Merasa Anaknya Korban Salah Tangkap, 3 Ibu di Sumsel Melapor ke Propam

M Syahbana - detikNews
Selasa, 23 Nov 2021 12:27 WIB
Tiga ibu di Sumsel melapor ke Propam Polda Sumsel (Syahbana-detikcom)
Tiga ibu di Sumsel melapor ke Propam Polda Sumsel (Syahbana/detikcom)
Palembang -

Tiga wanita di Palembang mendatangi Propam Polda Sumsel karena merasa anak mereka menjadi korban salah tangkap dan diduga dianiaya polisi. Wakapolda Sumsel Brigjen Rudi Setiawan mengatakan pihaknya bakal mengecek laporan itu.

"Kami akan cari tahu dulu terkait kejadian ini," kata Rudi kepada wartawan, Selasa (23/11/2021).

Salah satu pelapor, Ningsih (47), mengatakan anaknya, Sendi Setiawan (20), ditangkap polisi. Ningsih menyakini anaknya yang ditangkap polisi dalam kasus pengeroyokan itu tidak bersalah.

Dia mengatakan Sendy ditangkap polisi bersama empat rekannya, yakni Rido Agustian (19), Purnama (20), Revan (19), dan Farhan (18). Dia menyebut anaknya berada di rumah saat pengeroyokan terjadi.

"Jelas-jelas anak saya ada di rumah waktu pengeroyokan itu terjadi. Tapi kok malah anak saya yang dijemput polisi," kata Negsih.

Dia mengatakan pengeroyokan yang dituduhkan dilakukan anaknya itu terjadi di kawasan Sukamaju, Sako, Palembang, pada Minggu (3/10). Korban pengeroyokan ini disebut bernama Tivan Simanjuntak (33).

"Anak saya berada di rumah mulai pukul 02.00 WIB sampai pagi hari, sedangkan pengeroyokan terjadi sekira pukul 04.30 WIB. Sedangkan saat itu saya menunggu air PDAM dan anak saya lagi tidur, karena besok dia harus bekerja," ujarnya.

Dia mengatakan anaknya ditangkap polisi tiga hari setelah pengeroyokan itu terjadi. Dia menyebut anaknya mengalami penganiayaan saat penangkapan. Hal itu, katanya, diketahui dari unggahan salah satu akun media sosial.

"Video rekaman video itu saat ini sudah tidak ada lagi, sudah dihapus oleh pemilik akun. Tapi, kita sempat mengambil video yang pernah diviralkan itu. Dalam video itu, anak saya memang mengaku (ikut mengeroyok korban). Tapi pengakuan itu karena dia dipaksa. Anak saya dipukuli, bahkan diancam ditembak kalau tak mau mengaku. Namanya anak, kisaran 18-20 tahun, pasti takut dapat ancaman seperti itu," ujarnya.

Dia juga mengaku melihat ada memar di bagian mata anaknya. Dia mengaku sakit hati atas dugaan salah tangkap dan penganiayaan itu.

"Di sana saya lihat anak saya memar di mata, terus ulu hatinya juga dipukul. Sakit hati saya melihat anak saya yang tidak bersalah tapi justru dapat perlakuan seperti itu," tuturnya.

Ibu Rido Agustian, Santi (38), juga mengatakan anaknya merupakan korban salah tangkap. Dia juga juga membuat laporan ke Propam Polda Sumsel.

"Tidak ada respons, kami merasa seperti diabaikan. Tidak tahu lagi, setelah ini kami akan melapor ke mana demi membela anak-anak kami. Kebebasan anak kami sudah terenggut. Kami ingin keadilan. Anak-anak kami tidak bersalah, kenapa harus dapat perlakuan seperti itu,"ujarnya.

(haf/idh)