Program E-Parking Dongkrak PAD Kota Medan hingga 150%

Jihaan Khoirunnisa - detikNews
Sabtu, 27 Nov 2021 11:21 WIB
Kebijakan Wali Kota Medan Bobby Nasution menerapkan E-Parking berhasil meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Foto: Dok. Pemkot Medan
Jakarta -

Kebijakan Wali Kota Medan Bobby Nasution menerapkan E-Parking berhasil meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tercatat sudah terjadi kenaikan pendapatan hingga 150 persen atau mencapai Rp 200 juta, usai pemberlakuan E-Parking di 22 lokasi parkir.

Suami Ketua TP PKK Kota Medan Kahiyang Ayu tersebut mengatakan program E-Parkir bertujuan untuk memberikan pelayanan maksimal dan kenyamanan kepada pengguna jasa parkir.

"Penetapan tarif dalam parkir elektronik di tepi jalan ini bersifat flat. Sistem pembayarannya juga bisa dilakukan menggunakan QRIS maupun uang elektronik," kata Bobby dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/11/2021).

Ke depan, Bobby Nasution mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Medan melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Medan berencana akan menambah titik lokasi penerapan E-Parking

"Untuk mendukung kelancaran penerapannya, sosialisasi dan edukasi akan terus dilakukan kepada masyarakat. Sebab, perilaku dan kesiapan masyarakat yang sangat dibutuhkan untuk mendukung kelancarannya," tuturnya.

Di sisi lain, kebijakan penerapan E-Parking mendapat sambutan baik dari masyarakat. Hal ini terbukti ketika Bobby Nasution melakukan siaran langsung dengan salah satu stasiun televisi nasional di Jalan KH Zainul Arifin Medan, Jumat (12/11) lalu. Saat tengah menyusuri trotoar bersama host, Bobby Nasution sempat mendatangi seorang warga yang baru memarkirkan mobilnya. Dengan cekatan, seorang juru parkir pun mendekat dan kemudian menagih retribusi parkir.

Di kesempatan tersebut, orang nomor satu di Pemko Medan itu langsung bertanya kepada warga apakah sudah pernah melakukan pembayaran retribusi parkir secara elektronik. Ia pun mengaku belum pernah dan baru pertama kali melakukannya.

Bobby Nasution pun bertanya lebih suka membayar secara elektronik atau tunai. Dirinya pun mengungkapkan lebih senang membayarnya secara elektronik, karena cepat dan dapat mencegah juru parkir menaikkan tarif sesuka hati.

Kebijakan dalam menerapkan E-Parking juga dinilai baik dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (FEB USU) Wahyu Ario Pratomo. Menurutnya, dengan E-Parking menjadi lebih transparan, karena langsung ditransfer ke kas daerah.

Meski tidak menutup adanya kebocoran, namun Wahyu menyebut tingkat kebocorannya lebih kecil dibandingkan kalau dipungut secara langsung atau metode konvensional.

"Retribusi parkir sebenarnya memiliki kontribusi besar bagi PAD Kota Medan, mengingat jumlah kendaraan di Kota Medan yang cukup banyak. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperoleh dari Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara, ada sekitar 275 ribu kenderaan yang terdaftar di UPT Samsat Kota Medan. Kondisi ini menunjukkan potensi PAD dari retribusi parkir cukup besar," jelas Wahyu

"Dengan E-Parking segalanya jadi transparan, karena langsung ditransfer ke kas daerah," lanjutnya.

Diakui Wahyu, masyarakat memahami tanggung jawabnya untuk membayar retribusi parkir, karena selama ini sudah berlangsung di banyak tempat di Kota Medan dan pembayarannya juga sesuai dengan ketentuan. Bahkan terkadang, banyak warga yang membayar lebih kepada petugas parkir yang kemudian dianggap sebagai sedekah.

"Tentunya dengan adanya E-Parking ini, masyarakat akan lebih senang, karena sudah jelas biaya parkir yang sebenarnya. Disamping itu, tidak perlu repot menyiapkan uang nominal kecil seperti Rp2.000 atau Rp3.000 yang mungkin pada saat tertentu tidak dimiliki oleh masyarakat, sehingga tak jarang kemudian memberikan uang parkir yang lebih dari seharusnya. Dengan E-Parking, masyarakat menjadi terbantu karena membayar dengan transaksi non-tunai sudah menjadi gaya hidup yang baru dan sangat praktis," paparnya.

Oleh karena itu, dia menilai langkah penerapan E-Parking di Kota Medan sudah tepat dan sepantasnya diterapkan di Kota Medan yang telah menjadi kota metropolitan. Untuk itu, dia menyarankan agar Pemkot Medan dapat memperluas lagi cakupan wilayah E-Parking agar masyarakat semakin mudah untuk melakukan transaksi pembayaran retribusi parkir.

Wahyu juga mendorong peningkatan penerimaan retribusi parkir dilakukan dengan 2 cara, yaitu ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi retribusi parkir dilakukan dengan cara memperluas wilayah cakupan pemberlakuan E-Parking. Sedangkan intensifikasi dapat dilakukan melalui pemberlakuan tarif berdasarkan jam seperti halnya di mal.

"Jadi setiap mobil atau kendaraan yang parkir, dikenakan biaya berdasarkan berapa lama sudah parkir di tempat tersebut. Berarti setiap pengendara melakukan dua kali scan, yaitu scan pada waktu mulai parkir dan scan pada akhir parkir sehingga terukur berapa lama waktu parkirnya," jelasnya.

Wahyu menjelaskan, hal serupa sebenarnya sudah berlaku di beberapa kota di dunia. Itu dilakukan untuk mengurangi volume kenderaan yang masuk di jalan-jalan utama guna mengatasi terjadinya kemacetan. Dengan penerapan tarif parkir progresif tersebut,maka volume kendaraan yang parkir di tempat tersebut menjadi dapat dikendalikan.

Selain parkir, lanjut Wahyu, sebenarnya Pemkot Medan dapat memberlakukan retribusi yang lain juga secara online. Misalnya untuk retribusi pasar dan sampah yang masih dipungut secara konvensional.

"Dengan memberlakukan secara elektronik, maka PAD dari retribusi pasar dan sampah diyakini juga akan mengalami peningkatan. Pemko Medan harus berani mengambil tindakan tegas untuk mengoptimalkan PAD dan mengurangi kebocoran," pungkasnya.

(akn/ega)