Mbah Minto Bela Diri Malah Dituntut 2 Tahun Bui, Ahli: Hukum Jungkir Balik

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 01 Des 2021 09:59 WIB
Mbah Minto yang ditahan polisi gegara menyergap dan menganiaya pencuri ikan di Demak, Kamis (14/10/2021).
Mbah Minto ditahan karena membela diri saat diserang pencuri. (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Ahli hukum pidana, Suparji Ahmad, prihatin terkait tuntutan yang dilayangkan jaksa penuntut umum (JPU) terhadap Mbah Minto. Adapun Mbah Minto diperkarakan karena membela diri saat hendak menangkap pencuri dengan membacok seorang pria yang diduga hendak mencuri ikan.

"Tuntutan jaksa memang patut dihormati. Namun di sisi lain hal itu mengusik rasa keadilan masyarakat, karena seharusnya JPU mempertimbangkan banyak hal. Tidak hanya berfokus pada pihak yang dilukai Mbah Minto," kata Suparji kepada detikcom, Rabu (1/12/2021).

Ketika tindak pidana terjadi, sangat memungkinkan bahwa pelaku tidak memiliki niat jahat. Suparji mencontohkan ketika seseorang melakukan pembelaan diri. Dalam kondisi tersebut, bisa jadi seseorang melakukan tindakan di luar batas.

"Dan tindakan tersebut bisa menjadi alasan pembenar karena ia ingin membela diri. Seharusnya, jaksa mempertimbangkan bahwa tindakan Mbah Minto merupakan reaksi dari tindakan pencurian. Terlebih, menurut pengakuan Mbah Minto, ia sempat disetrum," paparnya.

Maka, dalam memberikan tuntutan tidak bisa menggunakan 'kacamata kuda'. Sebuah peristiwa pidana harus dilihat secara menyeluruh, tidak bisa hanya separuh dari sisi korban. Bila hanya satu sisi, sangat dimungkinkan penegakan hukum tidak dimungkinkan.

"Tuntutan ini juga menjadi preseden buruk dalam penegakan hukum ke depan. Sebab, seseorang yang ingin membela diri khawatir jika nantinya malah diperkarakan. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah yang dialami Mbah Minto," ulasnya.

Nantinya, ia berharap majelis hakim mampu memberi vonis yang objektif, progresif, dan mencerminkan keadilan. Sebab, membela diri (noodweer) pun dimungkinkan berdasarkan KUHP. Jangan sampai orang yang niatnya membela diri, hanya karena melukai, lantas dipidana.

"Hukumnya malah jungkir balik nanti. Yang ingin membela dipenjara, yang melakukan pidana bisa bersuka-ria. Ini sangat tidak kita harapkan," beber Suparji.

"Semoga hakim bisa progresif dalam memutus perkara ini sehingga terwujud keadilan yang objektif," pungkas Suparji.