Imigrasi Periksa Visa 6 WN China Penambang Emas Ilegal di Papua

ADVERTISEMENT

Imigrasi Periksa Visa 6 WN China Penambang Emas Ilegal di Papua

Zunita Putri - detikNews
Sabtu, 27 Nov 2021 12:46 WIB
6 WN China di Papua diamankan TNI (Antara Foto)
Enam WN China di Papua diamankan TNI. (Foto: dok. Antara Foto)
Jakarta -

Imigrasi mengatakan enam warga negara (WN) China yang melakukan aktivitas penambangan emas ilegal di Kabupaten Waropen, Papua, masuk Indonesia dengan menggunakan visa valid. Imigrasi saat ini mendalami visa tersebut.

"(Enam WN China) masuk Indonesia dengan menggunakan visa yang valid, tetapi apakah visa tersebut sesuai dengan kegiatan yang bersangkutan di Indonesia, itu yang masih dilakukan pendalaman oleh petugas Imigrasi," ujar Kasubag Humas Ditjen Imigrasi Kemenkumham Ahmad Nursaleh saat dimintai konfirmasi, Sabtu (27/11/2021).

Ahmad mengatakan saat ini mereka masih diperiksa di Imigrasi Biak. Mereka dibawa ke kantor Imigrasi Biak sejak Senin (22/11).

"Sampai saat ini masih dilakukan pemeriksaan di kantor Imigrasi Biak," jelas Ahmad.

Sebelumnya, enam WN China di Kabupaten Waropen, Papua, diamankan TNI. Seluruh WN China itu ternyata tidak memiliki dokumen paspor.

Dilansir dari Antara, keenam WN China itu diamankan di Kampung Sewa Distrik Wapoga, Kabupaten Waropen, Papua, pada Minggu (21/11). Mereka bernama Ge Junfeng (48), Lein Feng (37), Yan Gangping (41), Tan Liguo (54 ), Tan Lihua (58), dan Lu Huacheng (38).

Pengamanan ini berawal dari informasi dari seorang warga bahwa ada enam WN China yang melakukan aktivitas penambangan emas ilegal.

"Setelah personel Kodim turun langsung ke lapangan dan mendapatkan enam orang WNA, kemudian dilanjutkan pemeriksaan. Namun warga asing tersebut tidak dapat menunjukkan tanda pengenal maupun dokumen resmi (paspor) dari negara asalnya. Kemudian personel Kodim membawa para WNA untuk dimintai keterangan," ujar Komandan Kodim (Dandim) 1709/Yawa Letkol Inf Leon Pangaribuan dilansir dari Antara, Selasa (23/11).

"Dan baru saja memasuki hari ke-4 keberadaan mereka di Kampung Sewa, Distrik Wapoga, Kabupaten Waropen," katanya.

Selain tidak memiliki paspor, mereka tidak mengerti bahasa Indonesia.

(zap/jbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT