Di KTT COP26, RK Beberkan 12 Strategi Revitalisasi DAS Citarum

Erika Dyah - detikNews
Rabu, 03 Nov 2021 22:00 WIB
Dengan program Citarum Harum dan kolaborasi berbagai pihak dengan Ridwan Kamil sebagai Ketua Satgas, kualitas air sungai dinilainya membaik, dari cemar berat menjadi cemar ringan dalam kurun waktu 3 tahun.
Foto: Pemprov Jabar

Diketahui, salah satu komunitas lingkungan yang mendukung Satgas Citarum Harum adalah Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) yang juga mengapresiasi apa yang disampaikan Gubernur di forum internasional tersebut.

Kepala Divisi Infokom DPKLTS, Taufan Suranto mejelaskan konsep dasar pengelolaan sumber daya alam adalah mengendalikan pemanfaatan ruang di sekitar daerah aliran sungai. Menurutnya, masyarakat perlu didorong untuk aktif berpartisipasi memulihkan Citarum sebagai sumber kehidupannya.

"Partisipasi masyarakat tidak bisa langsung terorganisasi. Sehingga pola geraknya kita coba bangun Sub DAS dan Mikro DAS. Cakupannya kecil-kecil setiap 1.000 hektare bergerak," kata Taufan.

Taufan mengungkap semua kegiatan pelestarian alam, seperti penanaman pohon, pengelolaan limbah domestik, dan pengolahan sampah dilakukan di Sub DAS dan Mikro DAS tersebut.

"Semua aspek dan perilaku dilakukan di situ dengan skema pentaheliks," ungkapnya.

Selain itu, kegiatan lain yang dilakukan, yakni program rehabilitasi lahan kritis. Salah satunya, pembibitan DAS Citarum di wilayah Ciporeat yang masuk Kawasan Bandung Utara.

"Kami juga kerja sama dengan beberapa pihak lain. Lahan kritis yang sedang kita garap kerja sama dengan BKSDA di Kamojang Garut seluas beberapa ratus hektare," sebut Taufan.

Menurut Taufan, pembibitan tanaman nantinya tidak saja berfungsi menghijaukan dan menyerap air tapi juga dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Misalnya, dari tanaman buah dan tanaman lain yang memiliki nilai keekonomian.

Ia berharap dengan adanya sistem Sub DAS dan Mikro DAS akan tercipta banyak siklus air yang sehat bagi Citarum yang lebih sehat pula. Harapannya, dengan hal ini air bisa ditahan ketika musim hujan, dan ketika musim kemarau, masih ada ketersediaan air alias tidak kekeringan.

"Jadi prinsipnya menangani lahan kritis dengan vegetasi dan pemberdayaan masyarakat," pungkasnya.


(ncm/ega)