Golkar Terbuka ke Ridwan Kamil: Tapi Capres Tetap Airlangga Hartarto

Matius Alfons - detikNews
Kamis, 02 Des 2021 19:54 WIB
Waketum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia (Foto: Dyas/detikcom)
Waketum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia (Dyas/detikcom)

Untuk diketahui, Ridwan Kamil memberi sinyal bakal bergabung dengan partai politik (parpol) tahun depan. RK pun memberikan kode parpol yang bakal dia pilih.

Ridwan Kamil mulanya menjawab soal peluangnya maju Pilpres 2024 dan mengaku belum ada tawaran dari parpol mana pun. Dia lalu menyinggung soal rencananya bergabung ke parpol tahun depan.

"Jadi kalau ternyata tidak ada partai yang mengusung, yang paling realistis dalam menu politik saya adalah melanjutkan gubernur jilid dua. Tapi kalau ada partai yang merasa butuh tokoh yang elektabilitasnya lumayan, mungkin sosok saya akan dihitung ya saya bismillah. Makanya saya sudah putuskan, tahun depan saya masuk parpol," kata Ridwan Kamil.

Hal itu diungkapkan Ridwan Kamil saat menjadi pembicara dalam diskusi Fisipol Leadership Forum: Road to 2024 yang diadakan Fisipol UGM, Kamis (2/12/2021).

RK mengaku belum menjatuhkan pilihan bergabung ke parpol mana. Dia pun menyebutkan beberapa warna parpol yang sedang ditimbang.

"Warna yang mana, apakah warna taplak (kuning) ini atau warna baju satpam, atau hijab merah saya belum tahu sedang saya dekati," ucapnya.

Meski begitu, RK memberikan kisi-kisi soal bakal bergabung ke partai mana. Ridwan Kamil menegaskan akan bergabung dengan partai yang beridealisme Pancasilais.

"Tetapi yang pasti (parpol) paling Pancasilais kira-kira gitu ya, saya akan di situ. Karena menurut saya Pancasila itu harga mati tidak boleh terlalu ke kiri tidak boleh terlalu ke kanan, politik jalan tengahlah yang saya pilih," tegasnya.

Partai Pancasilais dipilih karena menurutnya dapat merangkul golongan kiri maupun kanan. Partai seperti itulah yang menurut RK dibutuhkan pada saat ini.

"Kadang-kadang saya juga sering di-bully oleh yang kanan, kadang-kadang di-bully juga oleh yang kiri karena mengambil posisi di tengah," ucapnya.

"Bagi saya itu tadi, tengah ini kebutuhan hari ini merangkul yang terlalu kanan juga bisa merangkul yang terlalu kiri. Mungkin dianggap juga nggak jelas. Ada persepsi itu nggak masalah karena politik ada persepsi," tutupnya.


(maa/zap)