Suara Mahasiswa

BEM UI dan Mahasiswa Lintas Negara: COP26 Panggung Sandiwara-Lip Service

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 24 Nov 2021 01:07 WIB
COP26: Para Pemimpin Dunia Desak Aksi Nyata Lawan Perubahan Iklim
Foto ilustrasi: COP26 (DW News)
Jakarta -

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dan mahasiswa lintas negara mengkritik COP26. Gelaran internasional untuk menanggulangi perubahan iklim dunia itu dikritik habis-habisan.

"COP26, layaknya konvensi-konvensi internasional lainnya, cenderung menjadi panggung sandiwara politik berskala internasional. Banyak komitmen dan janji yang dilontarkan para elite tidak lain hanya menjadi lip service semata. Solusi yang terucap dari mulut para pemimpin dunia tak ubahnya racun mematikan yang hanya manis di bibir saja, tetapi dalam pelaksanaannya bertentangan dengan semangat perlindungan lingkungan," demikian bunyi siaran pers BEM UI dan mahasiswa lintas negara, disampaikan Ketua BEM UI Leon Alvinda Putra, Selasa (23/11/2021).

BEM UI bersama Greenpeace Indonesia dan 350.org Indonesia menggelar mimbar bebas internasional via Zoom, berjudul 'Conference of Students: Response of COP26', pada 20 November lalu. Acara dipandu Kepala Tim Satuan Pengendali Internal BEM UI 2021, Errdiansha Ibaraki dan Wakil Kepala Biro Hubungan Masyarakat BEM UI 2021, Filda Auliasyifa. Hadir perwakilan lebih dari 70 organisasi dari Malaysia, Singapura, Australia, dan Inggris.

Mereka mengkritik konsep carbon offset yakni semacam kompensasi atas pengeluaran kabon dioksida suatu negara dengan cara menanam pohon (hutan) di tempat lain. Carbon offseting adalah konsep pelunasan atas hutang kerusakan alam yang diperbuat di suatu tempat dan dibayar di tempat lain. Konsep carbon offsetting diangkat sebagai solusi oleh COP26.

"Carbon offsetting justru tetap melanggengkan praktik-praktik deforestasi. Deforestasi dilegalkan selama sang perambah hutan, entah itu negara maupun korporasi, mampu membayar kerugian yang timbul akibat tindakannya," kata BEM UI dkk dalam keterangan persnya.

Dalam mimbar bebas, masing-masing perwakilan menyuarakan aspirasinya. Berikut adalah suara mereka:

"Krisis iklim tidak pernah menjadi masalah satu negara. COP26 telah membuat mahasiswa dan generasi muda bersatu untuk menciptakan kekuatan mengatasi krisis iklim," kata Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI 2021, Ginanjar Ariyasuta.

"Kita butuh alternatif COP26 karena COP26 tidak akan menyelesaikan krisis iklim dengan cukup cepat atau melindungi masyarakat terdepan yang sudah terkena dampak hari ini, dan alternatif ini harus bisa mengguncang, harus datang dari orang-orang dan kami tidak akan main-main, dan tidak membiarkan 10 COP26 berikutnya menentukan nasib kita," kata perwakilan dari Klima Action Malaysia, Aroe Ajoeni.

"Sekarang saya meminta dari hati saya yang paling dalam untuk bertindak dan menyelamatkan negara ini sekarang. Karena jika tidak, demi Tuhan, Anda akan diingat terus oleh generasi mendatang dan mereka tidak akan pernah memaafkan Anda," kata Kepala Departemen Pengabdian Masyarakat BEM FH UI, Timothy Sambuaga.

"Kita (pemerintah) bisa menerapkan kode etik yang fokus pada pengelolaan limbah yang harus diterapkan di semua perusahaan dan memberikan sanksi bagi yang melanggar berupa pencabutan izin," kata Naufal Syihab dari BEM SI.

"Jika kita bekerja sama, kita bakal punya kekuatan yang luar biasa dan menunjukkan bahwa bukan hanya orang Barat yang dapat melakukan banyak hal," kata Mia Clement dari Oxford Climate Society.

"Kita harus mengakui tanggung jawab global yang berkontribusi terhadap krisis iklim saat ini," kata John Ng dari Singapore Climate Rally.

"Ketika yang terkaya di dunia adalah orang-orang yang menentukan kelangsungan hidup umat manusia. Ribuan aktivis iklim, terutama mereka yang masih muda dan dari belahan dunia selatan tidak dapat hadir karena biaya yang tinggi, meninggalkan suara melibatkan orang-orang yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim," kata mahasiswi dari Monash University yang mewakili GreenWelfare.id, Fiza Khan.

"Sungguh mengecewakan melihat bahwa COP26 tidak benar-benar mengakhiri eksploitasi yang sangat mempengaruhi bumi kita. Berbagai kesepakatan dan poin-poin penting yang diambil selama konferensi bertentangan dan tidak konsisten dengan gagasan utama memerangi perubahan iklim. Oleh karena itu, banyak organisasi dan gerakan melihat COP26 sebagai drama belaka di antara para pemimpin dan solusi yang salah untuk krisis iklim," kata Ketua BEM UI 2021, Leon Alvinda Putra, membacakan pernyataan bersama dari semua organisasi yang terlibat acara.

(dnu/dnu)