CT ARSA Foundation Lepas 5 Relawan PIJAR Ke Pelosok Negeri

Rakha Arlyanto Darmawan - detikNews
Jumat, 12 Nov 2021 12:55 WIB
Founder CT Arsa Foundation, Anita Ratnasari Tanjung melepas kepergian 5 relawan terbaik program PIJAR ke pelosok Indonesia.
Foto: Founder CT Arsa Foundation, Anita Ratnasari Tanjung melepas kepergian 5 relawan terbaik program PIJAR ke pelosok Indonesia. (Rakha Arlyanto Darmawan/detikcom)
Jakarta - CT ARSA Foundation melepas relawan PIJAR (Pergi Mengajar) gelombang pertama ke pelosok Tanah Air. Lima relawan PIJAR dilepas oleh Founder CT ARSA Foundation, Anita Ratnasari Tanjung.

Dalam kesempatan itu, Anita menjelaskan soal visi dari CT ARSA Foundation yakni memutus mata rantai kemiskinan dengan pendidikan yang berkualitas. PIJAR menjadi salah satu program untuk dapat mencapai visi tersebut.

"Kami tidak hanya membangun sekolah, tapi kami punya program PIJAR. Bahwa relawan-relawan daerah juga harus berdampak positif, harus memberikan manfaat," kata Anita dalam sambutannya dalam acara 'Pelepasan Relawan PIJAR Batch 1' di Menara Bank Mega Tendean, Jakarta Selatan (12/11/2021).

Anita mengatakan kelima relawan yang dilepas merupakan yang terbaik dari ratusan orang yang ikut mendaftar program PIJAR. Mereka akan ditempatkan di berbagai pelosok Tanah Air untuk mengajar secara sukarela.

"Dari 526 terpilih 5 orang. Ini kita melakukan seleksi yang sangat kuat. Ini adalah yang kita akan berangkatkan," ungkap Anita.

"Lima peserta yang lolos tahap pertama untuk ditempatkan selama satu tahun di beberapa wilayah yang sudah ditentukan yaitu Reda Meter, Sumba Barat Dayat, Lelogama, Amfoang Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nunuanah, Amfoang Timur, Nusa Tenggara Timur, Ciroyom, Sukabumi dan Kampung Beting, Muara Gembong, Bekasi," imbuhnya.

Sejumlah daerah itu sudah pernah dikunjungi langsung oleh Anita. Dirinya menilai sejumlah daerah itu membutuhkan bantuan tenaga pengajar.

Para relawan, menurut Anita, pun dibekali berbagai kemampuan. Bahkan, mereka dilatih oleh anggota TNI.

"Daerah-daerah tersebut itu saya sendiri sudah beberapa kali ke sana. Jadi daerah tersebut memang membutuhkan bantuan. Mereka ini adalah relawan yang telah digembleng oleh TNI," ujar Anita.

Baca selengkapnya ungkapan para relawan PIJAR yang akan dikirim ke pelosok di halaman selanjutnya.

Dirinya berharap para relawan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan masyarakat yang berada di area pelosok Indonesia. Terutama dalam bidang kemajuan pendidikan.

"Lara relawan diharapkan menjadi pribadi unggul yang dapat memberikan solusi di tengah beragam permasalahan masyarakat pelosok Indonesia. Jangan sampai tingkat pendidikan di perkotaan dan ring road area itu terlalu besar perbandingannya," papar Anisa Ratnasari Tanjung.

Salah satu relawan, Sofi adalah alumnus Fakultas Desain ITB. Dia merasa tertantang mengikuti program PIJAR, terlebih dirinya harus turun langsung hingga ke pelosok negeri.

"Jadi saya harapannya ingin menjadi sebagai jembatan perubahan untuk murid-murid SD secara di remote area. Persiapan sejak bulan Juni atau Juli, sekitar 3 bulan, agar fit betul dengan apa yang tersedia di desa saya buat dengan ilmu-ilmu yang saya mampu sekiranya begitu," kata Sofi.

Di sisi lain, Sofi tak menampik kesedihannya harus berada jauh dari keluarga. Namun dirinya diberikan amanah sebagai relawan PIJAR untuk bersedia mengabdi di pelosok negeri.

"Oh tentu saja saya sudah menangis darah bersama ayah ibu keluarga, dan begitu berangkat pelatihan. saya diamanahi oleh bunda dan teman-teman CT ARSA untuk membuat program kesehatan, sikat gigi, cuci tangan, mulailah dari perubahan kecil. Tentu saja saya harus jadi sosok teladan," terang Sofi.

Azhar, relawan lainnya, menuturkan bergabung dalam program PIJAR karena merasa resah dengan ketimpangan akses pendidikan di Tanah Air. Azhar ingin semua anak mendapatkan pendidikan yang sama.

"Keresahan melihat kondisi kita belum setara, kualitas pendidikan kita belum setara. Semua harus merasakan pendidikan yang sama. Di kota dan pelosok harus merasakan pendidikan yang sama," ujar Azhar.

Meski rasa untuk menciptakan kesetaraan pendidikan sangat tinggi, Azhar mengaku agak khawatir lantaran sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di tempatnya akan mengabdi.

"Semangat antusias, deg-degan. Saya belum pernah ke sana. Tapi lebih banyak optimis. Lokasinya Amfoang Timur, Nusa Tenggara Timur," pungkasnya.

Program Pijar ini berhasil terlaksana berkat dukungan banyak pihak, di antaranya Transmart, Insight, Young Living, Savana, Citilink, PT. Sepatu Bata, Duta Bangsa, inibudi.org, Cakap, Marinir, TNI AL dan Shimizu. Ke depannya program ini akan terus dilakukan demi tujuan meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan dan taraf hidup masyarakat sekitar. Selaras dengan visi besar CT ARSA Foundation, memutus mata rantai kemiskinan dengan pendidikan berkualitas serta kesehatan yang optimal. (rak/aud)