Perpustakaan MPR-Uniku Gelar Bedah Buku Integritas Penegak Hukum

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Sabtu, 06 Nov 2021 22:04 WIB
MPR RI
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Perpustakaan MPR bersama Universitas Kuningan (Uniku) menggelar kegiatan 'Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat', Sabtu (6/11). Dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan dan fakultas, kegiatan ini digelar untuk mengupas buku 'Integritas Penegak Hukum' karya Amir Syamsuddin.

Dalam sambutannya, Kepala Perpustakaan MPR, Yusniar mengapresiasi Uniku atas gelaran kegiatan bedah buku tersebut. Terlebih ini merupakan kunjungan kedua Perpustakaan MPR ke Uniku. Ia berharap kerja sama ini dapat memberikan manfaat kepada kedua belah pihak.

"Tahun lalu kita mengadakan kegiatan di kampus ini dengan tema Pustaka Akademik," ujar Yusniar dalam keterangannya, Sabtu (6/11/2021).

Ia menyampaikan saat ini Perpustakaan MPR berusaha terus untuk melengkapi buku, dokumen, dan koleksi lainnya. Sebagai perpustakaan yang terbuka untuk umum, Yusniar mempersilahkan para mahasiswa untuk berkunjung ke Perpustakaan MPR bila hendak mencari atau membutuhkan referensi studinya. Mahasiswa juga dapat mengunjungi web milik Perpustakaan MPR bila tak sempat ke Jakarta atau terhalang pandemi.

"Silakan datang langsung ke Jakarta," katanya.

Sementara itu, Anggota MPR dari Fraksi Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsudin menuturkan bila situasi tidak dalam keadaaan pandemi, acara ini bisa mengundang lebih banyak peserta. Namun di tengah kondisi ini, dirinya sudah merasa cukup dengan jumlah peserta yang ada,

"Bisa mengundang ribuan peserta dengan menerapkan prokes," tuturnya.

"Pada hari ini kita juga bersilaturahmi," lanjutnya.

Di kesempatan ini, Didi juga membahas soal buku Integritas Penegak Hukum. Menurutnya, hal ini merupakan suatu kerisauan Amir Syamsuddin dengan persoalan hukum di Indonesia. Meski sudah masuk dalam era reformasi, namun permasalahan hukum masih tetap ada, bahkan hingga hari ini,

Dikatakannya, saat ini juga masih banyak masalah hukum yang belum selesai dan masih bermasalah.

"Penegakan hukum berjalan tidak sesuai dengan harapan. Penegakan hukum masih banyak kekurangan. Nah, dalam buku itulah Amir Syamsuddin mengulas kekurangan-kekurangan yang ada," ungkapnya.

Ia menambahkan tulisan-tulisan ayahnya masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Salah satunya seperti supremasi politik yang masih mempengaruhi terhadap penegakan hukum. Tak hanya itu, soal KPK yang terus digoyang menurut Didi, sudah diprediksi oleh Amir sejak dulu.

"Selalu digoyang oleh kekuasaan kalau KPK kuat. Prediksi Pak Amir ternyata benar," tuturnya.

Di sisi lain, Wakil Rektor III Uniku, Haris Budiman merespons baik dengan digelarnya acara ini. Ia menyebut kedatangan MPR ke kampusnya menjadi kebanggaan tersendiri.

"Selamat datang di Kabupaten Kuningan, khususnya di Uniku. Kampus ini merupakan kebanggaan masyarakat dan pemerintah Kabupaten Kuningan," katanya.

"Acara yang kedua adalah Bicara Buku, merupakan suatu anugerah yang luar biasa bagi kami," imbuhnya.

Menurutnya, Bicara Buku ini merupakan kegiatan yang selaras dengan keinginan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai kampus merdeka. Dalam hal ini, kampus bisa menghadirkan berbagai kalangan untuk memaparkan segala permasalahan yang ada dengan kajian ilmiah.

"Dari sinilah mahasiswa mengerti tak hanya dari teori namun juga memahami apa yang di lapangan," katanya..

Haris pun mengapresiasi kehadiran Didi dan Perpustakaan MPR untuk membedah 'Integritas Penegak Hukum'. Diakuinya, buku karya ayah Didi sangat luar biasa. Meski sudah ditulis sepuluh tahun yang lalu, namun isi dan pesannya masih relevan dengan kondisi hukum saat ini. Terlebih dalam buku itu banyak kasus hukum besar yang ditulis oleh Amir.

"Pak Amir Syamsuddin merupakan orang yang paripurna dalam dunia hukum, dari menjadi pengacara hingga menjadi Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia," tutupnya.

(prf/ega)