AP I Ungkap Sebab Sekuriti Bandara Bali Bertato-Tindik Terancam Putus Kontrak

Sui Suadnyana - detikNews
Rabu, 24 Nov 2021 13:43 WIB
Calon penumpang pesawat udara menunggu jadwal keberangkatan di Terminal Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Sabtu (21/8/2021). Menurut pengelola bandara tersebut, terjadi peningkatan jumlah rata-rata penumpang harian sekitar 10-15 persen setelah pemberlakuan aturan syarat perjalanan antar Pulau Jawa-Bali yang bisa menggunakan hasil tes COVID-19 berbasis Antigen bagi penumpang yang telah menerima vaksin COVID-19 dosis lengkap dan diprediksikan jumlah tersebut akan terus meningkat dengan turunnya tarif tes COVID-19 berbasis Polymerase Chain Reaction (PCR). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/rwa.
Foto: Ilustrasi Bandara Bali. (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)
Denpasar -

PT Angkasa Pura I Cabang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, menjelaskan sebab sekuriti terancam putus kontrak. Selain karena tidak bertato dan bertindik menjadi syarat tes ulang pekerja, manajemen Bandara akan mengevaluasi kebutuhan tenaga penunjang.

"Dalam hal ini perlu untuk kami sampaikan penjelasan bahwa yang dilaksanakan adalah evaluasi terhadap kebutuhan tenaga penunjang di seluruh bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura I, termasuk Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali," kata General Manager Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali Herry AY Sikado dalam keterangan resmi, Rabu (24/11/2021).

Herry mengatakan, evaluasi kebutuhan tenaga kerja dilakukan akibat terjadinya penurunan trafik penumpang yang sangat drastis, yaitu turun lebih dari 50 persen dibanding sebelum pandemi. Hingga kini masih belum ada kepastian pemulihan trafik penumpang, termasuk untuk trafik internasional.

"Berdasarkan hasil evaluasi kebutuhan tenaga penunjang tersebut, dipandang perlu untuk meninjau kembali jumlah kebutuhan tenaga penunjang yang disesuaikan kondisi menurunnya trafik tersebut," terang Herry.

Menurut Herry, pihaknya di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, turut melakukan penyesuaian kegiatan operasional melalui pengurangan area operasi di terminal penumpang hingga penyesuaian waktu kerja dan jumlah tenaga operasional.

"Penyesuaian area dan tenaga operasional bandara perlu dilakukan untuk dapat mempertahankan likuiditas perusahaan yang tengah mendapat tekanan akibat turunnya trafik penerbangan karena pandemi," jelasnya.

Karena itu, pihaknya akan melakukan seleksi kembali terhadap tenaga penunjang yang sudah habis masa kontrak kerjanya pada Desember 2021 berdasarkan kualifikasi yang dibutuhkan.

"Apabila kebutuhan operasional sudah mulai meningkat dan kondisi perusahaan sudah mulai membaik, mereka yang tidak lolos seleksi saat ini bisa menjadi prioritas dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan dan ketentuan yang berlaku," tambahnya.

Kemudian berkaitan dengan isu sekuriti yang bertato dan bertindik, Herry menjelaskan syarat seleksi tersebut bukan merupakan persyaratan baru yang ditujukan untuk mengurangi tenaga penunjang. Herry menyebut hal tersebut merupakan persyaratan yang sudah berlaku sejak lama di lingkungan AP I.

"Namun dengan mempertimbangkan adat istiadat daerah setempat. Terhadap tenaga penunjang yang akan diperpanjang yang saat ini memiliki tato/tindik yang merupakan bagian dari budaya masyarakat, sepanjang masih dalam batas kewajaran, tetap dapat mengikuti proses seleksi sesuai ketentuan," ungkap Herry.

Herry menegaskan pihaknya di AP I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, tengah berupaya bertahan pada situasi sulit akibat tekanan pandemi yang berlangsung hampir dua tahun. Hingga kini kondisi pandemi belum dapat dipastikan kapan berakhir.

Karena itu, perusahaan harus melakukan berbagai penyesuaian di berbagai aspek akibat kondisi pandemi yang menekan kinerja keuangan, termasuk melakukan rasionalisasi atau evaluasi kebutuhan tenaga penunjang operasional di bawah pengelolaan PT Angkasa Pura Supports.

"Hal ini harus kami lakukan agar perusahaan dapat bertahan di tengah gempuran dampak pandemi," paparnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Angkasa Pura Supports Desy Sulistiorini mengatakan pihaknya selaku penyedia tenaga penunjang bagi kegiatan operasional AP I telah mengkomunikasikan kondisi ini kepada seluruh tenaga penunjang terkait. Menurutnya, adanya seleksi kembali tenaga penunjang tersebut disesuaikan dengan kebutuhan operasional dari AP I untuk kondisi saat ini.

"Seluruh kewajiban bagi tenaga penunjang yang tidak diperpanjang kontraknya diberikan oleh perusahaan sesuai dengan ketentuan," tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, 300 sekuriti Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali mengaku terancam dipecat karena memiliki tato dan tindik. Mereka menyebut PT Angkasa Pura Supports telah melarang dan akan memberhentikan sekuriti yang memiliki tato dan tindik.

Perwakilan dari sekuriti, Wayan Suatrawan dan Agus Amik Santosa, mengkoordinasi teman-temannya sesama sekuriti di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai untuk mengadukan nasibnya ke anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali I Nyoman Parta.

"Kalau saya sekarang yang bisa saya kumpulkan, artinya yang satu visi dan misi kira-kira 130 (orang). Tapi rencana perusahaan itu ada efisiensi hampir 300-an," kata Agus Amik Santosa saat dimintai konfirmasi detikcom, Selasa (23/11).

Tonton juga Video: Cerita Sudrajat, Kuli yang Dipecat Sekuriti Gegara Tak Pakai Masker

[Gambas:Video 20detik]



(nvl/nvl)