Ketua DPD Minta Pempov Kepri Genjot Wisata Religi & Industri Halal

Inkana Putri - detikNews
Selasa, 02 Nov 2021 22:46 WIB
Ketua DPD Minta Pempov Kepri Genjot Wisata Religi & Industri Halal
Foto: DPD
Jakarta -

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Kepulauan Riau hari ini. Di awal kunjungan, LaNyalla menyambangi Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat.

Dalam kesempatan itu, LaNyalla mendorong Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk mengembangkan wisata religi untuk mendorong ekonomi masyarakat. Terlebih saat ini Kepri memiliki potensi pariwisata yang besar.

"Potensi pariwisata di Kepulauan Riau sangat besar. Pemda harus bisa mengembangkannya dengan baik untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dan menambah pendapatan daerah," kata LaNyalla dalam keterangan tertulis, Selasa (2/11/2021).

Guna mendorong pariwisata di Kepri, LaNyalla meminta agar pemerintah setempat menggalakkan upaya promosi. Dengan demikian, wisatawan dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia semakin banyak berdatangan.

"Wisata religi dan industri halal bisa membuka lapangan kerja dan membantu masyarakat dalam gerakan ekonomi lokal. Pemerintah harus fokus dan hadir untuk situs-situs religi bersejarah seperti ini," paparnya.

Dalam kunjungannya ke Masjid Sultan Riau, LaNyalla juga didampingi oleh Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad. Di kesempatan ini, dirinya membahas soal sejumlah aspirasi, termasuk soal RUU Daerah Kepulauan.

Terkait hal ini, LaNyalla menjelaskan RUU Daerah Kepulauan yang juga diusulkan DPD RI telah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 2021. Meski demikian, ia menyebut pembahasan dan pengesahannya berada di DPR.

"Bolanya ada di DPR. Kita tidak tahu kenapa belum juga dibahas lebih jauh padahal Presiden sudah mengeluarkan surat yang menugaskan beberapa kementerian membahasnya," katanya.

Sementara itu, Ansar Ahmad mengatakan RUU Daerah Kepulauan merupakan RUU yang telah diperjuangkan selama 10 tahun. Untuk itu, ia berharap agar RUU tersebut dapat segera disahkan.

"RUU Daerah Kepulauan sudah diperjuangkan selama 10 tahun. Kami berharap segera menjadi undang-undang. Karena UU ini penting untuk membangkitkan perekonomian daerah kepulauan seperti Kepri," kata Ansar.

Ia mengatakan saat ini masih ada disparitas yang jauh antara perkotaan dan wilayah kepulauan. Dengan adanya UU Daerah Kepulauan, Ansar optimis kebutuhan dasar masyarakat nantinya akan lebih mudah terpenuhi.

"Pendekatan pembangunan di wilayah pesisir atau kepulauan beda dengan perkotaan. UU Daerah Kepulauan akan mampu menggerakkan produktivitas pulau-pulau kecil, investasi pesisir, dan kemandirian ekonomi masyarakat pesisir," ungkapnya.

Selain RUU Daerah Kepulauan, Ansar juga berharap DPD dapat memberikan dukung lain untuk memajukan pembangunan di Kepri.

"Dengan kedatangan Ketua DPD kita berharap mendapatkan solusi setelah nantinya permasalahan-permasalahan yang ada disampaikan ke pemerintah pusat oleh DPD," jelasnya.

Sementara soal pengembangan wisata religi, Ansar mengatakan akan terus mengembangkan Pulau Penyengat sebagai objek vital budaya di Kepri. Saat ini, pihaknya juga telah menyiapkan anggaran senilai Rp 160 miliar.

"Pemda dan PUPR akan merevitalisasi, membangun infrastruktur pendukung dan menata kawasan ini lebih baik lagi. Kita sudah siapkan anggaran Rp 160 miliar untuk menatanya di tahun 2022," katanya.

Di sisi lain, Ketua Masjid Sultan Riau, Raja Ali Hafiz menjelaskan Masjid Raya Sultan Riau Penyengat telah dibangun pada tahun 1803 oleh Sultan Mahmud.

Ia menyebut awalnya masjid hanya terbuat dari kayu, kemudian di tahun 1832 masjid dipugar oleh Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman. Ali mengungkapkan saat itu Raja Abdurrahman mengajak masyarakat bergotong-royong untuk memperbaiki masjid.

"Masyarakat berbondong-bondong untuk ikut membangun masjid. Bahkan kaum perempuan ikut juga. Tapi mereka bekerja pada malam hari, siang harinya kaum lelaki," ujarnya.

Saat perbaikan masjid, Ali mengatakan dahulu Raja Abdurrahman mendatangkan berbagai bahan dan kebutuhan untuk pembangunan masjid dari masyarakat dan wilayah-wilayah jajahan. Saat itu, banyak orang yang memberikan sumbangan bahan makanan, salah satunya telur.

"Saking banyaknya telur ini, kemudian kuning telurnya dimasak, putih telurnya dijadikan perekat. Makanya orang Singapura mengenal masjid ini dengan sebutan Masjid Telor," katanya.

Ali pun mengatakan jika fakta tersebut bukan bualan. Sebab, ada ahli bangunan purbakala dari Jerman yang sudah pernah meneliti bangunan masjid dan menemukan adanya kandungan putih telur di dalam bangunannya.

Ia pun menambahkan masjid ini juga memiliki empat menara dan 13 kubah. Adapun sepuluh kubah berbentuk bulat dan tiga berbentuk persegi panjang. Hal itu menunjukkan angka 17 sesuai jumlah rakaat salat wajib lima waktu.

"Sampai saat ini masjid masih asli, tidak berubah bentuk. Bangunannya hanya dari susunan bata, tidak pakai besi. Sebagai perekatnya tanah dan putih telur itu," tutupnya.

Sebagai informasi, dalam kunjungannya kali ini, LaNyalla didampingi beberapa senator, antara lain Fachrul Razi (Aceh), Bustami Zainudin dan Ahmad Bastian (Lampung), Eni Sumarni (Jawa Barat), Andi Muh Ihsan (Sulawesi Selatan), Habib Abdurrahman Bahasyim (Kalimantan Selatan), Edwin Pratama Putra (Riau) dan tiga senator Kepri yaitu Ria Saptarika, Dharma Setiawan dan Richard H Pasaribu.b

(fhs/ega)