Ketua DPD Dorong Generasi Milenial Kuasai Pasar Ekonomi Digital

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 22:21 WIB
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti
Foto: DPD
Jakarta -

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mendorong generasi milenial untuk masuk dan menguasai pasar ekonomi digital. Menurutnya, hal itu penting dilakukan sehingga Indonesia tidak hanya memanfaatkan sarana teknologi dan digital sebagai hiburan belaka, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah bagi perekonomian.

"Yang ingin saya tekankan dalam hal ini adalah, ayo bersiap. Tidak ada kata terlambat. Semua anak muda harus bersiap. Jangan sampai besarnya pasar ekonomi digital itu justru dinikmati oleh perusahaan-perusahaan besar dari luar negeri," tutur LaNyalla dalam keterangan tertulis, Jumat (3/12/2021).

Hal ini ia sampaikan di acara Seminar Nasional Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) bertema 'Digitalisasi dan Teknologi Sebagai Infrastruktur Bagi Milenial Dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045', Jumat (3/12).

Dalam kesempatan ini, LaNyalla memaparkan besarnya potensi ekonomi digital ke depannya. Ia menyebut dari tahun ke tahun, nilai transaksi belanja online terus meningkat. Bahkan, tahun 2020 nilainya mencapai Rp 266 triliun.

"Tetapi ada satu keprihatinan dalam diri saya, karena masih maraknya produk impor di berbagai marketplace Indonesia," tegasnya.

Terkait hal ini, LaNyalla mengatakan 90-95% penjual di marketplace merupakan orang lokal. Namun, sekitar 90 persen produk yang dijual berasal dari impor.

"Ini tentu harus menjadi perhatian bersama, karena begitu besarnya nilai transaksi belanja online kita, yang mencapai lebih dari Rp 266 triliun itu, yang artinya mayoritas uang rakyat dibelanjakan untuk produk impor," ungkapnya.

"Penjual di marketplace hanya ambil margin. Nilai tambah utama tentu ada pada produk atau pelaku impor di luar negeri. Inilah salah satu PR kita untuk membawa anak-anak muda masuk dalam ekosistem belanja digital," imbuhnya..

LaNyalla mengatakan ekonomi digital bukan hanya tentang belanja online, melainkan terdapat berbagai segmen bisnis lainnya mulai dari aplikasi, software, hingga teknologi bidang kesehatan. Terlebih saat ini telah banyak perkembangan teknologi digital seperti teknologi 5G, IoT (internet of things), blockchain, artificial intelligence dan cloud computing.

"Semuanya itu jika kita tangkap dengan baik peluangnya, tentu akan sangat memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi bangsa kita," ujarnya.

Dikatakannya, beberapa riset menunjukkan ekonomi digital Indonesia akan tumbuh delapan kali lipat pada tahun 2030. Adapun nilainya diprediksi mencapai sekitar Rp 4.500 triliun.

"Luar biasa besar, mengingat populasi bangsa kita yang juga besar, sehingga menjadikannya sebagai pasar perspektif dari ekonomi digital," tutur LaNyalla.

Meski demikian, LaNyalla mengatakan ada beberapa catatan penting yang perlu dibenahi untuk memperkuat daya saing dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital. Pertama, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM), yang menjadi pilar dasar dalam ekosistem inovasi digital.

Ditegaskan LaNyalla, digital hanyalah alat, sementara skema, inovasi, terobosan, peruntukan, berdasarkan perencanaan dari manusia.

"Sehingga SDM kaum muda harus disiapkan sejak saat ini, tidak bisa ditunda-tunda lagi," katanya.

Kedua, kesiapan infrastruktur. Saat ini, kata LaNyalla, fasilitas infrastruktur telekomunikasi masih belum merata, terutama di kawasan timur Indonesia. Ia menyebut hal ini berdampak terhadap, kesenjangan digital.

"Tanpa pemerataan infrastruktur telekomunikasi, tentu akan sulit untuk menciptakan kaum muda kreatif dengan sentuhan digital di pelosok-pelosok negeri," paparnya.

