Erupsi Gunung Semeru Dipicu Ketidakstabilan Endapan

Haris Fadhil - detikNews
Sabtu, 04 Des 2021 20:32 WIB
Gunung Semeru di wilayah Kabupaten Lumajang, erupsi. Warga sekitar Gunung Semeru berlarian panik berusaha menghindari gumpalan awan
Erupsi Gunung Semeru (Foto: Dok. Humas BNPB)
Jakarta -

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Lelono menjelaskan penyebab erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur. Dia mengatakan erupsi dipicu ketidakstabilan endapan.

Eko awalnya menjelaskan soal lokasi aktivitas vulkanik Gunung Semeru. Menurutnya, aktivitas vulkanik terjadi di kawah Jonggringseloko yang terletak di tenggara puncak Mahameru.

"Letusan Gunung Semeru umumnya bertipe vulkanian dan strombolian berupa penghancuran kubah atau lidah lava, serta pembentukan kubah lava atau lidah lava baru," ucap Eko dalam konferensi pers yang disiarkan kanal YouTube BPNB Indonesia, Sabtu (4/12/2021).

Dia menyebut penghancuran kubah atau lidah lava mengakibatkan pembentukan awan panas guguran. Menurutnya, awan panas itu merupakan karakteristik Gunung Semeru.

Dia mengatakan, berdasarkan pengamatan hingga 30 November 2021, Gunung Semeru terlihat jelas dan terdapat embusan gas dari kawah utama berwarna putih dan kelabu. Embusan gas itu berada pada ketinggian hingga 100 meter dari puncak.

"Hari ini, awan panas terjadi luncuran 1.700 meter dari puncak atau 700 meter dari ujung aliran lava dengan arah luncuran ke tenggara. Pascakejadian awan panas guguran, terjadi guguran lava dengan jarak dan arah luncuran tidak teramati," tuturnya.

Dia mengatakan pukul 13.30 WIB tadi mulai terekam getaran banjir pada seismogram. Pada 14.50 WIB, teramati awan panas guguran dengan jarak luncur 4 km dari puncak ke arah Kobokan.

Dia juga menjelaskan ada sejumlah gempa yang terjadi sebelum kejadian ini. Eko mengatakan ada ketidakstabilan kubah lava yang terjadi berdasarkan dari data-data sebelum erupsi.

"Dari hasil pengamatan visual ini menunjukkan kemunculan awan panas guguran diakibatkan ketidakstabilan endapan lidah lava dan interaksi batuan yang bersuhu relatif tinggi dengan air hujan," tuturnya.

(haf/idh)