Hitamnya Hitam

Obat yang Dipakai Si 'Malaikat Maut' Bunuh Pasiennya Dijual Bebas

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Minggu, 21 Nov 2021 17:19 WIB
Insulin Injection
Foto ilustrasi suntikan. (Getty Images)
Jakarta -

Stephan Letter 'si Malaikat Maut' membunuh para pasiennya saat bekerja sebagai perawat di Klinik Sonthofen, Jerman. Dia membunuh mereka dengan obat penenang dan pelemas otot yang dijual bebas.

Dikutip dari Murderpedia, Jumat (19/11/2021), Letter membunuh semua pasiennya saat sedang bekerja shift malam di Klinik Sonthofen antara Januari 2003 dan Juli 2004.

Dia mencampur obat pelemas otot dengan obat penenang untuk menghentikan fungsi pernapasan pasien. Usai menjalankan aksinya, dia memberi tahu para dokter tentang pasien yang meninggal itu. Sering kali, pada hari berikutnya, dia akan menghibur keluarga.

Kasus ini terbongkar ketika pada 10 Juli diketahui bahwa sejumlah besar obat penenang dan pelemas otot menghilang dari lemari bedah.

Andreas Ruland, direktur Klinik Sonthofe, mengatakan obat-obatan yang hilang tidak termasuk dalam undang-undang obat-obatan berbahaya (di Jerman) dan obat-obatan tersebut harus tersedia secara bebas untuk tenaga medis jika terjadi keadaan darurat.

Membunuh Tanpa Pandang Bulu

Jaksa penuntut mengatakan bahwa Stephan Letter dengan kejam mengakhiri hidup para pasiennya. Bahkan ketika sang pasien sedang dalam pemulihan. Ia juga sempat mencuri beberapa barang mereka.

"Dia bertindak relatif tanpa pandang bulu dan tanpa tujuan," kata Wilhelm Seitz, seorang pengacara yang mewakili kerabat dari 11 orang yang tewas, sebagai penggugat dalam kasus ini.

"Tidak semua pasien sakit parah dan dia tidak melakukan kontak sama sekali dengan beberapa dari mereka," lanjutnya.

Simak juga 'Lonjakan Kasus COVID-19 di Jerman, Merkel: Situasinya Sangat Dramatis':

[Gambas:Video 20detik]



Motif Letter

Sementara itu, Letter mengaku bahwa dia membunuh pasiennya karena kasihan. Maka dari itu, dia membunuh mereka agar mati lebih cepat.

Meskipun Letter diduga memiliki mental yang tidak stabil, pengadilan memvonisnya dengan hukuman penjara seumur hidup atas pembunuhan terhadap 29 pasiennya.

(rdp/tor)