Ketiga, kesiapan regulasi. LaNyalla memaparkan dunia digital merupakan dunia yang dinamis. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyiapkan regulasi terkini yang mengakomodasi perkembangan zaman, namun tetap dalam koridor aturan yang baik dan memihak kepentingan bangsa.

Terkait hal ini, LaNyalla mengatakan DPD terus berupaya perkembangan teknologi dan digital berbasis anak muda. Sebab, di era Indonesia Emas tahun 2045, mayoritas penduduk Indonesia diisi oleh anak-anak muda.

"DPD RI akan terus mendorong pengembangan teknologi dan digital berbasis kaum muda, baik dari sisi ekosistem pendidikan, dunia usaha, hingga infrastruktur fisiknya," katanya.

LaNyalla menjelaskan berdasarkan sensus penduduk tahun 2020, penduduk Indonesia didominasi generasi Z dan generasi milenial. Jumlah penduduk generasi Z yang berusia 8-23 tahun sebanyak 75,49 juta atau 27,94 persen dari total 270,20 juta penduduk Indonesia. Sedangkan penduduk milenial, yang berusia 24-39 tahun mencapai 69,90 juta atau 25,87 persen dari total penduduk.

Jika ditotal, kata LaNyalla, jumlah penduduk usia 8-39 tahun mencapai hampir 54 persen dari populasi penduduk Indonesia. Kelompok penduduk terbesar berikutnya adalah generasi X, yang berusia 40-55 tahun, yang mencapai 59,12 juta atau 21,88 persen.

Sedangkan kelompok baby boomer yang berusia 56-74 tahun mencapai 31,23 juta atau 11,56 persen. Sedangkan kelompok post generasi Z atau yang berusia sampai dengan 1-7 tahun mencapai 10,88 persen atau 29,40 juta. Sementara kelompok yang persentasenya paling kecil adalah kelompok pre-boomer, 75 tahun ke atas, yang hanya 1,87 persen atau 5,05 juta.

"Komposisi ini akan tetap berjalan seiring waktu kita menuju era bonus demografi, yang puncaknya akan terjadi di tahun 2045," bebernya.

Menurut LaNyalla, jika bonus demografi tidak disiapkan dengan baik, maka akan menimbulkan masalah sosial seperti kemiskinan, derajat kesehatan yang rendah, pengangguran, dan tingkat kriminalitas.

"Karena jumlah usia produktif mencapai puncak, sementara lapangan pekerjaan tidak ada. Ini sangat berbahaya," katanya.

Oleh karena itu, LaNyalla mengimbau agar generasi muda melakukan persiapan sejak dini. Mengingat generasi muda dapat menjadi pemimpin ke depannya.

"Saya termasuk orang yang percaya kekuatan kaum muda, terutama yang kini menjadi perhatian global. Dengan hadirnya sejumlah start-up yang mampu mengubah perilaku umat manusia, yang semuanya itu digerakkan oleh anak-anak muda," imbuhnya.

"Apalagi, teknologi dan digitalisasi memang menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Kita lihat saja riset Nielsen Media, yang meneliti kepemilikan smartphone dalam generasi Z saat ini, yang mencapai 86 persen. Mereka juga paling sering menggunakan internet, dengan durasi minimal 4 jam sehari," imbuhnya.

LaNyalla meyakini GMKI dapat memberi kontribusi positif ke depannya, termasuk dalam menyambut bonus demografi pada usia 100 tahun Indonesia. Terlebih, GMKI memiliki tokoh panutan, yaitu dokter J. Leimena, yang juga pahlawan nasional Indonesia, sekaligus penggagas lahirnya GMKI.

"Karena itu, ke depan, saya berharap para anggota GMKI bisa terus mengaktualisasikan diri, belajar dengan giat, berorganisasi dengan baik, beribadah dengan tekun dan mengabdi kepada rakyat tanpa mengenal lelah, sehingga lahir dokter J. Leimena yang lain di era saat ini," pungkasnya.

(akn/ega)