ADVERTISEMENT

Semua Provinsi di Kalimantan Kebanjiran Hebat Selama 2021, Kaltim 2 Kali

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 16 Nov 2021 13:56 WIB
Jakarta -

Banjir di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, sudah berlangsung selama empat pekan. Tercatat, selama dari Januari hingga November, semua provinsi di Kalimantan sudah pernah mengalami banjir besar.

Berdasarkan catatan pemberitaan detikcom, banjir besar sudah melanda Kalimantan Selatan pada Januari 2021. Selanjutnya, pada Mei, Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur juga dilanda banjir besar.

Banjir juga melanda Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur pada September. Terbaru, banjir melanda Kalimantan Barat dan hingga kini belum juga surut.

Berikut ini daftar banjir-banjir besar yang melanda seluruh provinsi Kalimantan tahun ini:

1. Kalsel (Januari)

Banjir bandang merendam sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Januari lalu. Basarnas mengungkapkan ada 2.600 warga terdampak banjir yang mengungsi.

"Untuk banjir Kalsel, saat ini masih berlangsung proses evakuasi. Dan jumlah pengungsi saat ini berjumlah 2.600 orang," ujar Kepala Basarnas Marsma TNI Bagus Puruhito dalam jumpa pers di JICT II, Jumat (15/1/2021).

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menganalisis penyebab banjir yang merendam ribuan bangunan di Kalimantan Selatan itu. Hasil analisis itu menunjukkan adanya curah hujan tinggi dan turunnya lahan luas hutan primer.


Tim tanggap darurat bencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menganalisis penyebab banjir yang terjadi pada 12-13 Januari 2021 di Kalsel.

"Hasil analisa curah hujan dengan data satelit Himawari-8, menunjukkan liputan awan penghasil hujan terjadi sejak 12 Januari 2021 hingga 13 Januari 2021 dan masih berlangsung hingga tanggal 15 Januari 2021," kata Koordinator Humas Lapan Jasyanto, Selasa (19/1/2021).

"Curah hujan ini menjadi salah satu penyebab banjir yang melanda Provinsi Kalimantan Selatan pada tanggal 13 Januari 2021," lanjutnya.

Selain menganalisis cuaca dan daerah terdampak, Lapan menganalisis perubahan penutup lahan di DAS Barito sebagai respons terhadap bencana banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan.

Dia memaparkan bahwa analisis dilakukan menggunakan data mosaik Landsat untuk mendeteksi penutup lahan tahun 2010 dan 2020. Pengolahan data dilakukan secara digital menggunakan metode random forest sehingga mampu lebih cepat dalam menganalisis perubahan penutup lahan yang terjadi.

2. Kaltara (Mei)

Lima kecamatan di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), kebanjiran. Ratusan rumah yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia itu terendam banjir.

Anggota DPRD Kaltara, Yakup Palung, mengklaim banjir yang terjadi saat itu merupakan terbesar. Banjir terjadi akibat meluapnya dua sungai besar yang berhulu di Sarawak, Malaysia.

Kejadiannya mulai Kamis (20/5/2021) hingga saat ini akibat hujan deras masih mengguyur wilayah itu dan Sarawak Malaysia. Yakup membeberkan rumah warga yang terendam banjir tersebut letaknya tak jauh dari sungai yang meluap.

"Banjir kali ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah di Krayan," ucap Yakup seperti dilansir Antara, Jumat (21/5).

Rumah warga yang terendam di Kecamatan Krayan sebanyak 30-an unit, Kecamatan Krayan Barat 40-an unit, dan Krayan Tengah mencapai 20-an unit yang ditambah beberapa fasilitas umum lainnya.

3. Kaltim (Mei)

Banjir juga terjadi di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim), pada Mei. Di sana, banjir sudah terjadi lebih dari sepekan.

"Tingginya curah hujan di wilayah Kabupaten Kutai Timur mengakibatkan banjir sejak Rabu, 12 Mei 2021, hingga kini," ujar Tim Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur, Sukasno Haryanto, melalui keterangan tertulis.

Ada tujuh kecamatan yang dilanda banjir, yakni Kecamatan Muara Bangkal, Kecamatan Batu Ampar, Kecamatan Muara Ancalong, Kecamatan Long Masengat, Kecamatan Telen, Kecamatan Muara Wahau, dan Kecamatan Kombeng. Ketinggian air bervariasi, 30-100 cm.

