Balas-balasan Mahfud vs Tifatul di Twitter soal 'Fatwa MUI Tak Wajib Diikuti'

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 26 Nov 2021 10:44 WIB
Logo MUI
Ilustrasi MUI (Foto: detikINET/Agus Tri Haryanto)

Cuitan Mahfud itu kemudian dijawab lagi oleh Tifatul. Dia mengatakan orang yang bertanya tentang sesuatu kepada ulama harus mengikuti fatwa yang dikeluarkan ulama untuk menjawab pertanyaan itu.

"Maaf Prof, fatwa itu dikeluarkan ulama kan jika ada yang bertanya tentang suatu masalah agama. Lalu dijawab, tentu yang bertanya harus ikuti itu. Setuju, pendapat ulama itu beda-beda. Silakan minta fatwa kepada ulama yang diyakini. Lalu ikuti. Sesuai perintah Al-Qur'an. Wallahu Alam bisshowwab," ujar Tifatul.

Mahfud kemudian membalas lagi ucapan Tifatul tersebut. Mahfud mengaku setuju dengan pendapat Tifatul soal fatwa mesti diikuti, namun bukan secara yuridis.

"Setuju, Ustaz Tif. Secara etis (bukan secara yuridis) jika minta fatwa mestinya fatwanya diikuti. Tapi itu etis saja, tidak harus. Selain itu, banyak fatwa MUI, NU, Muhammadiyah, dan lain-lain yang dikeluarkan bukan karena ditanya tapi hanya merespons kontroversi di publik. Misal soal Porkas dan memilih pemimpin," ujar Mahfud.

"Prof Atho' Mudzhar dulu menulis disertasi (sudah dibukukan) tentang fatwa MUI. Setelah Nabi wafat, para sahabat Nabi dulu jika dimintai fatwa saling tunjuk untuk menjawab. A menunjuk B terus ke C, D, terus menghindar dan saling tunjuk hingga akhirnya kembali ke A lagi. Banyak pesan dari ibrah ini," sambung Mahfud.

Cuitan ini dibalas lagi oleh Tifatul. Politikus PKS ini mengaku membiasakan diri patuh terhadap ulama.

"Muwaffaq Prof. Poin saya lebih kepada membiasakan nunut ulama. Mohon maaf, semoga berkenan. Semoga Allah karuniai kesehatan, Prof," cuitnya.

Mahfud pun mengaku berkenan dengan pendapat Tifatul tersebut. Dia mengatakan perdebatan antara dirinya dengan Tifatul memberi pemahaman ke masyarakat. Mahfud menutup perdebatan soal fatwa MUI ini dengan pantun.

"Saya berkenan dan suka, Ustaz Tif. Diskusi kita memberi pemahaman kepada masyarakat tapi tidak dengan cara menggurui. Cari parkiran muter-muter, tomat dimakan bersama sate, tukar pikiran lewat Twitter, Umat paham tanpa merasa didikte. Wajah dengan air mata bahagia, tertawa berguling di lantai, pantun saya benarkah Salami alaik," tulis Mahfud dengan emoji tertawa dan tangan terlipat.


(haf/imk)