Jazilul Sebut Sarjana Ilmu Al Quran Seharusnya Orang Paling Bahagia

Erika Dyah - detikNews
Senin, 01 Nov 2021 23:45 WIB
Jazilul: Santri Sejak Dulu Jiwa dan Raganya Diperlukan Masyarakat!
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid berpandangan kegagalan dunia modern adalah memisahkan ilmu umum dengan agama. Ia menjelaskan sebagian orang masih beranggapan bahwa pendidikan agama tidak memiliki masa depan yang cerah. Berbeda dengan ilmu pengetahuan umum, seperti jurusan kedokteran, teknik, dan lainnya yang dianggap bakal menjamin masa depan yang menjanjikan.

"Terus terang keadaan hari ini memisahkan ilmu umum dengan agama. Kegagalan dunia modern yaitu memisahkan ilmu umum dengan wahyu, dengan ilmu agama," ujar Jazilul dalam keterangannya, Senin (1/11/2021).

Hal ini ia sampaikan saat memberikan pengarahan pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana (S1) Sekolah Tinggi Ilmu Al Qurran (STIQ) Kepulauan Riau Angkatan IV dan V Tahun 2021 di Batam, Kepulauan Riau.

Pria yang akrab disapa Gus Jazil ini mengatakan, masih ada anggapan bahwa orang-orang yang belajar di jurusan agama seperti Ilmu Al-Qur'an atau Tafsir memiliki masa depan suram.

"Jurusan Al-Qur'an dan tafsir seolah-olah hanya jurusan akhirat. Sukses hanya diukur oleh embel-embel duniawi. Apa mobilmu? Berapa rumah yang dimiliki dan lainnya karena semata-mata kesuksesan diukur dari hal-hal yang sifatnya duniawi," urainya.

Ketua Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta ini menilai anggapan tersebut mengakibatkan jurusan ilmu agama di berbagai perguruan tinggi sepi peminat. Sementara jurusan ilmu-ilmu umum dibanjiri peminat.

"Ini yang terjadi. Tapi jangan khawatir, menjadi sarjana Al Quran sudah cukup untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat. Untuk bahagia tidak perlu punya mobil mewah. Allah mengkaruniakan kita para pencinta Al Quran hidup bahagia di dunia dan akhirat," tuturnya.

Jazilul pun mencontohkan, dirinya yang sejak kecil hidup di lingkungan pesantren dan hingga kuliah mengambil pendalaman serta menghafal Alquran di PTIQ Jakarta bisa meraih sukses dalam karier. Bahkan hingga menduduki posisi yang sangat strategis sebagai Wakil Ketua MPR.

"Saya juga sekolah di bidang Al-Qur'an, ini bukan tempat baru bagi saya. Artinya tak perlu khawatir. Siapapun yang bertambah ilmunya tapi semakin jauh dari Allah, tidak mendapatkan hidayah, itu artinya dia tidak dapat apa-apa. Ilmu pengetahuan modern hari ini seakan-akan memisahkan dengan agama," ungkap Jazilul.

Meski Al-Qur'an bukan kitab ilmu pengetahuan umum, Jazilul menilai di dalamnya banyak ilmu pengetahuan. Ia menambahkan, Al-Qur'an juga bukan ilmu hukum, tapi di dalamnya banyak mengatur tentang hukum. Bukan, kitab tentang bisnis tapi banyak mengatur tentang mualamah. Juga bukan kitab sejarah, tapi di dalamnya banyak dongeng-dongeng nabi dan lainnya.

"Seandainya ada bacaan yang bisa membelah gunung, memecah bumi. Ada bacaan yang bisa membuat orang mati menjadi hidup, itu Al-Qur'an. Jangan dibaca secara tekstual. Tapi kadang sarjana Al-Qur'an sendiri tidak memahami dahsyatnya Al-Qur'an," paparnya.

Menurutnya, kalimat Al-Qur'an merupakan kalimat wahyu yang tidak bisa dibandingkan dengan teori-teori ilmu pengetahuan yang lain. Tak hanya itu, Al-Qur'an juga merupakan obat bagi penyakit yang paling berbahaya, yakni penyakit hati seperti sirik, sombong, tamak, dengki dan dendam.

" Al-Qur'an itu obat bagi apa yang ada dalam hatimu. Sarjana Al-Qur'an kalau hatinya terobati, hidup pasti senang. Ilmu modern hanya mengukur yang sifatnya fisik, materi. Hidayah dan rahmat itu tidak terlihat. Sayangnya anak-anak kita banyak diajarkan ambisi material," tuturnya.

Ia pun menilai sarjana Ilmu Al-Qur'an seharusnya adalah orang yang paling bahagia.

"Orang ahli Al-Qur'an itu orang paling bahagia. Kok ada sarjana Al-Qur'an suram, muram, Anda salah baca Al-Qur'an karena Al-Qur'an menjadi petunjuk yang bisa mengobati hati dan wasilah untuk mendapatkan rahmat dan hidayah. Bahkan, perintah pertama Allah kepada manusia melalui Nabi yaitu 'iqra' bismi rabbikallazi khalaq' Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan," tandasnya.

Oleh karena itu, Jazilul mengajak para lulusan Ilmu Al-Qur'an untuk bersyukur, bahagia, dan bangga menjadi sarjana Al-Qur'an.

"Sebab Anda paling dekat mendapatkan kebaikan, hidayah dan rahmat," pungkasnya.

(akn/ega)