Mahasiswi NWR Sempat Lapor Komnas Perempuan Agustus 2021

Eva Safitri - detikNews
Senin, 06 Des 2021 17:49 WIB
Poster
Ilustrasi kekerasan seksual. (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Komnas Perempuan pernah menerima aduan dari mahasiswi NWR terkait kasus kekerasan seksual yang dialaminya. Pengaduan itu diterima Komnas Perempuan pada Agustus 2021.

"Betul korban melaporkan ke Komnas Perempuan pada Agustus, dan kemudian selain melaporkan ke Komnas Perempuan, korban berupaya untuk meminta bantuan terkait jeratan kekerasan seksual, korban pernah berkonsultasi dengan dua lembaga bantuan hukum di daerahnya yang menyarankan korban untuk melaporkan tindakan pelaku ke propam," kata Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi, dalam jumpa pers virtual, Senin (6/12/2021).

Dalam konferensi pers ini, Siti memilih menyebutkan identitas korban dengan inisial dengan alasan untuk memberikan penghormatan kepada NWR dan juga sebagai penguatan terhadap keluarga. Namun Siti memahami ada perdebatan berkaitan dengan penyebutan identitas ini.

Kembali ke Siti, dia mengatakan pihaknya baru bisa berkomunikasi dengan NWR pada November 2021. Dalam komunikasi itu, dia mengatakan NWR membutuhkan bantuan konseling psikologis dan mediasi dengan orang tua pacar.

"Kami bisa berkomunikasi dengan korban pada November. Kami menghubungi korban sesuai SOP kami melalui WA belum direspons, kemudian ada respons yang memberikan informasi kronologi yang ia alami, kemudian kami bisa berkomunikasi lewat telepon itu di bulan November dan memang ia menyampaikan kebutuhan untuk dibantu konseling psikologis dan mediasi dengan orang tua pacarnya," ujarnya.

Selain itu, Siti mengungkap NWR Widya mengirim surat kepada Komnas Perempuan. Surat itu berisi keterangan rinci atas kasus kekerasan yang dialami NWR.

"Melalui komunikasi itu korban memang mengirimkan surat ke Komnas Perempuan, isinya tentang berbagai bentuk kekerasan yang ia alami sejak tahun secara kronologis dan di situ korban menyampaikan secara detail apa yang dialaminya," ucapnya.

Siti mengatakan Komnas Perempuan kemudian mengarahkan NWR untuk berkonsultasi dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Mojokerto. Siti menyebut konsultasi itu dilakukan dua kali sebelum akhirnya NWR bunuh diri.

"Berdasarkan kebutuhan korban untuk psikologis dan mediasi, Komnas Perempuan merujuk korban untuk mendapatkan layanan ke P2TP2A Mojokerto. P2TP2A Mojokerto sudah melakukan konseling untuk dua sesi di bulan November sampai kemudian ketika akan dilakukan sesi berikutnya korban sudah meninggal," tutur Siti.

Diketahui, NWR ditemukan warga dalam kondisi tewas di sebelah makam ayahnya di Makam Islam Sugihan, Kecamatan Sooko, Mojokerto, Kamis (2/12) sekitar pukul 15.30 WIB.

Mahasiswi perguruan tinggi di Malang ini diduga nekat bunuh diri mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun. Polisi menemukan sisa cairan racun dalam botol plastik di lokasi tewasnya korban.

Nama Bripda Randy Bagus kemudian menjadi perbincangan hangat di medsos karena disebut-sebut menjadi penyebab NWR bunuh diri. Bripda Randy Bagus merupakan mantan kekasih NWR.

Bripda Randy Bagus kini telah ditetapkan sebagai tersangka terkait aborsi yang dilakukan bersama mantan kekasihnya, NWS (23), yang tewas setelah menenggak racun. Anggota Polres Pasuruan itu kini menjalani penahanan di rutan Polda Jatim.

Simak Video: Permintaan Maaf Ayah Bripda Randy untuk Mahasiswi NW

[Gambas:Video 20detik]



(drg/fjp)