Presidensi G20 Disebut Jadi Momentum Indonesia Bangkit dari Pandemi

Atta Kharisma - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 22:21 WIB
Apa Itu Presidensi G20 yang Diemban Indonesia? Ini Penjelasannya
Foto: Jokowi di KTT G20 (Instagram @jokowi)
Jakarta -

Presidensi Indonesia di G20 menjadi momentum Indonesia untuk menumbuhkan optimisme dan bertindak konkret guna mendorong pemulihan global. Tema 'Recover Together, Recover Stronger' yang diusung dalam ajang G20 juga sejalan dengan semangat Indonesia yang tangguh menghadapi berbagai tantangan.

Hal ini ditegaskan Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo, Usman Kansong dalam Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) KPCPEN pada hari Jumat.

"Prinsip gas dan rem yang diterapkan pemerintah terbukti sangat baik mengendalikan pandemi COVID-19, demikian juga kebijakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat,red) sangat sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini, yang dapat memulihkan kesehatan juga roda ekonomi kembali berputar," ujar Usman dalam keterangan tertulis, Jumat (3/12/2021).

Usman mengatakan Presidensi 2022 yang berlangsung hingga Oktober 2022 menjadi momentum Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia kemampuan menyelenggarakan berbagai pertemuan tingkat tinggi, meski dalam situasi pandemi, secara aman dan terkendali.

"Salah satu hal penting yang akan dibahas adalah Global Health Architecture. Presiden Jokowi ingin mengajak dunia ciptakan arsitektur kesehatan global yang inklusif, merata bagi semua negara, baik negara maju, berkembang, dan negara lainnya," tuturnya.

Ia memaparkan G20 nanti akan membicarakan tentang transisi ekonomi digital, serta transisi energi dari fosil menjadi energi baru dan terbarukan yang berkelanjutan.

"Intinya dengan menjadi Presidensi 2022, kita optimis tahun depan bisa lebih baik lagi dalam penanggulangan COVID-19 dan pemulihan ekonomi. Syaratnya tetap menjaga protokol kesehatan, segera vaksinasi bagi yang belum, khususnya di saat Indonesia berada dalam ancaman varian baru Omicron," tuturnya.

Terkait ancaman varian Omicron, Usman mengatakan jika pemerintah sudah melakukan antisipasi yang sifatnya luwes.

"Saat ini kita mengetatkan, kalau situasinya relatif membaik maka akan dilonggarkan. Gas dan rem akan diterapkan," jelasnya.

Dalam konteks antisipasi, Usman menyebutkan kondisi tahun depan ditentukan oleh perilaku masyarakat dalam satu atau dua bulan ini, khususnya menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

"Bagaimana kita menjaga prokes dan vaksinasi. Jangan sampai nanti setelah Nataru dan Indonesia menjadi ketua G20 kasusnya malah melonjak. Itu tidak kita inginkan," ujarnya.

Sebagai upaya pengendalian, pemerintah menetapkan PPKM Level 3 di semua wilayah Indonesia pada 24 Desember 2021-2 Januari 2022 nanti. Usman juga mengajak masyarakat berpartisipasi dalam menyukseskan Indonesia sebagai Presidensi G20 dengan bertindak sebagai tuan rumah yang baik.

Terkait hal ini, Kominfo menjalankan fungsi komunikasi publik dengan menyampaikan manfaat besar dari keketuaan (Presidensi) G20. Salah satunya, produk domestik bruto (PDB) yang membaik dengan bertambahnya konsumsi dalam negeri, serta publikasi tempat wisata.

"Akan kita publikasikan seluas-luasnya agar G20 membawa dampak ekonomi dan kesehatan," tegasnya.

Klik halaman selanjutnya >>>

Ia menambahkan, Presiden Jokowi juga sudah mengingatkan agar G20 tidak sekadar dijadikan ajang diskusi tanpa hasil yang konkret. Memasuki tahun 2022, Usman menekankan pentingnya optimisme dengan keyakinan bahwa ekonomi dan kesehatan dapat pulih secara berdampingan.

"Ini harus dipahami, dan akan kami gaungkan apa yang disampaikan Presiden, ke dalam dan luar negeri," ungkapnya.

Percepat Vaksinasi

Dalam rangka menyambut Indonesia sebagai Presidensi 2022, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyampaikan vaksinasi ditargetkan selesai pada Maret 2022.

"Kita berharap 80 persen vaksinasi dosis pertama akan tercapai Desember 2021 dan 60 persen dosis lengkap. Dengan makin bertambahnya vaksin diharapkan masyarakat agar segera mau divaksin," katanya.

