Tambahan 6,5 Juta Vaksin COVID-19 di RI Langsung Disebar ke Daerah

ADVERTISEMENT

Tambahan 6,5 Juta Vaksin COVID-19 di RI Langsung Disebar ke Daerah

Yudistira Perdana Imandiar - detikNews
Jumat, 29 Okt 2021 22:19 WIB
Petugas menurunkan kontainer berisi vaksin COVID-19 saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/1/2021). Sebanyak 15 juta dosis vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi Sinovac, China, tiba di tanah air untuk selanjutnya akan diproses oleh Bio Farma selaku BUMN produsen vaksin. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/rwa.
Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Jakarta -

Sebanyak 6,5 juta tambahan dosis vaksin diterima Indonesia melalui tiga tahap kedatangan. Vaksin tersebut akan disebar ke berbagai daerah untuk pemerataan capaian vaksinasi nasional.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Siti Nadia Tarmizi menyampaikan, tiga tahap vaksin yang datang tiba pada hari ini adalah vaksin tahap 105 berupa Pfizer sebanyak 1.263.600 dosis, tahap 106 berupa vaksin AstraZeneca sebanyak 1.336.200 dosis, dan tahap 107 berupa vaksin Sinovac sebanyak 4.000.000 dosis. Seluruh vaksin ini didatangkan dalam bentuk vaksin jadi melalui skema pembelian langsung.

"Dengan kedatangan vaksin hari ini, maka jumlah total vaksin yang telah hadir di Indonesia baik dalam bentuk jadi maupun bahan baku adalah 312.335.760 dosis," ujar dr Siti Nadia dalam keterangan tertulis, Jumat (29/10/2021).

dr Nadia menyampaikan vaksin tahap 105 yang tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten akan segera didistribusikan ke empat lokasi serah terima, yaitu Dinkes Banten, Dinkes Bengkulu, Dinkes Nusa Tenggara Barat, dan Dinkes Lampung.

Sementara itu, vaksin tahap 105 yang mendarat di Bandara Ahmad Yani, Semarang, akan disalurkan ke Dinkes Provinsi Jawa Tengah, serta yang tiba di Bandara Juanda, Surabaya segera dikirimkan ke Dinkes Provinsi Jawa Timur.

"Pasokan vaksin COVID-19 terus berdatangan seiring langkah pemerintah meningkatkan capaian vaksinasi di daerah-daerah. Vaksin sudah tersedia, jadi tidak ada alasan lagi untuk menunda vaksinasi. Hal ini juga menjadi langkah antisipasi kita menghadapi gelombang ketiga COVID-19, meski tentu saja kita berharap tidak terjadi di Indonesia," tuturnya.

Ia menambahkan vaksinasi dinilai sebagai salah satu perlindungan utama bagi masyarakat Indonesia dari COVID -19. Dengan menerima vaksinasi, kata dr Nadia, masyarakat akan mendapatkan perlindungan lebih sehingga bisa lebih terhindar dari risiko sakit berat dan akibat buruk lainnya apabila terjangkit COVID-19.

"Kita berharap herd immunity atau kekebalan komunal segera terbangun, karena itu pemerintah menargetkan 208 juta penduduk untuk segera mendapatkan vaksinasi," cetus dr Nadia.

Dikatakan dr Nadia, pemerintah melakukan sejumlah upaya untuk meningkatkan capaian vaksinasi, mulai dari memberikan sejumlah kemudahan dan strategi jemput bola bagi lansia, hingga meningkatkan edukasi dan sosialisasi, khususnya bagi lansia.

Ia mengulas berdasarkan riset, salah satu penyebab lambatnya capaian vaksinasi lansia adalah masih banyaknya warga yang belum mendapatkan informasi yang tepat dan banyak menerima disinformasi. Hal ini membuat banyak warga yang belum yakin terhadap fungsi dan manfaat vaksinasi.

"Karena itu, edukasi dan sosialisasi terus kita gencarkan. Peran aktif pihak keluarga dan masyarakat sekitar sangat diharapkan dalam bantu mendorong pelaksanaan vaksinasi lansia ini," sebut dr Nadia.

Ia juga mengingatkan kepada masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan, karena pandemi belum berakhir.

"Komitmen, upaya, dan kerja sama kita semua merupakan kunci untuk menangani pandemi ini hingga tuntas. Ayo segera vaksinasi dan tetap jaga protokol kesehatan," pesan dr Nadia.

Lihat juga video 'Indonesia Kaji 'Mixing' Vaksin Booster untuk 2022':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT