Sederet Program Kominfo untuk Cegah Penyalahgunaan Ruang Digital

Erika Dyah - detikNews
Kamis, 25 Nov 2021 10:12 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate
Foto: Kemkominfo

Talenta dan Pemimpin Digital

Johnny mengatakan selain mengejar target kecakapan digital di tingkat dasar, Kementerian Kominfo juga menyiapkan kebutuhan talenta digital tingkat menengah, yakni intermediate digital skills, melalui Program Digital Talent Scholarship (DTS).

"Untuk kebutuhan-kebutuhan cloud computing, untuk kebutuhan big data, artificial intelligence, internet of thing, virtual reality, augmented reality, dan lain sebagainya yang dibutuhkan oleh tenaga-tenaga tingkat menengah," sebutnya.

Ia menerangkan pihaknya telah merekrut 100 ribu peserta per tahun dalam program yang ditujukan untuk membentuk intermediate digital skills ini. Bahkan, di tahun 2022, 200 ribu orang dari kaum milenial menjadi target sasaran peserta program ini.

"Untuk para milenial Indonesia, anak-anak kita tamatan sekolah menengah atas atau yang sederajat dan para sarjana-sarjana baru untuk mengambil bagian ini. Kegiatan ini melibatkan lebih dari 100 perguruan tinggi, melibatkan seluruh pemerintahan provinsi dan daerah agar anak-anak kita nanti juga menguasai internet skills," tutur Johnny.

Lebih lanjut, selain di tingkat dasar dan menengah, Johnny menegaskan bahwa kecakapan digital juga diperlukan di tingkat atas atau advance skills yang diinisiasi melalui Program Digital Leadership Academy (DLA).

"Kita menyiapkan juga program pelatihan Digital Leadership Academy untuk memastikan tersedianya kemahiran pemimpin digital dan menghasilkan digital policy, baik di sektor pemerintahan maupun di sektor privat," paparnya.

Ia mengatakan Program DLA tahun 2021 yang menargetkan 300 peserta itu telah bekerja sama dengan empat perguruan tinggi ternama di dunia, seperti National University of Singapore, Tsinghua University, University of Oxford, dan Harvard Kennedy School.

"Ini semua yang kita lakukan untuk menghasilkan dan menciptakan digital talent di Indonesia, apakah itu cukup? Belum cukup. Kebutuhan masih perlu agar seluruh ekosistem ikut bersama-sama," imbuhnya.

Sebagai informasi, kegiatan Ngobral Series ini juga dihadiri oleh Founder Institute of Social Economic, Digital Mayjen TNI (Purn) Manila dan Founder ISED, Sri Adiningsih, Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol. Dedi Prasetyo, CEO of Trans TV dan Trans 7, Atiek Nur Wahyudi, Wakil Ketua Bidang Humas AFPI dan CEO Mekar, Pandu Kristy, serta Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi.


(ncm/ega)