Karenanya, dia mengimbau masyarakat untuk melengkapi vaksinasi agar kekebalan komunal segera terbentuk. Selain itu, Nadia juga mengatakan berbagai negara memberikan apresiasi atas membaiknya situasi pandemi di Indonesia.

"AS dan Uni Eropa mengkategorikan Indonesia sebagai negara yang aman dikunjungi. Tidak ada imbauan pelarangan dari negara mereka," jelasnya.

Ia menerangkan Indonesia harus pulih bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk mempertahankan hubungan dengan negara-negara lain baik dalam hal mobilitas, interaksi, transaksi ekonomi dan sebagainya. Nadia menekankan virus tidak mengenal wilayah, sehingga penting bagi Indonesia untuk segera pulih mengingat Indonesia adalah bagian dari kegiatan global.

Pandemi COVID-19 yang belum jelas kapan akan berakhir, serta kemunculan varian baru Omicron menjadi cambuk bagi masyarakat untuk tetap melakukan prokes 3M, vaksinasi, membatasi mobilitas, dan penguatan 3T.

"Hal ini penting dilakukan. Dengan Presidensi G20 2022 kita tunjukan bagaimana Indonesia bisa bekerja dengan baik. Kalau bisa, Indonesia menjadi negara pertama yang keluar dari situasi pandemi. Ini butuh kerja sama semua pihak, termasuk masyarakat," kata Nadia.

Mengomentari dampak positif Presidensi G20, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE), Piter Abdullah mengatakan posisi Indonesia sebagai Presidensi G20 merupakan sebuah kesempatan besar untuk menampilkan potensi dan kemampuan Indonesia ke dunia global, serta melakukan banyak hal untuk dalam negeri maupun bagi dunia.

"Tekad Presiden menjadikan G20 tidak hanya sebagai tempat kumpul-kumpul, melainkan bisa menghasilkan sebuah substansi, tidak hanya sekadar baik di tataran konsep tapi juga bisa diimplementasikan akan membuat kualitas kepemimpinan G20 Indonesia akan diperhitungkan," ujar Piter.

Ia menambahkan menjadi Presidensi G20 juga merupakan kesempatan Indonesia untuk mengusulkan isu-isu relevan yang tidak hanya bermanfaat bagi Indonesia, tapi juga global.

"Isu terkait arsitektur kesehatan global bisa dikatakan sangat tertinggal dibandingkan arsitektur keuangan global misalnya. Bila ada krisis ekonomi di suatu negara, sudah ada lembaga IMF dan Bank Dunia. Sedangkan untuk masalah kesehatan, kita tidak punya protokol kesehatan global. Indonesia bisa menginisiasi, meskipun jujur tantangan akan sangat berat karena isu kesehatan global memang tidak mudah," katanya.

Piter menekankan isu kesehatan tidak bisa dilepaskan dari ekonomi. Menanggapi kasus COVID-19 di Indonesia yang mulai landai, Piter optimis hal ini bisa berdampak positif bagi perekonomian dalam negeri.

"Paradigmanya harus diubah. Pandemi terbukti bisa memporak porandakan perekonomian sebuah negara," tegasnya.

"Seiring dengan itu, kondisi ekonomi masyarakat terus membaik, konsumsi investasi dan ekspor mengalami perbaikan. Pertumbuhan ekonomi triwulan empat 2022 diharapkan akan kembali seperti triwulan kedua," harap Piter.

Sementara itu, Ketua BPC Perhumas Medan Saurma MGP Siahaan menyatakan Perhumas telah menjalankan sejumlah kegiatan untuk menggaungkan semangat resiliensi dan optimisme di Indonesia. Salah satunya adalah kampanye Indonesia Bicara Baik yang tidak hanya untuk nasional melainkan hingga ke daerah.

"Selama 2020-2021 Perhumas juga menggaungkan pentingnya pemakaian masker dan vaksinasi. Kami sepakat ekonomi akan bangkit oleh sejumlah upaya yang dilakukan pemerintah. Menjadi Presidensi G20 akan menjadikan semangat Indonesia makin kuat," ujarnya.

Menurut Saurma, setiap orang harus dapat menjadi PR (public relations) untuk membawakan hal baik terkait individu, lembaga atau negara.

"Masyarakat akan menunjukkan dukungan saat tahu apa yang dikerjakan pemerintah. Perhumas dalam hal ini siap bekerja sama dengan pemerintah, dalam hal ini menyosialisasikan narasi-narasi positif, Indonesia Bicara Baik adalah salah satu contohnya," pungkasnya.

(ncm/ega)