Produksi Pesawat N219 Amphibi Terhambat Anggaran, Baru Bisa Mengudara 2023

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Sabtu, 13 Nov 2021 14:44 WIB
Pesawat N219 Amphibi diprediksi siap mengudara tahun 2023 (dok. istimewa)
Foto: Pesawat N219 Amphibi diprediksi siap mengudara tahun 2023 (dok. istimewa)
Jakarta -

PT Dirgantara Indonesia terus mengembangkan produksi pesawat N219 jenis amphibi (N219A). Hanya, pengembangan pesawat N219 Amphibi ini terhambat masalah anggaran.

"Permasalahan utama yang dihadapi dalam pengembangan pesawat N219 Amphibi ini khususnya dalam hal penganggaran. Dalam perencanaan pengembangan sampai tahun 2024, anggaran tersebut dialokasikan melalui LAPAN dan BPPT," ujar Asdep Industri Maritim dan Transportasi Firdausi Manti seperti dilihat dalam situs Kemenko Marves, Sabtu (13/11/2021).

"Tetapi dengan adanya perubahan organisasi, LAPAN dan BPPT masuk ke dalam organisasi BRIN, memengaruhi perencanaan pengembangan yang sudah ditetapkan sampai tahun 2024 tersebut," sambungnya.

Selain itu, ada juga permasalahan lain seperti tingkat korosif yang tinggi karena pesawat mendarat di laut. Kemenko Marves pun meminta PT Dirgantara Indonesia untuk menginventarisasikan berbagai problematika yang ada.

"Kami harap nantinya ada pertemuan lanjut antara PT DI dan berbagai pihak, baik dengan BRIN, Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan dan Kementerian BUMN," kata Firdausi.

Adapun pesawat N219 ini merupakan pesawat komersial yang dapat melakukan lepas landas dan pendaratan di permukaan air. N219 dinilai sangat diperlukan karena sesuai dengan karakteristik negara Indonesia sebagai negara kepulauan.

"Pesawat ini telah diproduksi dengan mengedepankan TKDN, sehingga hasil karya dalam negeri ini tentu mendukung pengembangan konektivitas darat dan laut di Indonesia," terang Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi, Ayodhia G L Kalake dalam kesempatan yang sama.

Selain itu, Ayodhia menjelaskan fleksibilitas yang dimiliki pesawat N219 Amphibi mampu mencakup darat, danau, sungai besar, teluk, dan laut. Terlebih, pembangunan amphiport (airport untuk pesawat amphibi) lebih mudah dan murah jika dibandingkan dengan bandara pada umumnya.

Sementara itu, Direktur Produksi PT DI di Indonesia, Batara Silaban, menyebut pesawat tersebut bisa dimanfaatkan untuk berbagai sektor, mulai dari pariwisata hingga penanggulangan bencana. Pesawat ini juga mampu mengakomodir pulau-pulau 3T (terluar, tertinggal, terdepan) yang tersebar di Indonesia.

"Pesawat ini mampu dimanfaatkan untuk berbagai sektor, seperti layanan pariwisata, layanan perjalanan dinas pemerintahan, oil and gas company, layanan kesehatan masyarakat, SAR dan penanggulangan bencana, dan pengawasan wilayah Maritim," ucap Batara.

Batara mengatakan beberapa tempat seperti Danau Toba, Pulau Bawah Kepri, Pulau Derawan Kaltim, Raja Ampat, Wakatobi, dan Pulau Moyo memiliki potensi besar untuk memanfaatkan pesawat N219. Potensi pasar yang besar juga terlihat, khususnya di Asia Pasifik.

Kini, ada 150 unit pesawat aktif dan 45% dari total populasi tersebut yang telah memasuki masa aging (penuaan).

"Jika sesuai dengan linimasa yang ada, pesawat ini diperkirakan dapat melaksanakan penerbangan pertamanya di tahun 2023," tutur Batara.

Spesifikasi Pesawat N219 Amphibi

Pesawat N219 Amphibi memiliki kecepatan hingga 296 KM per jam pada ketinggian maksimal 10.000 kaki. Dengan beban 1560 kg, pesawat mampu menempuh jarak hingga 231 km.

Take off untuk ketinggian 35 kaki dari darat membutuhkan jarak 500 meter. Sedangkan dari air, pesawat ini membutuhkan jarak hingga 1.400 meter.

Kemudian, untuk landing dari ketinggian 50 kaki, N219 membutuhkan jarak 590 meter untuk di darat, dan 760 meter untuk di laut.

"Maximum Take-Off Weight pesawat ini mencapai 7.030 kg dengan maximum landing weight 6.940 kg, dengan total kapasitas bahan bakar 1.600 kg," imbuh Batara.

(drg/jbr)