Eks Menhan Ryamizard Kecewa ke Nadiem, Kemendikbudristek Buka Suara

Isal Mawardi - detikNews
Kamis, 11 Nov 2021 06:07 WIB
Jakarta -

Kemendikbud Ristek merespons kekecewaan mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu terhadap Mendikbud Ristek Nadiem Makarim. Kemendikbud Ristek memastikan bahwa penanaman wawasan kebangsaan masuk kurikulum pendidikan RI.

"Wawasan kebangsaan merupakan bagian penting dari pendidikan tinggi kita. Tertuang dalam UU Pendidikan Tinggi sebagai bagian dari Mata Kuliah Wajib kurikulum (MKWK)," ujar Plt Dirjen Pendidikan Tinggi dan Ristek Nizam kepada detikcom, Rabu (10/11/2021).

Nizam mengatakan saat ini MKWK sedang direvitalisasi agar makin aktual dengan tantangan dan perubahan zaman. Nizam menjelaskan bahwa Kemedikbud Ristek punya kebijakan 'Kampus Merdeka', yang di dalamnya terdapat program bela negara.

"Salah satu menu kampus merdeka adalah program bela negara. Paling tidak di lingkungan pendidikan tinggi, wawasan kebangsaan, semangat bela negara sangat kita perkuat," tegasnya.

Selama pandemi, tutur Nizam, banyak program-program penguatan wawasan kebangsaan. Mulai dari relawan mahasiswa untuk COVID-19 hingga kuliah kerja nyata (KKN) tematik.

"Pertukaran mahasiswa Nusantara/pertukaran mahasiswa merdeka, kampus mengajar, merupakan sebagian saja dari program penguatan wawasan kebangsaan. Program-program tersebut diikuti oleh lebih dari 50 ribu mahasiswa," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Ryamizard Ryacudu menyatakan kekecewaannya terhadap Nadiem Makarim. Ia menyinggung soal perlunya penanaman wawasan kebangsaan di lingkungan pendidikan.

"Saya juga agak kecewa pada Mendikbud," kata Ryamizard dalam acara yang digelar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bertajuk 'Dialog Kebangsaan, Bela Negara Tanggung Jawab Bersama', Rabu (10/11/2021).

Menurut Ryamizard, penanaman nilai moral dan wawasan kebangsaan di lingkungan pendidikan penting dewasa ini. Selain itu, ia menilai pentingnya pendidikan yang mendalami ajaran agama bagi anak-anak bangsa.

"Menurut saya, itu kalau menjadikan anak itu hebat, artinya dia bermoral, berkebangsaan, itu mulai dari kelas I SD itu," kata dia.

"Saya dulu begitu. Kalau sekarang ini harus milenial. Kalau nggak milenial, ya ketinggalan zaman, tapi harus bergandeng dengan wawasan kebangsaan. Jadi dia harus mengerti bangsa ini. Dia mengerti pahlawan-pahlawannya. Dan juga dia harus mengerti agamanya, sehingga dia tidak keluar ke mana-mana," kata Ryamizard.

(isa/zak)