LaNyalla Ungkap 3 Catatan Perkuat Daya Saing RI di Era Ekonomi Digital

Angga Laraspati - detikNews
Minggu, 05 Des 2021 20:17 WIB
Ketua DPD LaNyalla Mattalitti
Foto: DPD RI
Jakarta -

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengajak kaum milenial bersiap menghadapi besarnya potensi ekonomi digital. Menurutnya, ada tiga catatan penting untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam mengarungi era ekonomi digital yang tengah berkembang pesat saat ini.

"Pertama, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM), karena kesiapan SDM adalah pilar dasar dalam ekosistem inovasi digital. Ingat, digital hanyalah alat. Skemanya, inovasinya, terobosannya, peruntukannya, berdasarkan perencanaan dari manusia," kata LaNyalla dalam keterangan tertulis, Minggu (5/12/2021).

Dalam orasi virtualnya pada acara Wisuda Sarjana ke-25 Stikosa-AWS, Sabtu (4/12) kemarin, LaNyalla menuturkan SDM kaum muda harus disiapkan sejak saat ini alias tak bisa ditunda-tunda lagi.

Kedua, kesiapan infrastruktur yang menurut LaNyalla fasilitas infrastruktur telekomunikasi belum merata, terutama di kawasan timur Indonesia. Akibatnya, terjadi kesenjangan digital. Mayoritas pengguna internet pun diketahui hanya berpusat di Jawa, Sumatera dan Bali.

"Tanpa pemerataan infrastruktur telekomunikasi, tentu akan sulit untuk menciptakan kaum muda kreatif dengan sentuhan digital di pelosok-pelosok negeri," ujar LaNyalla.

Ketiga, kesiapan regulasi. Sebab, kata LaNyalla, dunia digital adalah dunia yang begitu dinamis.

"Maka, pemerintah harus menyiapkan regulasi yang tidak kuno, yang mengakomodasi perkembangan zaman, namun tetap dalam koridor aturan yang baik dan memihak kepada kepentingan bangsa," tutur LaNyalla.

Termasuk juga toleransi dari DIKTI kepada perguruan tinggi untuk melakukan reformasi kurikulum sesuai dengan semangat Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar.

"Saya berharap Kementerian Komunikasi dan Informasi juga segera menyiapkan regulasi yang mampu mengakomodasi secara cepat revolusi teknologi digitalisasi, yang muaranya wajib berpihak kepada kepentingan nasional kita sebagai bangsa yang berdaulat," tegas LaNyalla.

Sebab, katanya, tanpa kedaulatan, termasuk kedaulatan data dan informasi, maka Indonesia hanya akan menjadi menjadi negara yang diatur dan dikendalikan oleh negara lain. Tanpa hal tersebut, LaNyalla juga menilai Indonesia hanya akan menjadi negara yang dipaksa tunduk kepada aturan-aturan global yang tidak adil.

"Dan pada akhirnya, kekayaan negara ini akan dikuasai oleh segelintir orang, baik itu bangsa kita sendiri maupun bangsa asing," ucapnya.

Senator asal Jawa Timur itu juga tak menampik jika 90 persen, atau bahkan 95 persen, penjual di marketplace adalah orang lokal. Tetapi produk yang dijual justru kebalikannya, sekitar 90 persen adalah barang impor.

"Ini tentu harus menjadi perhatian kita bersama, karena begitu besarnya nilai transaksi belanja online kita, yang mencapai lebih dari 266 triliun rupiah itu, yang artinya mayoritas uang rakyat dibelanjakan untuk barang impor," katanya.

Ditambahkannya, banyak riset menunjukkan, ekonomi digital Indonesia akan tumbuh delapan kali lipat pada tahun 2030. Nilainya diprediksi mencapai 4.500-an triliun rupiah.

"Luar biasa besar, mengingat populasi bangsa kita yang juga besar, sehingga menjadikannya sebagai pasar prospektif dari ekonomi digital," ujarnya.

Baca halaman berikutnya..