Kepala BNPB Minta 3 Provinsi Ini Beri Atensi Tinggi Terdampak La Nina

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 29 Okt 2021 18:14 WIB
Jokowi Resmi Lantik Letjen Ganip Warsito Jadi Kepala BNPB (Foto: Tangkapan layar YouTube Setpres)
Kepala BNPB Letjen Ganip Warsito (Foto: Tangkapan layar YouTube Setpres)
Jakarta -

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Ganip Warsito berbicara mengenai fenomena La Nina yang harus diwaspadai. Ganip meminta semua pihak memberi atensi tinggi terhadap tiga provinsi yang rawan bencana.

"Kewaspadaan serta mitigasi dampak La Lina mutlak dilakukan pada Provinsi Jawa Barat, kabupaten/kota yang menjadi atensi atas kejadian bencana yang tinggi," kata Ganip dalam Rakornas Antisipasi La Nina yang disiarkan di kanal YouTube BMKG, Jumat (29/10/2021).

Ganip memerinci beberapa daerah yang harus menjadi atensi penuh adalah Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Daerah berikutnya ada di Jawa Tengah, yakni Kabupaten Cilacap, Kota Semarang, dan Kabupaten Banyumas.

"Di Jawa Timur yaitu Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, dan Kabupaten Situbondo, serta di Provinsi Sulawesi Selatan adalah Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Barru, dan Kabupaten Bone," lanjut Ganip.

Ganip mengungkap ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Pertama, perlu melakukan apel kesiapsiagaan untuk mengecek kesiapan alat dan sarana pendukung.

"Yang kedua, kita harus sudah menyusun rencana kontingensi dari dampak bencana hidrometeorologi basah ini. Kita sudah menginstruksikan kepada BPBD daerah untuk menyusun renkon (rencana kontingensi) ini dalam menanggapi bencana hidrometeorologi basah ini," lanjutnya.

Ganip menyebut setiap daerah harus menyiapkan status siaga darurat, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Upaya mitigasi bisa dilakukan melalui penanaman vegetasi, pembenahan tanggul sungai, hingga optimalisasi drainase.

"Kemudian yang ketiga, daerah penyiapan status siaga darurat di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Keempat, upaya mitigasi melalui penanaman vegetasi, pembersihan saluran air, pembenahan tanggul sungai, penguatan lereng menggunakan beton maupun vegetasi, serta optimalisasi drainase permukaan perlu terus kita lakukan," ucapnya.

Lebih lanjut Ganip menyebut upaya mitigasi berbasis masyarakat juga bisa dilakukan dengan memonitor peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Masyarakat bisa menetapkan rambu daerah rawan bencana untuk peringatan sistem peringatan dini dan mengintensifkan komunikasi.

"Yang kelima, melakukan upaya kesiapsiagaan yang berbasis masyarakat dengan memonitor peringatan dini dari BMKG, sekali lagi dengan memonitor peringatan dini dari BMKG, penetapan jalur evakuasi, simulasi evakuasi, penatapan rambu daerah rawan bencana sistem peringatan dini berbasis masyarakat serta jejaring komunikasi berbasis masyarakat terus kita akan aktifkan," ungkapnya.

Sebelumnya, BMKG menyampaikan prakiraan curah hujan akibat fenomena La Nina. BMKG menyebut fenomena La Nina pada level moderate sering dimulai pada musim hujan sampai Februari 2022.

"Demikian juga pusat layanan iklim dunia lainnya, seperti di Amerika oleh NOAA, di Australia oleh BoM, dan di Jepang oleh Japan Meteorological Agency, memperkirakan bahwa La Nina ini setidaknya akan terjadi hingga level moderate hingga Februari 2022," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam Rakornas Antisipasi La Nina yang disiarkan di kanal YouTube BMKG.

Dwikorita mengatakan, dari data BMKG, fenomena La Nina ini, menyebabkan terjadinya peningkatan curah hujan bulanan di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur pada November mendatang. Akumulasi curah hujan bulanan dapat meningkat 70 persen.

Simak video 'BMKG Ingatkan Dampak La Nina terhadap Ketahanan Pangan':

[Gambas:Video 20detik]



(whn/tor)