Burung Pipit Loyo, Ikan Mati

Kenangan Letusan Merapi

Burung Pipit Loyo, Ikan Mati

- detikNews
Kamis, 27 Apr 2006 15:40 WIB
Jakarta - Hujan abu akibat letusan gunung Merapi tahun 1961 cukup dahsyat. Pepohonan, rumah, jalan, dan lain-lain penuh dengan abu. Banyak juga burung pipit yang loyo, tidak bisa terbang. Sedangkan akibat lahar, banyak ikan di sungai yang mati. Demikian kisah yang disampaikan Umar Munadji dalam e-mail yang dikirimkan ke redaksi detikcom, Kamis (27/4/2006). Di tahun 1961, Munadji tinggal di Ngoman Kidul, Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, sekitar 15 km dari puncak Merapi. Munadji tidak ingat tanggal persis meletusnya Merapi saat itu. Namun, yang jelas, saat itu dirinya masih sekolah di kelas IV Sekolah Rakyat (sekarang SD-Red) Sriwedari, Kecamatan Muntilan. Saat itu, seperti biasa, dirinya pergi ke sekolah pagi-pagi sekitar pukul 06.30 WIB. Sesampai di sekolah, seperti biasa setelah menaruh buku di kelas, dirinya bermain bersama teman-teman. Namun, tidak lama kemudian, suasana tiba-tiba menjadi gelap dan makin gelap. Murid-murid disuruh masuk kelas oleh guru. Mengingat waktu itu di desa Sriwedari belum ada listrik, maka di kelas diberi penerangan lampu minyak. Namun, lampu minyak hanya bisa menerangi secara temaram, sehingga tidak bisa mendukung proses belajar mengajar. Para murid hanya mengobrol di dalam kelas dan dilarang keluar ruangan. Apa yang terjadi saat itu sebenarnya, Munadji dan kawan-kawannya belum mengetahui secara pasti. Warga yang memiliki radio juga sangat terbatas. Hanya saja, dari mulut ke mulut ada informasi bahwa gunung Merapi sedang meletus. Beberapa jam kemudian, cuaca mulai terang dan hujan abu sudah reda. Para murid pun dipersilakan pulang. Munadji dan teman-teman cukup senang, karena saat itu tidak ada pelajaran. Munadji dkk langsung pulang ke rumah. Di perjalanan ke rumah, Munadji melihat hampir semua benda dan tumbuhan tertutup oleh abu. Sambil bercanda dengan teman-teman, Munadji menggoyang setiap pohon kecil dengan tujuan agar abu yang menempel di daun berjatuhan. Dari sekian batang pohon yang digoyangkan, terdapat burung-burung kecil (burung pipit dan sejenisnya), tampak loyo. "Burung-burung itu tidak bisa terbang, langsung jatuh dan kami tangkap," ujar Munadji. Beberapa hari kemudian sungai Blongkeng, yang tidak jauh dari rumah Munadji, sekitar 300 meter, dibanjiri material dari letusan Merapi. "Akibatnya, ikan dan dan binatang air yang hidup di sungai tersebut mabuk dan mati," kata Munadji, yang saat ini tinggal di Jl. Margonda Raya, Depok ini. Setiap terjadi hujan di hulu sungai, terjadi banjir lahar dingin yang sangat besar dan merusak semua yang ada pinggir sungai. Banyak rumah yang berada di dekat sungai harus dipindahkan. Anehnya setiap banjir lahar datang, justru menjadi tontonan penduduk sekitar. Dari beberapa kali banjir lahan dingin tersebut, terjadi sekali atau dua kali air yang bercampur lahar yang masih mengeluarkan asap dan agak berbau seperti belerang. Selain itu, sungai Blongkeng yang tadinya hanya berlebar beberapa meter saja, setelah terjadi banjir lahar dingin selama beberapa tahun, ada bagian yang lebarnya mencapai 100 meter lebih. Sungai yang tadinya merupakan sumber air pertanian penduduk, sejak terjadi lahar dingin yang bertahun-tahun menjadi sulit untuk digunakan. Bahkan, pada musim kemarau panjang, sungai itu menjadi semacam padang pasir yang sangat luas, karena hanya berupa hamparan pasir dan batu-batu besar. Kejadian banjir lahar dingin tersebut sempat memutuskan jalan raya yang menghubungkan Magelang-Yogyakarta berkali-kali. Namun setelah beberapa tahun kemudian, aliran air mulai normal kembali. Justru sungai yang penuh pasir dan batu tersebut menjadi sumber mata pencaharian dari beberapa penduduk sekitar dengan menambang pasir dan batu untuk dijual. Sampai sekarang pasir dari gunung Merapi sangat terkenal.Bagi Anda, para pembaca detikcom, yang mempunyai kisah-kisah mengenai letusan Merapi di masa lampau, bisa berbagi cerita kepada redaksi. Kirimkan saja kisah Anda melalui e-mail: redaksi@staff.detik.com. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads