Lawan Varian Omicron, Israel Pakai Teknologi Pelacakan Kontra-Terorisme

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 28 Nov 2021 10:42 WIB
An Ultra-Orthodox Jewish man, wearing a surgical mask due to the COVID-19 coronavirus pandemic, walks past Israeli flags set up in front of a shop ahead of Israels independence day due later in the week, in the centre of Jerusalem, on April 23, 2020. - Israel will celebrate its 72nd Independence Day on April 28-29 under novel coronavirus regulations, with official events and public celebrations cancelled. Israelis are required to wear faces masks when venturing outside in accordance to a governmental directive in order to combat the spread of COVID-19. (Photo by Emmanuel DUNAND / AFP)
Ilustrasi (Foto: AFP/EMMANUEL DUNAND)
Jakarta -

Israel akan menggunakan teknologi pelacakan telepon kontra-terorisme guna mencegah penyebaran varian baru Omicron. Negara itu juga akan memberlakukan larangan masuk bagi seluruh warga negara asing ke negaranya.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (28/11/2021) dalam pernyataan yang disampaikan pada Sabtu (27/11) waktu setempat, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menyampaikan pihaknya akan menahan penyebaran varian Omicron dengan menggunakan teknologi pelacak terorisme.

"Teknologi pelacakan telepon agen kontra-terorisme Shin Bet akan digunakan untuk menemukan operator varian baru untuk mengekang transmisi ke orang lain," kata Bennett.

Diketahui pelacak telepon ini telah dipakai sejak Maret 2020 untuk mengidentifikasi virus COVID-19 -- meski sempat juga dihentikan. Teknologi pelacak ini mencocokkan lokasi pembawa virus dengan ponsel lain di dekatnya untuk mengetahui siapa saja yang memiliki kontak dengannya. Baru-baru ini, Mahkamah Agung Israel memutuskan untuk membatasi ruang lingkup penggunaannya setelah kelompok hak-hak sipil mengajukan keberatan atas masalah privasi.

Sementara itu, disebutkan larangan masuk seluruh WNA ke Israel, yang masih menunggu persetujuan pemerintah, akan berlangsung selama 14 hari. Diharapkan dalam 14 hari Israel akan mendapat lebih banyak informasi terkait efektifitas vaksin COVID-19 terhadap Omicron.

"Orang Israel yang memasuki negara ini, termasuk mereka yang divaksinasi, akan diminta untuk dikarantina," kata Bennett.

Larangan masuk akan berlaku mulai tengah malam antara hari Minggu dan Senin mendatang. Aturan ini diberlakukan setelah sebelumnya Israel melarang orang asing dari sebagian besar negara bagian Afrika masuk negaranya pada hari Jumat (26/11) lalu.

Secara terpisah dalam acara Meet the Press N12, Menteri Dalam Negeri Ayelet Shaked mengatakan bahwa "Hipotesis kerja kami adalah bahwa varian tersebut sudah ada di hampir setiap negara,". Untuk itu belum diketahui sejauh mana vaksin akan efektif melawan varian baru asal Afrika Selatan ini.

Simak video '5 Arahan WHO Usai Temuan Varian Baru Covid-19 Omicron':

[Gambas:Video 20detik]