Ketua Steering Committee Klaim Massa Reuni 212 Tak Pernah Anarkis

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Sabtu, 04 Des 2021 15:24 WIB
Konferensi pers Ketua Panitia Reuni 212 Yusuf Martak
Foto: Azhar Bagas Ramadhan/detikcom
Jakarta -

Ketua Steering Committee atau panitia Reuni 212 Yusuf Martak mengklaim bahwa massa aksi reuni 212 tidak pernah berujung anarkis. Yusuf menyebut aksi reuni 212 selalu berjalan dengan damai tanpa adanya benturan dengan aparat penegak hukum.

"Aksi super super damai reuni akbar 212 tahun 2021 dengan reuni akbar yang setiap tahun kita selenggarakan, alhamdulillah tidak pernah mengarah anarkis dan menimbulkan kegaduhan apalagi sengaja berbenturan dengan aparat yang sedang menjalankan tugasnya di lapangan," kata Yusuf di Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (4/12/2021).

Yusuf menyebut massa aksi reuni 212 selalu menyampaikan pendapatnya di publik dengan cara aturan hukum. Dia mengatakan ibu-ibu pun ingin sama-sama merangkul aparat penegak hukum.

"Berjalannya acara selalu diiringi dengan lantunan doa salawat dzikir sekaligus menyampaikan pendapat dan aspirasi secara konstitusional dilindungi oleh UUD 1945 dan UU nomor 9 tahun 1998 tentang kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum," kata Yusuf.

"Umat Islam dalam aksi selalu ingin berangkulan bukan ingin berpukulan, bahkan emak-emak ingin juga merangkul bukan hadir untuk dipukul," sambungnya.

Lalu, Yusuf mengatakan masyarakat mengenal aparat penegak hukum kerap menggunakan cara yang tidak humanis saat mengamankan aksi. Menurutnya hal itu malah menjatuhkan pihak aparat penegak hukum itu sendiri.

"Masyarakat pada umumnya sudah paham adanya oknum aparat di tingkat pimpinan bila menjalankan tugasnya sering menggunakan cara-cara tidak humanis, gemar mengeluarkan ancaman menebar isu yang tidak mendasar hingga menimbulkan fitnah di sana sini demi kepentingan dan ambisi pribadinya," katanya.

"Perilaku aparat semacam ini justru malah menimbulkan kegaduhan serta menjatuhkan martabat dan nama besar kesatuannya sendiri," tambahnya.

Lebih lanjut, Yusuf menyebutkan pimpinan aparat penegak hukum seharusnya bisa memperlakukan umat Islam dengan damai. Dia juga menyinggung soal KSAD Jenderal Dudung Abdurrachman yang ingin merangkul kelompok kriminal bersenjata (KKB).

"Seharusnya selaku pimpinan berkewajiban mengarahkan bawahannya agar memperlakukan umat Islam dan masyarakat pada umumnya juga sebagai saudara, karena umat Islam adalah umat yang cinta damai dan sangat mencintai NKRI serta umat Islam selalu berada di barisan terdepan dalam perang kemerdekaan," ujarnya.

"Aneh bin ajaibnya umat umat Islam yang dijadikan saudara, justru malah ekstrimis seperti KKB yang dijadikan saudara oleh KSAD," tambahnya.

(azh/yld)