pilihan bupati lagi, Pak, Siapa yang dicalonkan? Istrinya menang, anaknya maju, bapaknya bupati kena, anaknya maju menggantikan. Apakah kemudian dicaci oleh publik? Apakah kemudian tidak dipilih oleh publik, ternyata menang," sambungnya.

Ghufron sangat heran terhadap kepala daerah yang dijerat tersebut tak terlihat seperti terhina. Dia beranggapan masyarakat memang permisif pada koruptor saat ini.

"Ini menunjukkan apa, publik seperti permisif terhadap koruptor saat ini. Makna bahwa kemudian ketika ditangkap kemudian kami jebloskan ke penjara mengakibatkan dia terhina, faktanya tidak terhina," katanya.

Ghufron juga membeberkan fenomena masyarakat yang memilih pejabat hanya berdasarkan amplop. Integritas para calon pejabat kerap kali tidak dilirik masyarakat.

"Faktanya, masih dipilih oleh publik, itu menunjukkan apa, menunjukkan bahwa bukan hanya pejabatnya yang sudah membiasakan korup, tapi publik juga memilih orang-orang itu bukan lagi berdasarkan yang terbaik, tapi berdasarkan amplop, amplop, amplop," katanya.

"Mau pintar, mau terampil, mau berdedikasi, tidak punya amplop tidak dipilih. Mau tidak berdedikasi tapi amplopnya tebal, itu yang dipilih. Ini fenomenanya saat ini, Pak," sambungnya.

Simak juga 'Survei Indikator: TNI Paling Dipercaya Publik, KPK di Posisi ke-5':

[Gambas:Video 20detik]



(azh/knv)