Pemuda Muhammadiyah: Reuni 212 untuk Umat atau Tujuan Politik?

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Senin, 29 Nov 2021 15:36 WIB
(kiri) Ketua Perkumpulan Kader Bangsa Dimas Oki Nugroho dan  Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Cak Nanto berbicara saat berlangsungnya diskusi literasi politik seri ke 2 dengan tema Proyeksi Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia pada Pemerintahan Jokowi-Maaruf Amin yang berlangsung di  PP Pemuda Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (18/10/2019). Menurut para pembicara, pada pemerintahan kedua Jokowi mendatang ada baiknya diisi dengan penggabungan antara profesional partai politik dan anak muda di berikan ruang sebesarnya untuk bersama memajukan bangsa.
Sunarto (tengah) (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Sunarto mendukung agar Reuni 212 digelar secara virtual. Sunarto lalu mempertanyakan tujuan dari Reuni 212 itu.

"Sebagai hak konstitusional diperbolehkan, sah-sah saja, tapi kan perlu dipertimbangkan dengan kondisi seperti ini malah berakibat pada hal-hal yang fatal. Kalau niatnya baik berdampak keburukan kan perlu dipertimbangkan," kata Sunarto kepada wartawan, Senin (29/11/2021).

Sunarto mengatakan banyak model dakwah yang perlu dilakukan. Sunarto pun mempertanyakan tujuan acara Reuni 212.

"Oleh sebab itu, tentu banyak model dakwah yang perlu dilakukan, artinya Reuni ini apakah benar-benar untuk kepentingan umat Islam atau hanya kepentingan kelompok tertentu untuk tujuan politik? Saya kira itu yang perlu dihindari," kata dia.

Sunarto menilai pergelaran Reuni 212 yang mengumpulkan massa perlu dipertimbangkan. Dia berharap agar mengedepankan kemaslahatan umat.

"Apalagi di masa seperti ini, kan untuk kemaslahatan. Kalau dalam keadaan normal ya sah-sah saja, tapi kalau dalam kondisi ini perlu dipertimbangkan guna untuk kemaslahatan umat manusia. Apalagi hanya sekadar reuni," jelasnya.

Dukung Reuni 212 Secara Virtual

Sunarto mendukung Reuni 212 digelar secara virtual. Menurutnya, pergelaran reuni secara virtual tidak mengurangi makna dari Reuni 212 itu sendiri.

"Mungkin pakai model apa, webinar kek, apa kek, tapi pada kondisi untuk melakukan perekatan. Tapi isi reuni itu sekali lagi itu bagaimana saling menguatkan sebagai satuan kebangsaan kita, jadi nilai keislaman yang disebar dalam konteks itu bukan untuk malah membuat kegaduhan baru bahkan malah membuat langkah mundur terhadap kemajuan bangsa," sebut dia.

"Secara virtual dulu, karena kondisinya belum memungkinkan untuk melakukan banyak aktivitas, karena sudah ada larangan, belum ada pelonggaran secara umum seperti biasanya," lanjutnya.

Simak video 'Ini Syarat yang Harus Dipenuhi Panitia Reuni 212':

[Gambas:Video 20detik]