Geger Varian Omicron, Ahli Sarankan RI Perkuat Pembatasan-Vaksinasi

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 28 Nov 2021 11:02 WIB
WHO beri nama Omicron untuk varian baru virus corona di Afsel yang bermutasi sangat cepat
WHO memberi nama Omicron untuk varian baru virus Corona di Afsel 'yang bermutasi sangat cepat'. (BBC World)
Jakarta -

Sejumlah negara ramai-ramai menutup pintu untuk traveler dari Afrika gegara virus Corona varian Omicron. Apakah Indonesia perlu melakukan hal yang sama?

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa memblokade Afrika yang menjadi tempat menyebarnya Omicron tidaklah efektif. Sebab, hal ini hanya menunda waktu penyebaran.

"Memblokade itu terbukti nggak efektif ya. Hanya menunda atau buying time saja. Karena secara ilmiah yang bisa mencegah varian baru itu pengetatan atau screening di pintu masuk negara dengan karantina yang efektif. Dan harus dilakukan konsisten," kata Dicky saat dihubungi, Minggu (28/11/2021).

Upaya blokade ini tidak efektif karena dilakukan ketika varian Omicron baru terdeteksi.

"Sejak awal harusnya merespons. Saat sudah ada dideteksi varian itu ya sudah telat," ungkapnya.

Dicky mendorong agar pemerintah juga melakukan penguatan sistem pencegah dari dalam. Selain itu, dibutuhkan pembatasan.

"Penguatan sistem di dalam yang kuat. 3 T (testing, tracing, dan treatment) dan vaksinasi. Ini butuh kolaborasi. Yang harus dilakukan adalah respons pembatasan," ujarnya.

Simak video 'Varian Omicron 5 Kali Lipat Lebih Cepat Menular Dibanding Delta':

[Gambas:Video 20detik]