Banjir telah berdampak pada 1.690 keluarga, merendam 690 rumah, 20 unit fasilitas umum, dan 203 hektare perkebunan. Pendataan masih terus dilakukan BPBD Kutim bersama beberapa pihak pemerintah kecamatan, lintas instansi terkait, dibantu TNI dan Polri.

4. Kalteng (September)

Sebanyak enam kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) ditetapkan status tanggap darurat bencana banjir. Saat ini banjir terjadi di 11 kabupaten/kota se-Kalteng.

Gubernur Kalteng Sugianto Sabran mengatakan enam kabupaten menetapkan status darurat bencana banjir, yaitu Kotawaringin Barat, Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Lamandau, dan Gunung Mas. Sedangkan Kabupaten Pulang Pisau dengan status siaga darurat bencana banjir.

"Kabupaten yang paling parah adalah Katingan, Kotawaringin Timur, dan Seruyan," jelas Gubernur Sugianto pada apel gelar personel dan sarana-prasarana penanganan darurat bencana banjir, seperti dilansir Antara, Kamis (9/9/2021).

Banjir di 11 kabupaten/kota se-Kalteng disebabkan peningkatan intensitas curah hujan yang terjadi mulai 21 Agustus 2021. Sedangkan masyarakat yang terkena dampak banjir sebanyak 29.885 keluarga dengan jumlah 57.117 jiwa.

5. Kaltim (Agustus)

Sejumlah kawasan permukiman di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), juga pernah terendam air pada Agustus lalu. Banjir di permukiman mencapai ketinggian sepinggang orang dewasa.

Pada Sabtu (28/8/2021) dini hari, hujan mengguyur dan mengakibatkan banjir mulai pukul 03.00 WIB. Akibat banjir ini, tim Basarnas dari Kantor SAR Balikpapan mengevakuasi satu keluarga yang rumahnya terendam cukup parah.

Ketinggian air mencapai 80-100 meter atau sepinggang orang dewasa, sehingga kegiatan warga sempat terhenti.

6. Kalbar (November)

Yang terbaru adalah banjir yang melanda Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Banjir ini sudah berlangsung selama empat pekan.

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, debit air telah turun 10-15 sentimeter pada Jumat (12/11). Sebanyak 12 kecamatan masih terdampak banjir karena meluapnya air Sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Binjai Hulu, Sintang, Sepauk, Tempunak, Ketungau Hilir, Dedai, Serawai, Ambalau, Sei Tebelian, dan Kelam Permai.

"Sampai hari ini, kondisi debit air turun yang terpantau di Sungai Kapuas dan Melawi," ujar petugas BPBD Kabupaten Sintang Fidelis Asdi dalam keterangannya, Sabtu (13/11/2021).

Situasi banjir masih menyebabkan korban banjir mengungsi di pos pengungsian. BPBD Sintang telah mengoperasikan lima pos lapangan untuk melayani kebutuhan dasar warga.

Kelima pos lapangan berada di kawasan Tugu Bambu, Pos Lantas, Media Center, Ujung Jembatan Kapuas dan Kantor Camat Sintang, sedangkan pos komando berada di Kantor BPBD Kabupaten Sintang. "Kami setiap hari melakukan pelayanan di pos lapangan," ujar Fidelis.

Sampai pada Sabtu (13/11) pukul 17.00 WIB, sebanyak 10.381 KK atau 33.221 jiwa masih mengungsi. Mereka berasal dari 9 kecamatan yang terdampak banjir sejak 21 Oktober 2021 lalu. Warga yang mengungsi tersebar di 32 pos pengungsian yang dioperasikan BPBD setempat.

Pos pengungsian tersebut didukung 24 dapur umum yang dioperasikan. Laporan BPBD menyebut, sejumlah pos pengungsian maupun dapur umum ini tersebar di 12 kecamatan, khususnya titik-titik yang aman dari genangan air. Sementara itu, jumlah populasi terdampak sebanyak 29.623 KK atau 88.148 jiwa.

Banjir di Sintang telah menelan dua orang korban jiwa, dan jembatan rusak berat sebanyak 5 unit, dan rusak sedang 1 unit. Pemerintah daerah pun telah melakukan perpanjangan status tanggap darurat untuk bencana banjir, angin puting beliung dan tanah longsor hingga 16 November 2021.

(rdp/tor)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT