Niko Blak-blakan Bagaimana Dahsyatnya Kerja di Tesla Milik Elon Musk

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Minggu, 05 Des 2021 12:20 WIB
Jakarta -

Sebelum menjadi insinyur di Tesla, Niko Questera (32) sempat bekerja di Stanley Electric, yang menjadi pemasok lampu mobil Honda, pada 2011. Diakui Niko, kultur pekerjaan di berbagai negara juga berbeda, termasuk di Tesla.

"Dulu kita mikir di pelajaran sejarah, Jepang itu kerja rodi, kerja romusa. Memang lumayan seperti itu kultur di Honda. Banyak banget kerja yang sampai malam, kadang-kadang sampai subuh. Mungkin rekornya saya dulu kerja di 38 jam nonstop, tidak pulang," cerita Niko dalam program Sosok.

Setelah bekerja di Honda, ia pindah ke Tesla. Dan Niko menceritakan bahwa tekanan di Tesla lebih 'parah' dibandingkan di Honda. Baik dari jam kerja maupun pengalamannya.

"Kenapa di Tesla 3x lipat ya mungkin pertama, jumlah orangnya sedikit untuk menangani berbagai macam komponen. Dan tentunya itu seru. Karena kita jadi belajar banyak banget," ujar Niko

"Tapi secara bersamaan juga tanggung jawab kita juga jadi banyak banget. Pabriknya Tesla itu berjalan 24/7. Di Tesla jadinya harus ada yang cover," lanjutnya.

Selain itu, Niko merasa handphone (HP) yang diberikan dari Tesla untuk kebutuhan pekerjaan ternyata menjadi sebuah 'kutukan'. Karena HP tersebut akan terus berbunyi di mana pun Niko berada.

"Ketika di Tesla, 'Wuih dikasih HP'. Ternyata HP itu bunyi terus. Kayak, 'Oh ternyata kutukan nih HP'. Baik kurang tidur, kelebihan tanggung jawab, atau mau liburan pun HP pun harus tetap dibawa," cerita Niko sembari tertawa.

Dengan jam kerja yang cukup menguras tenaga, Niko tetap menyempatkan diri pulang ke Indonesia guna bisa bertemu dengan keluarga.

"Kehidupan pribadi selama kerja di Amerika atau di Tesla. Lebih jarang jalan-jalannya. Tapi tetap saya pasti biasanya sih hampir setiap tahun, 1 tahun sekali pasti pulang ke Indonesia. Pasti jalan-jalan," ujar Niko.

(fuf/gah)