Akhir Sengketa Kemhan Vs Angkasa Pura II soal Lahan Bandara Palembang

Andi Saputra - detikNews
Senin, 15 Nov 2021 10:55 WIB
Bandara Sutan Mahmud Badaruddin, Palembang dikepung asap.
Bandara SMB II Palembang (Hans Henricus/detikcom)

Jawaban Kemhan di Persidangan

Kemhan menyatakan dirinya lembaga yang berhak atas tana seluas 2 juta meter persegi itu dengan alasan:

1. Tanah Lanud Sri Mulyono Herlambang seluas 720 Ha adalah tanah negara dalam penguasaan Kementerian Pertahanan RI Cq. TNI Angkatan Udara Sri Mulyono Herlambang yang sudah tercatat dalam Inventaris Kekayaan Negara dengan Nomor Registrasi 5050900000001.

2. Lapangan terbang Talang Betutu, yang merupakan cikal bakal Pangkalan TNI AU Sri Mulyono Herlambang, pada masa pendudukan Belanda ataupun Jepang merupakan salah satu dari beberapa lapangan terbang yang terdapat di Provinsi Sumatera Selatan. Lapangan terbang ini dahulunya berfungsi sebagai pangkalan pesawat-pesawat tempur dan markas pasukan Jepang sehingga di sekitarnya banyak terdapat bangunan tempat perlindungan yang digunakan untuk pertahanan atas pendudukan tentara-tentara Belanda ataupun Jepang di Indonesia.

3. Pada masa pendudukan Belanda, Lapangan Terbang Talang Betutu sendiri merupakan basis sementara dari pesawat B-17. Lapangan terbang ini merupakan salah satu lapangan terbang superior yang menjadi target militer Jepang untuk menduduki Palembang dalam Battle of Palembang pada tahun 1942.

4. Pada tanggal 14 Februari 1942 pasukan terjun payung Jepang mengambil kepemilikan lapangan terbang P1 (Talang Betutu), mendesak untuk akhirnya mengambil kota Palembang dan dua kilang minyaknya di selatan sungai. Selain itu, Jepang juga pernah menjadikan Lapangan Terbang Talang Betutu sebagai basis pendidikan kemiliteran Gyugun Angkatan Udara dimana nantinya tentara-tentara Jepang tersebut akan disiapkan sebagai Perwira pengawal lapangan terbang. Pada pendudukan militer Belanda lapangan terbang ini lebih disempurnakan lagi dengan memperpanjang landasan dan melengkapi fasilitas-fasilitasnya sehingga kegiatan penerbangan pada Lapangan Terbang Talang Betutu lebih baik dari sebelumnya. Jepang juga membangun layered air defense network, dengan inti pertahanan udara berada di 9 skuadron pesawat tempur, pembom, intai, transport Jepang yang disebar di empat lanud di sekitar kota Palembang, Lahat Airfield, Lembak Airfield, Talang Betoetoe Airfield dan Martapura Airfield di mana semua airfield di sekitaran Palembang menjadi elemen yang sangat krusial bagi 9th Air Army, IJA yang menjadikan Palembang sebagai markas dan memiliki tugas utama melindungi fasilitas kilang minyak Palembang hingga perang berakhir pada tahun 1945. Untuk fasilitas tempur lainnya, Jepang menyiapkan, 21st Hiko Sentai/21st Squadron IJA berpangkalan di Talang Betoetoe Airfield dan dilengkapi Kawasaki Ki-45KAI-b yang dipersenjatai meriam otomatis kaliber 37mm dan 20mm untuk kemudahan menembak jatuh pembom berat yang menyerang Palembang.

5. Pada Lapangan Terbang Talang Betutu terdapat Skadron 59 dan Skadron 64 yang 14 pesawat Ki-43 serta enam pesawat pembom Ki-48-nya digunakan untuk merebut Lanud Semplak (Sekarang Lanud Atang Sendjaja, Bogor) pada tanggal 23 Februari 1942.

6. Setelah melewati perjalanan sejarah yang panjang, dimulai dari masa pendudukan militer Belanda dan Jepang, perjuangan bangsa Indonesia merebut dan mempertahankan kemerdekaan hingga terbentuk dan berdiri Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) di wilayah Sumatera Selatan tahun 1946, gagasan pembentukan TRI Penerbangan yang dimotori oleh para pelajar bekas siswa Sekolah Tinggi Teknik Penerbangan Nanko Buntai Jepang di Shinanto (Singapura) tahun 1946, sampai pembentukan Markas Penerbangan di Sumatera dan Agresi Militer Belanda I tanggal 21 Juli 1947 yang mengakibatkan kerugian besar bagi pihak Indonesia, tetapi tidak menyurutkan semangat juang para perintis AURI.

7. Puncak perjuangan para perintis AURI berbuah manis pada tanggal 26 April 1950, yaitu dengan ditandainya peristiwa Angkatan Udara Belanda yang menyerahkan pesawat udara Twaalfde Vliegbasic dan Varna beserta personelnya yang berpangkalan di Talang Betutu dalam suatu upacara militer kepada Letnan Udara satu (LU I) Ahmad Rasjidi sebagai Komandan Pangkalan Udara Talang Betutu yang pertama. Pada peristiwa itu juga dihadiri oleh Komandan ML-KNIL (Militaire Luchtvaart van het Koninklijk Nederlands-Indisch Leger adalah Angkatan Udara Tentara Kerajaan Hindia Belanda yang merupakan sayap udara KNIL di Hindia Belanda (kini Indonesia) antara tahun1939-1950) J.B.H. Bruiner, Komandan AURIS Mayor Sujoso, Komandan TRIS Sumatera Selatan Mayor Hasan Kasim, Komandan Pasukan Belanda Letcol J.H.J Bredgen serta dua orang wakil UNCI (United Nations Commissions for Indonesia adalah suatu badan perdamaian yang dibentuk pada tanggal 28 Januari 1949 untuk menggantikan Komisi Tiga Negara yang dianggap gagal mendamaikan Indonesia - Belanda).